Lainnya
Kisah Dakwah di Pedalaman NTT: Jalan 7 KM untuk Ngaji
Ahad 15 Ramadhan 1435 / 13 Juli 2014 10:35
‘’MAAF kami belum berani berceramah di masjid, karena jamaah belum bisa berbahasa Indonesia dan kami pun belum bisa berbahasa daerah setempat,’’ demikian laporan Ramdhan Joni dan Fadli dari pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) belum lama ini.
Keduanya adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Jakarta, yang tengah mengikuti Program Kafilah Dakwah 2014. Mereka bertugas mendampingi warga Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, hingga Idul Fitri 1435 H.
‘’Warga Kaeneno masih merupakan penduduk asli dan belum bisa berbahasa Indonesia. Orang kabupaten pun banyak yang mengaku tidak tahu dengan keberadaan desa ini,’’ ungkap Fadli.
Ia menuturkan, jumlah muslim di Kaeneno hanya 28 keluarga dan merupakan minoritas (15%). Mereka tersebar di kediaman dengan jarak antara 2 hingga 7 kilometer dari satu-satunya surau desa.
‘’Jamaah harus berjalan kaki sejauh 2 sampai 7 kilometer dari rumahnya menuju masjid untuk mengikuti pengajian,’’ kata Fadli.
Kedua da’i muda yang dikirim Dewan Dakwah itu sangat prihatin dengan kondisi jamaah. ‘’Mereka miskin iman dan harta sekaligus,’’ ucap Joni. Listrik baru masuk ke desa ini sejak tiga bulan lalu. Sedangkan air harus mengambil ke kali di lembah bukit, atau membeli seharga Rp 2.500 per jerigen sedang.
Joni menambahkan, banyak warga muslim tersebut yang belum bisa berwudhu dan melafalkan Surat Al Fatihah. ‘’Bahkan karena tidak dibina, ternyata banyak muallaf yang telah murtad,’’ katanya sedih.
Karena kendala bahasa komunikasi, sejak ditempatkan di desa ini awal Ramadhan lalu, Joni dan Fadli fokus membina anak-anak dan pelajar. Mereka sudah bisa berbahasa Indonesia walaupun belum lancar.
Anak-anak itu pula yang menjadi penerjemah tatkala kedua dai bersilaturahim dan ngobrol dengan warga dewasa. Namun sejauh ini, Joni dan Fadli mengaku belum pede untuk berceramah di hadapan mereka. ‘’Daripada nanti menimbulkan salah paham kan bisa bahaya,’’ kata Joni sambil tertawa.
Selain memberikan takjil dan paket sembako dari LAZIS Dewan Dakwah, Joni dan Fadli juga mengajak masyarakat untuk membantu pengadaan sarana pertanian sederhana dan pipanisasi air kali ke tandon umum.
‘’Setelah Program Kafilah Dakwah berakhir, dakwah di Desa Kaeneno harus terus berlanjut dengan menempatkan dai di sini,’’ Fadli merekomendasikan. Hal ini sesuai harapan jamaah yang diutarakan melalui seorang warga bernama Sarif Nobisa, ‘’Haimtoet atukus smanaf henok’ai (Kami minta agar kami terus didampingi dai).’’
Partisipasi silakan menghubungi 021-31901233 atau SMS 0858-8282-4343. Rekening Bank Muamalat Indonesia (BMI) no 301-007-1846 atas nama LAZIS Dewan Dakwah. [bowo/Islampos]
Redaktur: Pizaro
Terkait:
- Dai Dewan Dakwah Hidupkan Ramadhan di Pedalaman
- DDII Lepas 59 Dai Pedalaman
- Ustadz Arifin Ilham: “Mari Dukung Dakwah Pedalaman”
- “Indonesia Tak Akan Hebat, Karena Kau Jual Indosat”, Sindiran Fadli Zon untuk Megawati?
- Kisah Hidup Uje (6 – Habis); Hidup di Jalan Dakwah
Kategori ini berisi berita berita nasional Sumber Islampos
0 Response to "Kisah Dakwah di Pedalaman NTT: Jalan 7 KM untuk Ngaji"
Post a Comment