Mengapa Engkau Enggan Berjihad Membela Orang Tertindas

Oleh : Abu Abdillah Fatih Falestin


Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah yang berfirman: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali-Imran, 3: 169-170).


Ya Allah, aku hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, ketentuan-Mu terhadapku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan semua Nama yang menjadi milik-Mu, yang dengannya Engkau menamai diri-Mu, Engkau menurunkannya dalam Kitab-Mu, Engkau mengajarkannya kepada seorang dari makhluk-Mu, atau Engkau mengkhususkan Nama itu dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Quran yang mulia ini sebagai penentram hatiku, cahaya dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku. Ya Ilahi.. Duka Citaku kepada penduduk Suriah dan negeri-negeri yang terzalimi. Maka hanya kepada-Mu aku mengadukan kesedihanku.


Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad tercinta, yang bersabda: “Tiada seorang pun yang telah masuk surga, menginginkan kembali ke dunia, meskipun dunia dan segala isi diberikan kepadanya, kecuali orang yang mati syahid. Sungguh, dia senantiasa berangan-angan kembali lagi ke dunia, kemudian terbunuh hingga sepuluh kali, mengingat begitu besarnya kemuliaan mati syahid yang dia rasakan.” (HR. Muslim, No. 4868).


Shalawat dan salam kepada keluarga Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia, serta kaum muslimin tercinta. Sungguh, kami berada dalam pembahasan yang membuat kami tertunduk malu kepada Allah, dan kepada mujahidin, serta orang-orang lemah, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang dizalimi oleh orang-orang kafir dan munafikin di negeri-negeri mereka. Dalam perkara ini Allah Ta’ala berfirman:


“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’. Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa, 4: 75-76).


Firman-Nya: “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah.” Imam Al-Qurthubi Rahimahullah, berkata, pernyataan pada ayat ini dikhususkan untuk berjihad dan ini mengandung pengertian menyelamatkan dan membebaskan orang-orang lemah yang berada di tangan orang-orang kafir dan musyrik yang menyiksa mereka dengan siksaan dan mencoba memurtadkan mereka dari agamanya, maka Allah swt mewajibkan jihad untuk menegakkan kalimat Allah dan menampakkan kebenaran agama-Nya, sekaligus menyelamatkan hamba-hamba-Nya yaitu orang-orang mukmin yang lemah, walaupun hal itu dapat menyebabkan mereka kehilangan nyawa dan binasa.[1]


Dulu di zaman Rasulullah saw, negeri Mekkah yang dihuni oleh mayoritas kafir menindas orang-orang mukmin. Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa: Allah swt memberikan dorongan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berjihad fisabilillah, serta berupaya menyelamatkan orang-orang yang tertindas di kota Mekkah, baik laki-laki, wanita, maupun anak-anak yang sudah tidak betah tinggal di sana. Karena itulah Allah swt berfirman: yang semuanya berdoa: ‘Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini.” Yakni Mekkah.[2]


Kemudian, negeri tersebut disifati dengan firman-Nya; “Yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau’. Yaitu, jadikanlah untuk kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.[3]


Sungguh, negeri yang saat ini mirip dengan Mekkah di zaman Rasulullah saw adalah Suriah. Rezim Assad yang kafir serta pendukungnya yang kafir menyembelih perempuan dan anak-anak; Memperkosa para gadis; Melecehkan dan membom masjid-masjid; Memaksa orang-orang mukmin mengucapkan; ‘lailahailla bashar assad (tiada tuhal selain bashar assad);memaksa kaum muslimin yang ditangkap bersujud di hadapan foto Bashar Assad; mereka menggali parit dan menguburkan kaum muslimin Suriah hidup-hidup yang tidak mengucapkan ‘lailahailla bashar assad’. Mereka membakar kaum muslimin. Sungguh, Bashar Assad dan pengikutnya laksana pembesar Najran di Yaman. Maka Allah berfirman:


“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan demi hari yang dijanjikan. Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu pembesar Najran di Yaman). Yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahannam dan mereka akan mendapat azab (Neraka) yang membakar. Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj, 85: 1-11).


Sungguh, perang Suriah mengingatkan kita pada lembaran-lembaran Al-Quran yang memuat kata-kata kaum ‘Anshar dan Muhajirin’. Nama atau istilah yang Allah swt memberikannya dan memuji penduduk Madinah dan penduduk Mekkah yang hijrah ini, terdengar nyaring di antara mujahid dalam perang yang berkecamuk di negeri yang diberkahi itu. Nama Muhajirin dan Anshar 1400 tahun hanya bisa dibaca dalam Al-Quran dan Hadits, kemudian dikenang dan diambil pelajaran. Namun hari ini, benar-benar dipraktekkan dalam perang Suriah, juga perang Iraq. Maka wahai orang-orang mukmin; “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (QS. Al-Hijr, 15: 75).


Begitupun gelombang baiat di negeri-negeri jihad yang diberkahi, mengingatkan kita pada awal-awal kedatangan Islam. Ingatlah kita pada baiat Ar-Ridwan, dan baiat suku-suku kepada Rasulullah saw di masa silam. Peristiwa ini baru muncul kembali setelah sekian lama negeri-negeri muslim, dikuasai sistem monarki dan demokrasi. Ketahuilah, titik berat sabda Rasulullah saw tentang kedatangan Imam Mahdi, juga tentang pembaiatan kepadanya di depan Ka’bah. Maka wahai orang-orang mukmin; “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.” (QS. Al-Hijr, 15: 75).


Bergembiralah kepada orang-orang yang berperang bukan untuk fanatisme suku dan kelompoknya, melainkan untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala semata. Sungguh, orang-orang kafir itu mati dalam kesia-siaan, sedangkan di akhirat ada adzab yang pedih lagi abadi bagi mereka. Orang-orang kafir itu adalah teman-teman syaitan, dan mereka berperang di jalan syaitan. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thagut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa, 4: 76).


Demikianlah. Dan segala puji hanya kepada Allah yang berfirman: “Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?’ Katakalah: ‘Kesenangan di dunia hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiya sedikitpun’.” (QS. An-Nisa, 4: 77). (***)


[1] Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi (QS. An-Nisa, 4: 75). Jilid 5, hal, 660.


[2] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. An-Nisa, 4: 75. Jilid 2, hal, 584.


[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. An-Nisa, 4: 75. Jilid 2, hal, 584.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Engkau Enggan Berjihad Membela Orang Tertindas"

Post a Comment