Shoutussalam - Ribuan anggota Mujahid Muhajirin (pendatang non lokal Suriah) baru telah memperkuat barisan pasukan Kekhilafahan Daulah Islamiyyah dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, terhitung sejak bulan Maret 2014, menurut pernyataan pejabat Amerika Serikat, menambah kekhawatiran semakin membesarnya potensi kemunculan aksi-aksi penyerangan menargetkan negara-negara Salibis Barat dan sekutu-sekutunya.
Sebanyak 10.000 pejuang asing – sepertiga kali lebih besar dari bulan Februari – telah bergabung dengan Daulah Islamiyyah, kata seorang pejabat kontra-terorisme yang berbicara secara anonim, seperti dilansir dari LA Times, Senin (21/7/2014).
3.000 orang dari mereka, membawa paspor berkewarganegaraan Eropa.
“Ini merupakan jumlah terbesar warga negara Barat yang pernah kita lihat ikut berkecimpung di medan jihad,” kata Seth G. Jones, seorang mantan pejabat kontra-terorisme AS dan sekarang bekerja di lembaga think tank dengan Rand Corporation.
“Jumlah ini sangat besar,” kata Daniel L. Byman, Profesor Studi Keamanan di Universitas Georgetown, Washington.
Kiprah Daulah Islamiyyah dan sederet kemenangan yang diperolehnya selama beberapa bulan terakhir menjadi magnet daya tarik besar para Mujahid-mujahid baru di berbagai negara litas benua.
Terlebih pasca Daulah Islamiyyah mendeklarasikan Kekhilafahan Islam pada 1 Ramadhan lalu, dengan wilayah membentang dari Provinsi Aleppo di Suriah hinga Provinsi Diyala di Iraq, menjadikan negara baru ini memiliki peta kekuasaan berkali-kali lipat lebih luas daripada Israel, Lebanon, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. [arkan/lat]
The post Intelijen AS: Dalam Lima Bulan, 10.000 Mujahid Baru Bergabung dengan Daulah Islamiyyah appeared first on Shoutussalam.
0 Response to "Intelijen AS: Dalam Lima Bulan, 10.000 Mujahid Baru Bergabung dengan Daulah Islamiyyah"
Post a Comment