Akankah Iraq Takluk Seluruhnya Di Tangan ISIS ?

Tengku Shahindra untuk Al-Mustaqbal Channel


Jatuhnya kota Mosul, ibukota propinsi Ninawa Iraq dan penguasaan penuh propinsi Ninawa dalam waktu hanya kurang dari 1 minggu oleh ISIS (Islamic state of Iraq and Sham), benar-benar mengguncangkan pemerintahan Syiah Iraq, Nuri al Maliki. Penguasaan dan kendali penuh kota terbesar kedua di Iraq berpenduduk sekitar 1.5 juta jiwa itu, artinya adalah penguasaan seluruh asset kota, yaitu asset militer, perbankan, infrastruktur, kilang minyak, energi, bandara internasional, sekolah dan universitas serta bangunan pemerintahan strategis lainnya. Jatuhnya propinsi Ninewa, juga berarti hancurnya perbatasan Iraq dan Suriah, sehingga ISIS sudah menghubungkan wilayah kekuasaannya yang terbentang dari Raqqa hingga wilayah Mosul, Iraq.


Ratusan kendaraan militer sebagai asset ghanimah, telah dikirimkan ke wilayah kekuasaan ISIS di Suriah, untuk membantu pergerakan dan memperkuat posisi di Suriah. Memang, sedikit berbeda dengan di Suriah dimana kadang berbenturan dengan faksi oposisi yang tidak se ‘ide’ ISIS dengan pembentukan Negara Islam atau Khilafah serta banyaknya kelompok oposisi yang didukung negara Timur Tengah maupun Barat, justru di Iraq ISIS tidak memiliki kelompok saingan berarti, sehingga menjadi kelompok terkuat dan terbesar dari para pejuang di sana, terbukti bahwa 90% serangan di wilayah Iraq berasal dari ISIS. Selain itu, jalinan erat dan kerjasama dengan para tetua suku, kelompok adat di Iraq adalah bukti semakin eratnya ISIS dengan suku-suku lokal berpengaruh di Iraq.


Cepatnya wilayah Iraq dikuasai ISIS disebabkan karena berbagai hal. Yang utama adalah lemahnya moral, motivasi dari para tentara shafawi Iraq menghadapi ISIS. Mayoritas 30 ribu tentara Iraq di wilayah Ninewa dan Mosul lebih memilih kabur dan melarikan diri daripada bertempur head to head dengan pejuang ISIS. Di Tikrit, 4000 tentara Iraq menyerahkan diri kepada ISIS, dimana 2700 diantaranya diampuni oleh pemimpin ISIS sedangkan sisanya diadili sebagai penjahat perang. Fakta-fakta ini, makin meruntuhkan moral tentara Iraq lainnya, sehingga hanya dengan serangan sekitar 3000 pejuang ISIS secara terkoordinasi dan sistematis, dalam waktu singkat Mosul pun jatuh.


Faktor ke dua adalah para pejuang ISIS memiliki militansi, semangat dan ketrampilan tinggi. Terlihat bahwa, penyerangan dan pembebasan kota Mosul sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya. Simulasi perang dilakukan berulang, serta para tentara Iraq melihat bahwa pejuang ISIS sangat terlatih dalam street war. Inilah buah dari perencanaan, pelatihan terstruktur dan baik, melalui camp-camp pelatihan ISIS di wilayah Suriah dan Iraq.


Stategi dan taktik ISIS dalam menguasai kota Mosul sangatlah cerdik. Dengan seolah melakukan konsentrasi penyerangan pada satu wilayah, maka tentara Iraq bergerak untuk terkonsentrasi di wilayah tersebut, padahal itu hanyalah sasaran antara dan false target. Strategi ini bukanlah hal baru, tetapi telah dipelajari oleh para komandan perang dengan memanfaatkan informasi intelijen dan dari tentara yang bertobat/menyerahkan diri ke ISIS.


Dukungan dari penduduk lokal setempat adalah faktor penguat keberhasilan ISIS. Informasi bahwa ISIS tidak menyerang penduduk sipil, bangunan infrastruktur ekonomi serta aset-aset vital seperti kilang minyak, pembangkit listrik dan lainnya menimbulkan simpati penduduk setempat. Ditambah lagi dengan fakta bahwa ISIS menjalankan pelayanan umum sosial kemasyarakatan di wilayah kekuasaan ISIS serta keamanan bagi masyarakatnya, membuat hanya sedikit penduduk yang meninggalkan kota. Jika media mainstream menyebutkan 500 ribu penduduk Mosul mengungsi, namun aktivis media di lapangan hanya merilis sekitar 7 % penduduk Mosul yang keluar atau sekitar 100 ribu saja. Itupun pada akhirnya mereka memilih kembali lagi, karena para penduduk setempat juga tidak mempercayai pemerintahan syiah Iraq dalam hal keamanan. Faktor serangan membabi buta tentara Iraq kepada penduduk sipil di Fallujah dan Ramadi yang menewaskan banyak anak-anak, kaum wanita dan penduduk sipil lainnya adalah bukti bahwa pemerintahan Iraq telah kehilangan legitimasinya di mata penduduk Iraq umumnya. Pada akhirnya opsi memilih dan mendukung ISIS menjadi pilihan bagi penduduk Iraq. Di wilayah Iraq, para pejuang ISIS menampilkan karakter simpatik kepada penduduk, sebaliknya sikap keras dan beringas justru ditunjukkan oleh tentara Iraq . Tak heran, banyak penduduk setempat justru memperlihatkan kegembiraan ketika tentara Iraq kabur menyelamatkan diri.


Keengganan negara barat untuk terjun dan menolong pemerintahan Iraq juga menjadi faktor utama mengapa wilayah Iraq tidak secepat wilayah Suriah untuk dibebaskan. Amerika masih memandang bahwa kelemahan pemerintahan Syiah Iraq Nuri al Maliki dalam mengendalikan dan mengambil hati penduduk sunni Iraq adalah penyebab utama mengapa Iraq gagal mempertahankan territorinya. Berbeda saat invasi dan intervensi Amerika di Iraq pada tahun 2006 s/d 2008 yang sanggup melemahkan mujahidin Iraq, kini setelah penarikan pasukan Amerika tahun 2011, menurut mereka banyak kesalahan fatal pemerintahan Iraq dalam pengambilan keputusan terkait dengan penduduk Iraq. Bahkan permintaan Nuri al Maliki kepada Amerika untuk menyerang wilayah yang dikuasai ‘pemberontak’ tidak digubris, karena sadar bahwa melawan ISIS bukanlah seperti ketika melawan Taliban di Afghanistan. ISIS tidak memiliki pangkalan militer, instalasi radar, sistem pertahanan udara namun sebaliknya ‘tersembunyi’ dan berbaur dengan masyarakat. Cepatnya ISIS menjalankan sistem pemerintahan adil dan jaminan keamanan bagi masyarakat di wilayah mereka juga menjadi perhatian Amerika sebagai strategi ‘unik’ ISIS, sehingga melakukan serangan ke wilayah penguasaan ISIS berarti melawan seluruh penduduk.


Melihat semua kenyataan di atas, tampaknya kejatuhan Baghdad bukan suatu hal sulit bagi ISIS. Pengepungan dan penguasaan ISIS di wilayah utara, timur dan barat Baghdad adalah realita yang mesti dihadapi pemerintahan syiah Nuri al Maliki. Sepertinya pembebasan Baghdad dan Iraq hanyalah masalah waktu bagi ISIS.


Referensi :


NYtimes. Iraqis Who Fled Mosul Say They Prefer Militants to Government, dikutip dari laman http://ift.tt/1voVLg7


The Economist. Two Arab countries fall apart. Dikutip dari laman http://ift.tt/1voVNVo


CNN Report. Obama says no combat troops to Iraq; U.S. weighs airstrikes. Dikutip dari laman http://ift.tt/1p2HK3V





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Akankah Iraq Takluk Seluruhnya Di Tangan ISIS ?"

Post a Comment