Hikmah & Renungan
Sabtu 7 Ramadhan 1435 / 5 Juli 2014 09:15
PELAJARAN Hidup Kian Mendewasakan
Subhanalloh walhamdulillah…
Weekend berikutnya (pertengahan juni) kami masih bolak-balik hospital untuk ganti perban.
Mengantar dan menjemput abangnya sekolah, menanti urusan di rumah sakit, serta harus membeli keperluan sehari-hari adalah rutinitas minggu itu.
Terbersit hati berbisik, “Duh, kalau urusan begini, jadi kangen dokter Krakow— beliau datang ke rumah pasien kalau pasiennya lemah, atau emaknya repot kayak daku begini …hehehehe….”
“Namun kalau kita belum pindah dari Poland, belum tentu kita bisa umroh sekeluarga, dan kita tidak bisa menikmati kehijauan alam di negeri tempat tinggal kini….” Azzam dan Abuhu menyambung kalimat syukur, masya Allah!
Di hari lahirnya yang ternyata bertepatan dengan hari jadi Raja negeri jiran, bayi mungilku ini menorehkan banyak pelajaran berharga. Sungguh tak mudah menjaga amanahNya, betapa diri kita amat banyak lalai dan leka. Ampuni kami Yaa Allah….
Minggu sebelum Ramadhan hadir, Zuhud sudah menghadiri PAUD lagi, bertemu sobat-sobatnya yang ganteng dan cantik, Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…
Congrats, my dear…
PAUD ini adalah kelas kecil inspiratif yang diracik oleh bunda-bunda sholihat dengan menamakan diri sebagai klub ibu dan anak. Tadinya hadir perasaan sedih karena anak-anak batita kami (yang sebaya) sering menangis ingin mengikuti abang-kakak mereka ke sekolah. Muncullah ide ini supaya para batita cerdas kian gembira, bermain dan belajar bersama bunda mereka sendiri.
Kembali kejutan yang meneguhkan rasa syukur itu hadir, tatkala seorang kakak senior dan juga salah satu sahabat dari kakak kandungku memberitakan peristiwa kecelakaan yang dialami keluarganya. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….” Sungguh amat bersabar dirinya. Saat ia dan seluruh anggota keluarga ingin mengunjungi saudara di kota lain, mereka harus tegar menerima peristiwa kecelakaan itu. Sang kepala keluarga beserta kedua jundi telah mendahului, menuju alam barzah.
Sedangkan sister sholihat itu bersama seorang anak lainnya harus dibawa ke rumah sakit, begitu jauh lebih ‘banyak dan berat’ ragam urusan mereka. Semua sobatnya termasuk diriku ikut menitikkan air mata, meski tak dapat membantu memakamkan jenazah suami dan anak-anaknya, meski tak dapat benar-benar memeluk raga untuk menguatkan semangat hidupnya, namun setitik empati itu telah menjadikan samudera air mata bagi teman-teman dan sobatnya yang tinggal berjauhan, yang menanti-nanti kabar meski hanya melalui media fb dan pesan sms-nya. Subhanalloh…
Setiap kalimat sister sholihat ini berisi ketegaran dan cambuk semangat, tak henti ia beristighfar dan memuji kebesaran asma Allah azza wa jalla. Padahal saat itu ia ada di rumah sakit bersama seorang amanah-Nya, bersama tumpukan problema yang berputar dalam pikirannya. Ia ucapkan, “Semuanya adalah milik Allah, dan semua pasti kembali kepada Allah… Pasti ini yang terbaik, nanti Allah kumpulkan kita di jannahNYA, kalau kita bersabar, bersyukur atas manisnya iman… Saya sayang pada suami dan anak-anak, tapi Allah tentu lebih menyayangi mereka… Kami yang disini pun nanti menyusul kalian…”
Betapa berefek kalimatnya buat hati yang tunduk pada Allah SWT, duhai sahabat… Memang pengalaman selalu menjadi pelajaran berharga. Pengalaman sobat yang sholihat pun dapat menjadi cambuk motivasi buat kita, bahwa kita harus mendekap dengan penuh rasa syukur atas apa yang dititipkanNya kepada kita. Ia merasa bersyukur atas silaturrahim yang kian erat serta doa-doa mengalir dari para sahabat, meski dukanya amat dalam.
Dan bagaimana dengan diriku yang berjalan tanpa beban pikiran seberat itu? Anak-anak kita sehat dan masih dalam pelukan hangat, sedangkan anak-anak saudari kita itu telah mendahului ibundanya, menyisakan kerinduan dan air mata nan deras…
Saudaraku, yang terlihat senang, belum tentu benar-benar bahagia. Sementara itu, yang tampak berita duka, belum tentu merasa susah dan lara.
Allah selalu bersama kita, Syukur selalu atas hidayah-Nya, atas apa yg ada dalam dekapan kita. Mari hindarkan diri dari kerisauan atas hal-hal yang tiada dalam genggaman kita.
Masa lalu berisi kenangan, masa depan adalah buah manis harapan, hari ini senantiasa banyak kejutan, semuanya berisi pelajaran, insya Allah…
Terima kasih abang Azzam dan bang Sayyif yang sudah bisa menyiapkan baju sekolah sendiri, yang selalu sholat lima waktu,
I am proud of you, and always love you, dearest …
Terima kasih teman-teman, syukron jazzakumulloh khoiru jazza buat semua sahabat yang senantiasa mendoakan, yang menengok anak-anak, yang juga kasih kado-kado buat Zuhud, masya Allah…
Hanya Allah SWT yang dapat melimpahkan balasan terbaik, Barokalloh!
Faghfirlana..
Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, dan kalimat alhamdulillah memenuhi timbangan. Kalimat subhanallah dan alhamdulillah memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, sabar itu cerminan, Al-Qur’an itu hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap manusia bekerja. Ada yang menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang menghancurkan dirinya.” (HR. Muslim)
Setiap ragam peristiwa kian mendewaskan, sabar adalah tanda keimanan. Ketika berada dalam kesulitan, dalam kesusahan dan rasa sedih, tampak jelas tanda-tanda kasih sayangNya dengan solusi yang kita temui. Tampak jelas pula sesiapa menjadi sosok teman sejati, serta muhasabah diri menjadikan pribadi kita kian bersyukur, wallohu a’lam.
(@bidadari_azzam, Ramadhan Mubarok! KL, 1435 hijriyyah)
*Penulis adalah ananda dari bapak H. Muhammad Holdoun Syamsuri TM Moorsid dan ibunda Hj. Sahla binti H. Majid, kelahiran Palembang 19 Juni 1983, blogger sejak 2007, mantan pelajar berprestasi Indonesia. Ia merupakan supporter setia suami saat bertugas menyelesaikan projek IT SAP di berbagai negara, pembimbing para muallaf dengan aktif sebagai koordinator muslimah di Islamic-Centre Krakow, Poland. Sarjana Ilmu Komunikasi, ibu tiga jagoan, sahabat pendidik dan pengamat TKI, peserta kelas Quran Hadits di Ampang Putra-KL. #PeduliKanker Saat ini aktif pula menjadi sukarelawan pengurusan jenazah muslimah.dll. Buku karyanya antara lain Catatan CintaNya di Krakow, Antologi “Indahnya Persahabatan” (2012), Sajak Mengeja Masa (Kumpulan Puisi)~2013. Silaturrahim di :Twitter ID : @bidadari_azzam, FB akun : Sry Bidadari Azzam Dua
Redaktur: Bidadari Azzam
Kategori Ini berisi tentang Khabar Dunia Internasional
0 Response to "Selalu Banyak Kejutan"
Post a Comment