Bisakah Yordania Menahan Tsunami ISIS?

M Fachry untuk Al-Mustaqbal Channel


RAIAL YAUM-Bisakah Yordania Menahan Tsunami ISIS? Demikian sebuah artikel yang ditulis oleh jurnalis senior Abdel Bari Atwan di situs raialyaum.com Dalam tulisan beliau tersebut dibahas mengapa kini rezim Saudi dan Yordania begitu ketakutan dengan perkembangan ISIS yang kini telah menjadi Daulah Khilafah Islaiyah.


Abdel Bari Atwan, yang pernah bertemu langsung Syekh Usamah Bin Laden rahimahullah, mengawali tulisannya dengan mengatakan bahwa seluruh dunia Arab saat ini dalam kondisi darurat karena perkembangan ISIS yang kemudian mendeklarasikan Daulah Khilafah Islamiyah.


Yordania dan semua rezim Arab berada di kawasan (berbatasan) yang kini menjadi kontrol Daulah Khilafah, yang membentang dari Iraq hingga Suriah. Padahal Daulah Khilafah atau dahulu ISIS akan menghancurkan seluruh pembatas nasionalisme di bawah perjanjian Sykes-Picot. Jadi, sangat beralasan semua rezim di sana ketakutan, jelasnya.


Rezim Saudi melalui rajanya Abdullah sudah menegaskan akan menghadang terorisme (Daulah Khilafah) dalam segala bentuknya. Rezim Yordania juga sudah mewanti-wanti dan member peringatan keras akan perkembangan yang terjadi. Kepala Dewan Keamanan Nasional Saudi telah mengumumkan keadaan darurat dan memperkuat kehadiran pasukan di perbatasan dengan Irak dan Yordania untuk mencoba mengatasi ancaman tersebut.


Sementara itu, Yordania pekan lalu berhasil menangkis ISIS ke wilayah mereka, tetapi tak ada yang tahu berapa lama mereka akan mampu menjaga keamanan di perbatasan mereka melawan musuh yang sangat menentukan.


Abdel Bari Atwan, jurnalis senior dan pemimpin harian Al-Quds Al-Arabia yang berpusat di London menganalisa perkembangan cepat ISIS dikarenakan tiga faktor utama, yakni kemampuan mereka mengendalikan setiap territorial wilayah yang telah dikuasai, kedua perekrutan massal dari seluruh dunia Islam yang memang telah menjadikan ISIS pahlawan, dan yang terakhir ISIS memiliki kekayaan fantastik akibat bank di Mosul yang berhasil mereka kuasai.


Sebuah laporan AS yang disiapkan untuk New York Sufan Group oleh mantan agen M16, Richard Barret, mengklaim bahwa 12.000 pejuang asing (Muhajirin) telah bergabungdengan ISIS, termasuk 2.000 dari masing-masing Arab Saudi dan Tunisia dan 3.000 dari Barat.


Sebagian pejuang asing memasuki Suriah melalui perbatasan dengan Turki dan Yordania, mengambil keuntungan dari kekosongan keamanan yang diciptakan oleh perang sipil Suriah dan jumlah mereka terlihat siap untuk melebihi orang-orang yang pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan mujahidin internasional yang memerangi tentara Soviet di tahun 1980.


Beliau melanjutkan, Apa yang menyebabkan alarm terbesar – terutama di Suriah dan Iraq – tidak hanya kesiapan pejuang ini dan eksekusi terbuka merekaterhadap ‘tentara musuh, tetapi juga taktik militer mereka dan keterampilan tempur.


Sikap keras mereka (terhadap musuh) yang disengaja dan dirancang untuk menyerang teror di hati lawan mereka – banyak teori yang sama seperti yang diadopsi oleh Amerika pada awal serangan mereka di Iraq yang mereka beri nama kode ‘Shock dan Awe’.


Abdel Bari Atwan juga memprediksi seperti apa kelanjutan serangan ISIS yang kini telah menjadi Daulah Khilafah Islamiyah untuk menggempur Baghdad, yakni dengan dua cara menurutnya.


Pertama, proses politik di Iraq yang akan melihat Perdana Menteri, Nuri al-Maliki, digantikan olehpemerintahan perwakilan lebih baru yang berasal dari persatuan nasional. Maliki telah banyak dikritik karena kebijakannya pengucilan dan marginalisasi Sunni dan non-Syiah yang minoritas. Untuk saat ini, bagaimanapun, proses politik terhenti oleh kegagalan untuk menyepakati pengganti yang cocok untuk al-Maliki.


Kedua, intervensi Barat menegaskan supremasi udara baik melalui pesawat berawak, atau pesawat tak berawak. Ini tentu juga AS terpancing untuk masuk berperang kembali di Iraq. Tentu saja AS-Inggris yang akan memimpin invasi ke Iraq dan memaksa perubahan rezim yang telah menyebabkan kekacauan total yang dialami Iraq hari ini.


Sementara itu, Yordania sedang menghadapi waktu yang sangat sulit. Tidak hanya harus melindungi perbatasannya dengan Iraq dan Suriah, tapi takut akan terjadinya kerusuhan dalam negeri. Sudah ada dua demonstrasi mendukung ISIS di dalam Yordania, yakni di kota Ma’an dan beberapa ulama jihadi gencar berdakwah mempengaruhi para pemuda. Banyak pemuda Yordania tidak puas pada rezim, dengan pengangguran sebesar 30%. Negara ini menghadapi krisis ekonomi dan kesenjangan antara kaya dan miskin yang semakin terlihat.


Abdel Bari Atwan menyatakan di akhir artikelnya bahwa kita tidak tahu apakah langkah-langkah keamanan yang baru-baru ini diambil oleh pemerintah Yordania akan cukup untuk mengusir kemajuan lebih lanjut ISIS. Ini termasuk persyaratan bahwa siapa saja yang bepergian dari Iraq ke Yordania akan perlu untuk mendapatkan visa dari Kedutaan Besar di Baghdad. Jika ada satu hal yang kita bisa yakin itu adalah bahwa ISIS tidak memerlukan visa untuk melintasi perbatasan apapun karena menolak untuk mengakui mereka di tempat pertama!


Sumber : Diolah dari raialyaum.com


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bisakah Yordania Menahan Tsunami ISIS?"

Post a Comment