Apa Enaknya Jadi Orang Kaya?

Banyak motivator, trainer, coach juga inspirator yang mengajak peserta untuk sukses meniti berkarir, sukses mengembangkan bisnis, bahagia membina keluarga bahkan berhasil mengalami kebebasan finansial; alias kaya. Berbagai trik dan tips diberikan agar kita mendapatkan yang kita inginkan. Berbagai langkah, kunci dan cara diberikan agar kita bisa mendapatkan kesuksesan itu. Sehingga hidup jadi enjoy karenanya.


Saya beberapa kali berkesempatan mengikuti training yang membahas hal tersebut. Mulai dari bussiness coaching, seminar karir, training motivasi bahkan workshop yang sejenis. Ada satu hal yang justru jadi pertanyaan saya. Kalau banyak orang ingin jadi orang yang kaya, mendapatkan kebebasan finansial, lantas uang itu untuk apa? Untuk siapa sukses yang kita kumpulkan? Jika hanya sekedar untuk memperkaya diri, membeli semua yang kita mau, membuktikan bahwa kita ini hebat, menunjukkan bahwa kita ini berlimpah, menurut saya sungguh kita sudah diperbudak oleh harta dan kesuksesan kita. Hal itulah yang akan menjadikan sukses kita bernilai dan akan mengembalikan gairah kerja dan bisnis kita.


Suatu hari saya pernah berkunjung ke sebuah perkampungan di daerah Jawa Barat. Memang tidak besar, tapi cukup padat penduduknya. Pikir saya, ketika berangkat dari rumah, desa tersebut sejuk, banyak pepohonan, padi menguning di sawah terhampar dan segudang bayangan keindahan alam lainnya. Saat saya memasuki perkampungan tersebut, sungguh di luar dugaan saya.


Penduduknya memang tidak jauh berbeda dengan desa tempat saya tinggal sekarang. Yang membuat saya terkaget adalah suasana desa tersebut sudah begitu panas dan gersang. Berpuluh-puluh pipa selang berseliweran dari rumah ke rumah. Hampir tiap jalan, pasti di sampingnya ada belasan selang memanjang. Dengan selang itulah penduduk di desa tersebut mendapatkan air. Karena ternyata sumur-sumur air yang mereka miliki sudah kering tak berair.


Apakah air itu gratis? Tidak. Air itu bayar. Setiap bulan setiap rumah harus membayar minimal 30-60 ribu rupiah kepada si empu air. Siapa si empu air? Apakah pemerintah setempat? Bukan. Mereka adalah orang kaya yang ada di desa itu. Merekalah yang memiliki air karena mereka memiliki sumur arteri yang tidak mungkin penduduk desa itu miliki karena mahalnya. Dari orang kaya inilah penduduk setempat mendapatkan air yang tidak setiap saat air itu mengalir. Minimal hanya 1-2 kali perhari.


Saya jadi teringat kisah sahabat Utsman bin ‘Affan. Suatu ketika kota Madinah mengalami musim kering yang berkepanjangan. Akibatnya, kaum Muslim kesulitan mendapatkan air untuk minum. Satu-satunya sumur yang masih berlimpah airnya adalah milik orang Yahudi, bernama sumur Raumah. Kaum Muslim pun rela antri dan membeli air dari sumur itu.


Ustman bin ‘Affan pun menemui sang pemilik sumur dan menawar untuk membelinya. Meski dengan tawaran tinggi, sang empunya sumur tidak mau menjualnya. Dengan alasan kalau dia memjual sumur itu, maka dia tak lagi punya penghasilan harian. Utsman pun manyampaikan tawarannya, “Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja?”


Yahudi itu kaget, “Maksud Anda?” Utsman pun menjawab, “Iya, hari ini sumur ini milik saya, besok milik Anda, lusa milik saya, besoknya lagi milik Anda.” Singkat cerita, sumur itu pun dibeli Utsman dengan harga 20.000 dirham, atau sekarang senilai dengan Rp. 1,4 M (dengan asumsi 1 dirham perak = Rp. 70.000).


Utsman pun mengumumkan kepada penduduk Madinah untuk mengambil air di sumur itu untuk persedian dua hari, karena besok sumur itu bukan lagi miliknya tapi milik Yahudi. Kaum Muslim pun mengikuti perintah Utsman dan mengambil air untuk cukup hingga esok. Apa yang terjadi? Yahudi besoknya sepi pembeli karena tidak ada lagi yang membeli air.


Yahudi itu menemui Utsman dan menawarkan untuk membeli setengahnya lagi sumurnya itu dengan harga yang sama seperti di awal. Utsman pun membelinya dengan harga yang sama. Akhirnya, sumur itu pun menjadi milik Utsman sepenuhnya dengan total harga beli Rp. 2,8 M. Lalu mewakafkan sumur itu untuk kaum Muslim


Apa yang membuat Utsman bin ‘Affan begitu rela membeli sumur itu dengan harga mahal? Kenapa ia rela mengeluarkan harta begitu banyak untuk kaum Muslim?


Ternyata, Utsman bin ‘Affan termotivasi untuk bergerak karena Rasulullah Saw bersabda terkait sumur itu, “Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapatkan Surga Allah ta’ala.” (HR. Muslim)


Subhanallah. Saya jadi tertegun di tengah desa ketika mengenang kisah ini. Kondisi yang sama tidak jauh berbeda dengan 1400 tahun yang lalu. Bedanya, saya belum mampu seperti Utsman. Ya Allah, berilah kecukupan dan kelapangan rizki bagiku sehingga aku bisa membantu saudara kami. Betapa enaknya jadi orang kaya seperti Utsman yang dengan hartanya bisa membantu sesama.


Jadi, apa enaknya jadi orang kaya? Ya, kita bisa membantu sesama. Kalau pun harta kita tak seberapa, minimal kita bisa menjadi jalan bagi orang kaya untuk membantu sesama. Bukankah itu juga pahalanya sama? Yuk Berubah, jadikan kekayaan yang dipunya bermakna dan bermanfaat untuk sesama.[]Oleh : Asep Supriatna (Inspirator Perubahan | AsepSupriatna.com)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apa Enaknya Jadi Orang Kaya?"

Post a Comment