Suara Berbeda para Mantan Ikhwah


banner yusuf2 Suara Berbeda para Mantan Ikhwah


BILA mau jujur, anak-anak muda yang dibesarkan dan berada dalam komunitas Tarbiyah—yang kemudian mengejawantah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)—memang kurang mendapatkan porsi suplemen wacana pemikiran.


Khazanah intelektual bisa dikatakan belum memperoleh perhatian seserius kajian hati atau siyasi. Bersyukur apabila anak muda yang tengah bersemangat tinggi di Tarbiyah mendapati seorang murabi yang paham kebutuhan akal ini. Dus, jadilah mereka tidak gagap ketika berdialektika dengan pelbagai mozaik pemikiran.


Kendati porsi pemberian materi pemikiran tidak banyak (katakanlah seperti INSIST), saya memandang ini kelemahan sekaligus kelebihan. Kelemahan berarti Tarbiyah bisa mempersilakan para kadernya berguru ke kalangan lain yang sama-sama memperjuangkan Islam, dan mumpuni bicara dalam satu kajian keilmuan.


Tarbiyah menjadi titik pijak berkiprah dengan tetap mendatangkan beragam corak keilmuan bersandarkan pada aliran Ahlu-Sunnah tentunya.


Kepercayaan diri untuk mempersilakan kadernya menimba ilmu dari macam asatidz Ahlu-Sunnah, terutama soal pemikiran, satu kelebihan sendiri bila terwujud. Sementara ini, yang ada baru langkah inisiatif beberapa gelintir kadernya, dan ini belum merefleksikan sikap jamaah.


Kebutuhan bernalar dengan berpijak pada kekuatan hati dan tingginya adab akan menjadi kekuatan Tarbiyah. Dengan demikian, kendati kaki mereka bermain di habitat politik praktis akan tetap ada pengontrol berupa kecerdasan berpikir dan mulianya adab. Akrobat dan atraksi politik yang kadang membingungkan kader, apalagi umat, bisa diminimalkan.


Yang ada satu kesatuan doktrin, tindakan, dan ijtihad politik yang lebih tersusun tanpa menghadirkan kesan tergesa-gesa. Sengaja saya awali catatan tulisan ini dengan sebuah evaluasi, sebelum masuk pada situasi kekinian terkait hiruk-pikuk suara pendukung kandidat pemilihan presiden 2014.


Soal asupan intelektual yang kurang, sungguh, dirasakan kader. Memang, tidak semua kader Tarbiyah butuh soal-soal “berat” sebagaimana yang biasa didiskusikan di kajian INSIST. Tidak mengapa. Hanya, jangan sampai melupakan fakta bahwa tiap insan ada keunikan, dan ini yang kudu teramati. Hari ini, beberapa anak muda yang pernah dibina dalam lingkunganTarbiyah perlihatkan fenomena menarik.


Tulisan ini bukan penelitian kuantitatif yang berniat menghasilkan simpulan menggeneralisasi, melainkan sekadar kajian fenomenologi dari beberapa rekan atau kenalan yang posisinya dalam relasi dengan Tarbiyah terbilang nyaris seragam. Siapa mereka? Selain pernah dibina dalam komunitas Tarbiyah semasa kuliah S1, mereka sudah perlihatkan sikap kritis dan haus wacana nalar dibandingkan umumnya rekan mereka sejamaah. Sikap kritis ini terkadang diartikan berbeda oleh jamaah, yang di kemudian hari melahirkan “pemberontakan”.


Maka, sebutan yang halus semisal “mantan” hingga yang terasa kejam seperti “pengkhianat” pun bermunculan. Muasal sebenarnya biasa saja, yakni anak muda butuh aktualisasi dan perhatian. Yang terjadi, frekuensi berpikir anggota sebaya dari Tarbiyah berbeda; mereka menganggap temannya “berbeda”, “aneh”, dan “melawan”. Jadilah stigma berbuah doa; yang awalnya keisengan ataupun cari perhatian menjadi perbuatan nyata.


Dan hari ini, ketika teman-teman mereka yang lantang mengampanyekan nomor 1, para “pembeda” itu mayoritas berada di posisi nomor 2. Saya dapati ucapan, tindakan, ulasan, analisis, atau sekadar sindiran hingga cibiran penuh kesumat dilontarkan para “mantan” kader atau binaan Tarbiyah itu kepada sebagian rekannya.


Ada yang halus ingin perlihatkan perbedaannya, ada yang terang-terangan memosisikan perlawanan. Artikulasi politik mendukung nomor 2 sebagai penegas dirinya bukan lagi kader atau bagian Tarbiyah. Semacam ungkapan: aku pilih nomor 2 maka aku bukan PKS. Karena bagi mereka, berada di barisan pendukung nomor 1 semacam keraguan untuk menyebut diri “intelektual kritisi” lantaran masih “seragam” dengan kalangan Tarbiyah. Pada sebagian individu berlaku begini: semakin dicaci ataupun dijauhi jamaah pada masa lalunya maka semakin kerasnya ia untuk perlihatkan diri berbeda dalam pilpres 2014.


Saya pikir, inilah pekerjaan klasik Tarbiyah dalam mengakomodasi potensi anak muda di tanah air. Tarbiyah kudu belajar pada Masyumi, manakala menghadapai beragam keunikan para anggotanya. Dari yang tradisional, modernis, hingga fundamentalis berbaur satu. Dari yang getol memperjuangkan syariat Islam hingga berbau sosialis berhimpun dalam bendera Masyumi. Penyeragaman sedini mungkin mestinya tidak lagi diberlakukan di Tarbiyah. Yang ada hanya penyeragaman epistemologi berpikir dan fanatisme memperjuangkan aspirasi umat.


Di sinilah pentingnya sejak awal seorang Muslim yang dididik di Tarbiyah memanfaatkan ilmunya untuk umat. Dari sini, kemungkinan lahirnya kader “brutus” (baca: pengkhianat) , tukang koar-koar di esok hari, bisa diminimalkan.


Namun demikian, bukan berarti kader kritis sekaligus berpotensi “brutus” bakal hilang sama sekali nantinya, mengingat tabiat manusia memang selalu ada saja yang menempuh arah “berbeda” dari jalan yang digariskan agama. Paling tidak, Tarbiyah bisa meminimalkan para penyuara tidak patut. Dan penting dicatat, hal ini juga berlaku bagi yang masih berpredikat kader inti, tapi perilakunya kadang tanpa sadar merugikan nama jamaah (partai) dan umat secara umum.


Semoga keseimbangan ajakan Quran agar kita pergunakan akal (berpikir), hati (bertafakur), dan aksi (bertindak) seimbang di harakah tersebut, juga segenap potensi umat lainnya di tanah air, baik dalam wadah harakah ataupun ormas. []




Kategori Ini berisi tentang Khabar Dunia Internasional


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Suara Berbeda para Mantan Ikhwah"

Post a Comment