Underground Tauhid–Kita selalu bertanya, mengapa ujian tak pernah menemui jalan akhir. Sejak SD, selalu ada ujian. Bahkan sudah duduk nyaman di kantor pun, ada pula beragam ujiannya. Makin ke atas, makin urgent. Maklum, kalau dulu soal gengsi akademik, sekarang soal kewibawaan isi dompet.
Begitupun anak-anak perkuliahan. Tak peduli mereka yang botak atau gondrong setumit, mereka perlu pula ujian sebagai surat permohonan amnesti dari hukuman studi bertahun-tahunnya itu. Bila mendekati akhir-akhir studi, mereka diwajibkan mengambil kerja praktek atau magang. Pastilah, sebagian dari mereka agak malas-malasan. Lebih enak ngampus terusss, pikir mereka.
“Biar Bapak tunjukkan, mengapa dosenmu mengajarimu sampai berbusa-busa,” kata seorang supervisor di hari pertama kerja praktek. Mahasiswa kita ini pun takjub. “Wah, nggak nyangka, pabriknya semegah dan serumit ini!”. Matanya berbinar, senyumnya merekah, jantungnya berdebar. Kekagumannya menggoyang benaknya yang terdalam. “Suatu hari, aku akan memajukan bangsaku ini!”
Pak Supervisor yang tak sengaja mendengar, ketawa dalam hati. Memajukan bangsa katamu? Baru hari pertama kerja praktek, sudah silau dengan mesin yang berjungkat jungkit. Khusnudzon-mu terlalu jauh, Nak. Memangnya, selain bakar ban dan corat-coret dinding kampus, apa lagi yang sudah kau perbuat untuk bangsa ini? Mempelajari catatan perkuliahan? Ikut karya ilmiah? Bikin penemuan mutakhir? Ooo, tidak…Saya sudah berpuluh tahun mengabdi di pabrik ini, tidak melihat sedikitpun harapan akan kemajuan bangsa.
Hari pertama sungguh-sungguh ia perhatikan segala detailnya. Dari bahan baku hingga jadi. Rasa takjubnya makin membumbung. Alangkah hebatnya akal manusia. Hal sekompleks ini bisa terlihat amat mudah. Seandainya bisa dimaksimalkan, sudah barang tentu, akan banyak rakyat yang mendapatkan manfaatnya.
Memasuki hari kesepuluh, timbul lah keheranan yang lain. Konstruksi segini megahnya, punya siapa? Oh, punya cukong itu. Orang mana? Orang Jepun, kabarnya. Mengapa bangsa kita tak bisa buat ini? Bisa saja, tapi uangnya siapa? Bukankah kita bangsa kaya? Kaya itu soal masing-masing. Miskin juga soal masing-masing. Bukankah ini tanah kita, kekayaan alam juga milik kita, kenapa tidak direbut saja? Usir mereka!
Yang benar, mereka lah yang akan memecatmu. Mengusirmu dari tanah nenek moyangmu. Nanti, kamu akan berlutut pada keadaan. Hidup bukan sekedar orasi di atas mimbar. Ini kenyataan. Coba cuci muka sana! Tampar pipimu berulang kali. Tanyakan lagi pada dirimu, apa ini mimpi?
Tepat di hari keduapuluh, dia sudah mulai paham dengan irama serta tangga nada para pekerja di pabrik. Berangkat pagi buta, pulang kelewat senja. Tidak ada beda. Semua sudah di-install sesuai porsinya. Meski kelihatan ada senyum dari wajah mereka, itu bukan optimisme. Tapi sekedar basa-basi rutin, atau sekedar menepis kelelahan.
Hingga sampailah di penghujung masa pengabdian magangnya. “Bagaimana…” tanya supervisor. “Sudah mengerti, kenapa dosenmu bicara sampai berbusa?”. Mahasiswa kita ini tersenyum malu-malu. Jantungnya tak lagi berdebar. Rasa antusiasnya memudar. “Selepas ini, saya akan kembali ke kampus, mendengarkan Pak Dosen bicara berbusa-busa. Tidak akan ada satu pun kata yang saya biarkan lewat begitu saja dari batin saya. Biar saya bingkai kata-kata itu untuk kenang-kenangan,”.
Ingat, ini cuma magang. Selamat tinggal Ramadhan!
-BEY-
0 Response to "Cuma Magang"
Post a Comment