Keutamaan Ramadhan Sangat Besar, Bagaimana Menggapainya?

Insya Allah, Bulan Ramadhan 1435 Hijriyah akan datang dalam hitungan hari. Satu bulan yang utama diantara 11 bulan lainnya. Mudah-mudahan kita masih diperkenankan untuk menemui. Dengan harapan, di bulan itu kita dapat memperbaiki diri, lebih menata hati, dan mendapatkan ridho dari Ilahi. Keutamaan di dalamnya amat banyak, dari kebaikan yang kecil hingga kebaikan nilainya berlipat tinggi. Sungguh, bertemu dengannya adalah satu hal yang dinanti-nanti.


Nah… Bagaimana ketika dipertemukan dengan Bulan Ramadhan, kita bisa mendapatkan manfaat yang luar biasa di dalamnya. Mendapatkan faedah yang berbagai rupa, dan mengakhiri Ramadhan dengan mendapat ampunan dari Allah ta’ala. Bukan sebaliknya, tatkala Ramadhan usai, yang didapat hanya sebuah kenangan rutinitas tak berarti. Tidak ada perubahan diri, tidak ada pahala yang diraih, justru menambah catatan dosa dan kesalahan di bulan-bulan sebelumnya. Na’udzibullah min dzalik…..


Oleh karena itu, yang semestinya kita perhatikan dan pahami di Bulan Ramadhan yang akan datang ini adalah sebagai berikut:


Pertama: Menyiapkan diri untuk mendapatkan kucuran rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.


Berjuta-juta kebaikan, rahmat, barakah, ampunan dari Allah Subhanahu wa ta’ala tersedia di Bulan Ramadhan. Seorang yang shaum dari terbit fajar hingga tenggelamnya mentari, di waktu bukanya, ia akan dapat sebuah keutamaan, yaitu terbebas dari api neraka.


Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إن لله عند كل فطر عتقاء


”Sesungguhnya Allah pada setiap waktu berbuka itu ada pembebasan.” (Ahmad 22202 dan dishahihkan oleh Al Arnaut). Maksudnya adalah pembebasan dari siksa api neraka.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala Bulan Ramadhan tiba, beliau mengingatkan para sahabat akan keutamaan bulan ini. Beliau ingin agar para sahabat menyadari bahwa di bulan itu, ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Manakala seseorang beribadah di malam itu, nilai ibadahnya sebanding dengan beribadah selama seribu bulan.


Diriwayatkan dari Ibnu Majah dengan sanad hasan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata,


هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خير من ألف شهر من حُرِمها، فقد حُرِم الخير كله، ولا يُحرَم خيرها إلامحروم


“Telah masuk waktu Ramadhan.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,”Sungguh bulan ini telah hadir di tengah-tengah kalian dan di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa diharamkan di dalamnya kebaikan, maka tidak mendapatkan kebaikan seluruhnya dan tidak ada yang diharamkan kebaikannya kecuali dia terhalang dari kebaikan.” (Ibnu Majah 1644).


Namun perlu disadari, walau keutamaan-keutamaan yang ada di Bulan Ramadhan sangat besar, nilai itu akan didapat bagi sesiapa yang serius mencarinya. Seorang yang hanya berleha-leha dan mengikuti rutinitas biasa, dia akan mendapat sesuai apa yang diupayakannya. Balasan yang akan diperoleh seseorang itu sebanding dengan apa yang ia lakukan atau usahakan.


Kedua: Menghiasi diri kita dengan akhlak yang mulia, serta menghindari sebab-sebab permusuhan.


Mencegah lebih baik daripada mengobati. Diantara sebab-sebab fatal yang menjadikan saling membenci dan bermusuhan adalah lisan, yang dapat mejerumuskan manusia ke api neraka. Lisan dapat menimbulkan bahaya dan menggelincirkan. Hendaknya ia menggunakan lisan dalam rangka berdzikir, amar ma’ruf nahi munkar, atau untuk kebaikan dan hal-hal yang haq. Bukan digunakan untuk suatu kebatilan kepada saudaranya Muslim, dengan ghibah, membanggakan diri, adu domba, fitnah, dan celaan.


Di Bulan Ramadhan, satu Muslim dengan Muslim lainnya hendaknya saling berkasih sayang. Menghindari perbuatan menodai hak manusia dengan prasangka buruk, mematai-matai, atau mengungkap aurat mereka hendaknya ditinggalkan. Pelajaran berharga dituntunkan Al Qur’an di dalam Surat Al Hujurat ayat 11-12. Ini sebagai didikan untuk membentuk masyarakat Islami, sehingga menjadi masyarakat yang bersih, suci, dan saling mencintai. Dikelilingi dengan pagar iman dan dijaga dengan takwa. Allah ta’ala berfirman:


“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 11-12)


Ketiga: Bersikap dermawan dan memperbanyak shadaqah


Kedermawanan akan berbuah kemuliaan. Dengannya, seorang Muslim memiliki tenggang rasa dan peduli kepada sesama. Dengannya, Islam memiliki penopang dari segi perekonomian. Bilamana perjuangan Islam jika tidak ditopang dari kedermawanan seorang Muslim, yang mengikhlaskan hartanya di jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Ini penting untuk diperhatikan, terlebih ketika masuk di dalam Bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi suri tauladan kepada umatnya,


أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان أجود الناس بالخير وكان أجود ما يكون في رمضان، كان جبريل يلقاه في كل ليلة من رمضانفيعرض عليه النبيصلى الله عليه وسلم القرآن، فلَرَسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, beliau akan tampak lebih dermawan pada bulan Ramadhan; Jibril menemuinya setiap malam pada bulan Ramadhan dan mengajarkan Al Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam hal kebaikan daripada angin yg berhembus.” (HR. Bukhari 6, 1902 dan Muslim 2308).


Infak yang dikeluarkan seorang Muslim untuk membantu siapa saja dari mereka yang benar-benar membutuhkan. Ia tidak mengkhususkan kepada suatu hal ketika memberi dari apa yang ia miliki. Hal ini membantunya untuk meraih satu tujuan, yaitu keridhaan dari Allah ‘azza wa jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمُ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِلاَّ مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا ، فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ ، وَعَمِلَ فِيهِ خَيْرًا


“Sesungguhnya orang-orang yang memperbanyak (harta) adalah orang-orang yang menyedikitkan (kebaikannya) pada hari Kiamat, kecuali orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya kebaikan, lalu dia memberi kepada orang yang di sebelah kanannya, kirinya, depannya, dan belakangnya; dan dia berbuat kebaikan pada hartanya.” (HR. al-Bukhari 6443 dan Muslim 94)


Keempat: Memperbanyak ibadah kepada Allah ta’ala dengan tilawah Al-Quran, qiyamul lail, berdzikir, serta berdoa kepada-Nya.


Melazimi ibadah-ibadah tersebut di Bulan Ramadhan tidak lain untuk menjemput maghfirah dari Allah ta’ala. Di dalam Ash Shahihain disebutkan,


من قام رمضانإيماناً واحتساباً غُفِر له ما تقدم من ذنبه


“Barangsiapa yang melaksanakan qiyamul lail dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari 37, 38 dan Muslim 760).


Sehingga, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan anugerah untuk memerangi Quraisy di Badar, beliau tidak pernah meninggalkan amalan qiyamul lail tersebut. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu menceritakannya sebagaimana termaktub di dalam Musnad Imam Ahmad. “Sungguh aku melihat diri kami dan orang-orang di sekitar kami sedang tidur, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat di bawah pohon dan beliau menangis hingga menjelang subuh…” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al Arnauth).


Seorang Muslim seharusnya memperbanyak tilawah Al-Quran saat Bulan Ramadhan dan bersemangat meng-khatamkannya. Inilah yang dilakukan oleh seorang ulama hadits, Imam Ahmad Rahimahullah. Beliau, sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abdul Hakim, di saat masuk Bulan Ramadhan meninggalkan kebiasaan membaca hadits dan bermajelis ilmu untuk beralih pada ibadah membaca Al-Quran. Dan istri Nabi yang bergelar Khumaira, yaitu Aisyah Radhiyallahu ‘anha membaca Al-Quran di awal-awal siang Bulan Ramadhan, sedang di pagi harinya setelah terbit matahari, beliau beristirahat dengan tidur.”


Bagi seorang Muslim yang melakukan shiyam, Bulan ini Ramadhan adalah momen yang pas untuk merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala kemudian berdoa. Setiap Muslim memiliki doa yang dikabulkan pada waktu pagi dan malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ثلاث دعوات مستجابات: دعوة الصائم، ودعوة المظلوم، ودعوة المسافر


“Ada tiga doa yang diijabahi oleh Allah ta’ala: Doa orang yang shiyam, doa orang yang terdhalimi, dan doa orang yang bersafar.” (Shahih al-Jami’: 3027).


Perlu diingat, di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, ibadah-ibadah tersebut hendaknya lebih ditingkatkan. Hal ini sebagai upaya untuk mengejar keutamaan satu malam istimewa yang ada di akhir-akhir Bulan Ramadhan. Tidak ada yang tahu pasti kapan malam itu tiba. Sebagai hamba yang beriman, bukan hanya keyakinan terhadap hal tersebut, namun melazimi dan memperbanyak ibadah di hari-hari itu senantiasa harus diupayakan. Dalam rangka meraih kemuliaan dan keutamaan beribadah di malam lailatul qadar.


Kelima: Berlepas diri dari dosa serta meninggalkan kemaksiatan.


Bagaimana caranya? Yaitu menambatkan hati hanya kepada Allah dan melepaskan diri dari hal-hal selain daripada-Nya. Fikiran, hati, dan ruhnya hanya tertuju kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia menghindari perkara-perkara mubah yang dikhawatirkan dapat membawa dirinya kepada perbuatan maksiat dan dosa.


Sungguh indah apa yang tertulis di bait-bait syair seorang pujangga….


أهلُ الخصوصِ من الصوَّام صومُهمُ *** صونُ اللسان عن البهتانِ والكذبِ


والعارفون وأهلُ الأنسِ صومُهمُ *** صونُ القلوب عن الأغيارِ والحجبِ


Ciri khas para ahlu shiyam adalah dari shiyamnya… yaitu membentengi lisan dari kebohongan dan dusta


Dan ciri khas orang-orang yang mengenal Allah dan ramah adalah dari shiyamnya… yaitu membentengi hati dari berpaling dan menutup hati


Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah kepada kita di Bulan Ramadhan nanti. Serta, menurunkan kepada kita maghfirah-Nya , supaya kita terbebas dari api neraka. Amin…


Penulis: Ibass


The post Keutamaan Ramadhan Sangat Besar, Bagaimana Menggapainya? appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keutamaan Ramadhan Sangat Besar, Bagaimana Menggapainya?"

Post a Comment