Tak Akan Kubiarkan Islam Digerogoti Selagi Aku Masih Hidup!

Demikian sebuah risalah yang ditulis oleh Asy-Syahid, Syekh Abu Mush’ab Al-Zarqowi yang berjudul asli “Ayanqudhu ‘d diin wa ana hayy”. Dalam risalah (awalnya adalah ceramah) yang diterjemahkan oleh Al-Akh Abu Hafs As-Sayyar dan kemudian dirilis oleh Forum Islam Al-Tawbah ini, Syekh Abu Mush’ab Al-Zarqowiy mengungkapkan kesedihan dan kekecewaan kepada umat Islam yang lalai dari membela agama Allah.


Padahal, menurut beliau-rahimahullah-sejarah Islam telah mencatat situasi-situasi dan kisah-kisah seperti ini, yakni kisah tingginya semangat dan cita-cita mereka yang membela agama Allah SWT.


Ketika terjadi fitnah “Mani’uz Zakat” (penolakan untuk membayar zakat) suasana kacau dan ujian yang berat muncul. Masalah ini terlihat meragukan, bahkan di kalangan tokoh-tokoh Shahabat Nabi. Maka, dengan tegas Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menyatakan sikapnya : “Demi Allah, aku tidak akan membeda-bedakan antara sholat dengan zakat, sungguh akan kuperangi orang-orang yang membeda-bedakan antara keduanya.”


Umar r.a. berkata : “Akhirnya kami berperang bersamanya, dan kami pun tahu bahwa ia benar.”


Diriwayatkan dari Abu Roja’ Al-Uthoridi ia berkata : “Aku masuk ke kota Madinah, maka kulihat orang-orang sedang berkumpul. Kemudian aku melihat seseorang mengecup kepala seseorang sambil berkata : “Aku menjadi penebusmu, kalau bukan dikarenakan kamu tentu kami semua sudah binasa.” Aku pun bertanya : “Siapa orang yang mencium dan siapa yang dicium?” orang-orang memberitahu itu adalah Umar mencium kepala Abu Bakar karena perang yang ia lancarkan kepada orang-orang murtad yang tidak mau membayar zakat, hingga akhirnya mereka kembali mau membayarnya dengan keadaan hina.”


Dan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.h. berkata : “Ketika Nabi SAW., wafat, Abu Bakar harus memikul beban yang sekiranya beban itu ditimpakan kepada gunung pasti gunung itu akan hancur. Kemunafikan merajalela di Madinah, bangsa Arab berbalik menjadi murtad. Demi Allah, tidaklah mereka berselisih dalam sebuah permasalahan kecuali Abu Bakar datang menentukan apakah itu harus ada atau tidak di dalam Islam.”


Ketika itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq, berdiri sekokoh gunung-ayah dan ibuku menjadi penebusnya-yang menjulang sebagai benteng pembendung arus kemurtadan. Berteriak dari hatinya yang paling dalam dengan penuh tawakkal kepada Robbnya : “Wahyu telah habis, Islam telah sempurna, Ayanqudhu ‘d diin wa ana hay, Takkan kubiarkan Islam digerogoti selagi aku masih hidup!


Ucapan serupa juga diucapkan oleh Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Imam Ahmad Bin Hanbal-rahimahullah-di saat fitnah “Kholqul Qur’an” dimana beliau tetap berdiri kokoh sekokoh gunung yang menjulang di saat badai fitnah menerpa. Melalui beliau Allah menyingkapkan mendung dan melalui beliau Allah selamatkan umat.


Ucapan itu pun, Ayanqudhu ‘d diin wa ana hay diucapkan kembali oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rhm ketika membakar semangat umat untuk melawan pasukan Tartar, dan oleh Syekhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab rhm di saat beliau berkeliling ke berbagai Negara seperti seorang ibu yang kehilangan anaknya, kedua matanya bercucuran air mata sambil berseru : “Duhai, kasihan Islam. Duhai, kasihan Islam.”


Sungguh, dengan kesedihan dan musibah-musibah maka ia akan mampu memicu semangat dan melahirkan para pembesar. Sungguh musibah dan kepedihan-kepedihanlah yang membuat kita termotivasi dan bersemangat tinggi yang kemudian membangunkan kita dan berdiri tegak, untuk kemudian juga mengatakan : Ayanqudhu ‘d diin wa ana hay, Takkan kubiarkan Islam digerogoti selagi aku masih hidup!


Wallahu’alam bis showab!


M Fachry




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tak Akan Kubiarkan Islam Digerogoti Selagi Aku Masih Hidup!"

Post a Comment