Underground Tauhid–Pertama-tama, sepakbola bukan matematik. Kedua, kita mesti percaya itu. Alamak, semakin pening lah kita. Bagaimana mungkin, sesuatu yang bukan ilmu pasti, dikompetisikan, bergengsi pula! Akhirnya pelatih pusing sendiri. Memelintirkan otak supaya timnya jadi juara. Kalau tidak, matilah karirnya. Sebab bandar tekor.
Karena tujuannya menang dan jadi juara, cara apapun bebas dipakai. Tidakperlu lah kita pakai strategi mentereng, seperti Total Football, Catencaccio atau Kick and Rush. Bisa pula pakai sepak bola gajah, seperti yang diajarkan Cak Mursyid Efendi.
Wong, sepakbola tidak melulu lari-lari. Contohnya saya ini. Dari dulu, senang jadi pemain belakang, sebangsa stopper atau libero. Enak, nggak perlu lari-lari. Kalau ada lawan datang, tinggal sikat. Nggak kena bolanya, ya orangnya yang kita sikat. Gampang kan? Hehe.
Bahkan dulu, pas SMP, saya langganan jadi kiper. Saking malesnya lari. Tapi dulu, entah kenapa, teman-teman di sekolah pusing sendiri kalau saya kiper. Padahal perawakan saya pendek. Katanya susah dijebolin. Karena dulu badan saya tidak sebengkak sekarang, jadi mudah terbang-terbang. Bahkan, pernah suatu hari, dalam sebuah kompetisi classmeeting, saya digaji teman saya, pakai lontong sayur supaya saya main bagus.
Entah, karena memang karakter saya yang defensif kali ya. Saya nggak suka jadi striker. Padahal semua orang pingin jadi striker. Ya maklum. Yang terkenal kan striker. Yang dapat penghargaan juga biasanya striker. Tapi kenapa saya nggak tertarik ya? Dari awal keukeuh, saya mau jadi pemain belakang. Idola saya waktu itu Alessandro Nesta. Dulu terkenal sekali. Sekarang kemana ya? Mungkin buka usaha Pizza Delivery kali.
Kalau sudah jadi bek, biasanya saya kawal penyerang lawan. Kemanapun dia pergi, saya ikuti. Kata pelatih saya dulu, striker lawan berak pun harus ditungguin. Itu tugasnya bek. Kecuali kalau main zona, bukan main marking. Beda lagi. Tapi saya suka main marking. Seneng aja gitu, bikin mereka stress. Apalagi kalau saya main kasar. Saya senang lihat mereka ngamuk-ngamuk. Tapi nggak berani mukul saya.
Tapi, namanya manusia, ada pula celahnya. Kalau pemain-pemain tipe penggocek, mungkin jarang bisa lewatin saya. Sebab saya incar kaki mereka. Tapi kalau tipe-tipe “ngendok di gawang” itu baru sulit. Biasanya mereka cari sudut-sudut lapangan. Jauh dari jangkauan radar penciuman saya. Bila bola lob datang, mereka tinggal sontek.
INI PENYERANG BERBAHAYA!
Pas pertama kali lihat Van Persie main, saya pikir, ini orang bukan pemain bagus. Tidak seperti Messi ataupun Cristiano Ronaldo. Secara skill, dia pas-pasan, menurut saya. Tapi memang ciri khas dutchman. Sama seperti seniornya, Dennis Bergkamp. Tipe one touch goal.
Justru, yang begini ini yang bahaya. Bukan tipe perusak. Tapi tipe pembunuh. Pemain sekali sentuh. Saya jadi ingat Filippo Inzaghi. Pemain yang namanya tidak terlalu mentereng, tapi sangat ditakuti. Jose Mourinho pernah bilang,”Milan boleh pasang 11 striker, asal jangan Inzaghi,”. Saking susahnya menghadapi dia.
Padahal ya, dia bukan pemain dengan skill bagus. Gocekannya nggak segesit Messi. Larinya nggak sekencang Ronaldo. Tendangannya nggak sedahsyat Ibrahimovic. Badannya kurus kerempeng, jadi body balance-nya lemah. Tapi kok bisa ya ditakuti?
Ternyata oh ternyata, dia cuma pintar cari tempat. Seperti kata Johan Cruyf: “Inzaghi pemain yang paling tidak mengerti teknik bermain sepak bola”. Justru, kata-kata ini menjawab quote legendaris bintang belanda ini. “Football is a simple. The hardest thing is playing football in simple way,”.
Nah Inzaghi ini sangat simple bermainnya. Intinya, yang penting gol lah. Kerjaan dia cuma ngakalin jebakan offside. Jadi dia nunggu aja di garis belakang. Jalan-jalan muterin itu garis. Sambil nggodain pemain belakang lawan, biar hilang konsentrasi. Simple banget kan? Hehe. Itu sebabnya dia sering banget kena offside. Sampai-sampai Sir Alex bilang,”Inzaghi pemain yang offside sejak dalam kandungan”. Hahaha.
Nah, dulu temen sekolah saya ada yang begitu. Sumpah deh. Dia sama sekali nggak bisa main bola. Nendang aja masih pakai concong alias mulut kaki. Larinya kayak orang mabok. Nyundul sama kejedot bola, nggak ada bedanya. Menggiring dan digiring bola, sama aja. Kalau oper bola seperti mau ngajak ribut. Tapi, tiap kali main, pasti ngegolin. Aneh ya? Saya aja heran.
Dia ini tipe Inzaghi. Ngendok di gawang. Ada kesempatan hajar! Apalagi dengan skillnya yang nggak karuan parahnya. Ini pasti bikin lawan sulit menebak. Yang perlu anda tahu, tendangan paling sulit diblok itu, ya tendangan concong. Meskipun dalam kamus persepakbolaan profesional, model begini, tidak ada. Tapi, model ini lah yang paling efektif. Justru, yang bermain bola dengan buku panduan di tangan, yang paling mudah ditebak.
Karena jujur saja, saya tadinya meremehkan Van Persie ketika Belanda melawan Spanyol. Saya pikir namanya akan tenggelam oleh Arjen Robben, sebab skill Robben jauh sekali di atas Persie. Eh tapi ternyata saya salah. Ini soal karakter saja.
Jadi sebenarnya, hidup memang masa menunggu momentum saja. Kalau memang rejekinya, tidak akan kemana. Meskipun misalnya, kita berlari ngos-ngosan mengejar rejeki, bila tidak momennya, ya lepaslah itu dari genggaman. Tapi kalau sudah momentumnya, biarpun kita hanya berdiam diri saja, kita bisa menggenggamnya. Tentu dengan usaha. Seberapa besar kecilnya usaha? Tidaklah bisa jadi takaran. Kita lihat saja bagaimana Van Persie mencetak gol lewat Flying Dutchman-nya. Ajaib bukan?*[]
Oleh: Bey Erest
0 Response to "Momentum"
Post a Comment