Serba-Serbi
A-Z Kurma, Buah Nabi di Bulan Ramadhan
Jumat 6 Ramadhan 1435 / 4 Juli 2014 09:15
ADA 2 pendapat mengenai hal ini. Pertama dilihat dari segi antropologis. Bahwa mengonsumsi kurma adalah kebiasaan masyarakat arab waktu itu, dan kurma adalah satu bahan makanan yang lumrah di masyarakat. Mengonsumsi kurma berarti mengonsumsi bahan makanan kebiasaan masyarakat bahkan yang termiskin sekalipun.
Oleh karena itu sunnah mengonsumsi kurma dimaknai sebagai mengonsumsi makanan yang menjadi kebiasaan masyarakat setempat dan tidak menjadi memberatkan baginya. Jika masyarakat biasa mengonsumsi kolak, maka itulah yang terbaik. Jika ia hanya mampu mengonsumsi air teh maka dengan itu ia berbuka. Dan urutan ruthab, tamr dan air merupakan urutan ekonomis. Artinya tidak ada istilah menyusahkan/memberatkan dalam hal makanan yang dikonsumsi. Adapun jenisnya tidak harus kurma tetapi makanan yang menjadi kebiasaan masyarakat dan tidak memberatkan secara ekonomis.
Pendapat kedua berpendapat dari sisi sunnah dan gizi. Kurma merupakan pilihan makanan terbaik untuk dikonsumsi saat sahur/berbuka. Pertimbangannya adalah karena kurma secara eksplisit disebutkan Rasulullah yang mencontohkan dan tiada satpun keterangan bahwa makanan lain boleh dikonsumsi, misalnya taqririyah Rasul pada sahabat yang menggunakan bahan lainnya. Pun dari sisi gizi kurma memang ideal karena dapat memberikan energi bagi tubuh yang tahan lama serta tidak menimbulkan efek merugikan, diantaranya dari produksi insulin mapun penumpukan lemak dalam tubuh.
Dari pertimbangan tersebut, maka pendapat kedua menyimpulkan urutan sunnah konsumsi ruthab, tamr dan air merupakan urutan baku yang disunnahkan karena sumber ketarngan yang ada menyebutkan seperti itu serta kandungan gizi yang menyebabkan kurma adalah pilihan terbaik. Selain kurma maka air.
Selain berbuka, sunnah mengonsumsi kurma atau seteguk air juga disunnahkan untuk sahur. Dalam hal ini keberkahan sahur juga harus dibarengi dengan konsumsi makanan yang dapat memberikan energi yang cukup untuk menjalanai shaum, tidak makan dan minum selama kurang lebih 14 jam. Kurma dan air merupakan sunnah Rasul yang menjadi pilihan terbaik dari Allah bagi para shaaimin didukung dengan bukti-bukti ilmiyah tentangnya seperti yang telah dijelaskan di atas.
Keterangan yang menguatkan
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah kurma,” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, Baihaqi).
Barangsiapa yang tidak menemukan kurma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk sahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena fadhilah (keutamaan) yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air.”
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).
Tidak ada satu wadah pun yang diisi oleh Bani Adam, lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap untuk memperkokoh tulang belakangnya agar dapat tegak. Apabila tidak dapat dihindari, cukuplah sepertiga untuk makanannya, sepertiga lagi untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya yang bersumber dari Miqdam bin Ma’di Kasib). [Sumber: fdawj]
Redaktur: Saad Saefullah
Kategori Ini berisi tentang Khabar Dunia Internasional
0 Response to "Adakah Makanan Berbuka Shaum selain Kurma?"
Post a Comment