Abu Nayla untuk Al-Mustaqbal Channel
Apakah Khilafah Islamiyah (tidak) memerangi syi’ah? Atau lebih keji lagi Khilafah Islamiyah dituduh sebagai rekayasa syi’ah? Beberapa fakta berikut dan statemen Juru Bicara Khilafah Islamiyah ini mudah-mudahan dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Senin, 23 Juni 2014, Juru Bicara Perdana Menteri Iraq, Nuri Al-Maliki, Letjen Qassen Atta mengatakan bahwa :
“Ratusan” tentara Iraq (syi’ah) telah dibunuh oleh gerilyawan Arab Sunni (ISIS) dalam serangan besar yang telah membanjiri sebagian besar negara. Pernyataan ini resmi diumumkan oleh televisi Iraq. Sumber berita dikutip dari Antara yang mengutip AFP
Jum’at, 13 Juni 2014, pimpinan syi’ah Iraq, Al Al-Sistani, menyerukan agar rakyat Iraq mengangkat senjata untuk melawan kelompok militan Sunni (Baca : Mujahidin ISIS) yang sedang menuju ke Baghdad.
Ajakan Al-Sistani untuk mempertahankan negara dari serangan kelompok militan (Baca : Mujahidin) Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) muncul setelah Presiden AS Barack Obama mengatakan tengah mempelajari semua opsi untuk menyelamatkan Irak.
“Semua orang yang mampu mengangkat senjata dan memerangi teroris, mempertahan negeri, rakyat dan tempat suci mereka, harus menjadi sukarelawan dan bergabung dengan militer untuk mencapai tujuan suci ini,” kata para pengikut Al-Sistani menyampaikan pesan sang ulama dalam shalat Jumat di kota suci Syiah, Karbala.
“Barangsiapa mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan negara, keluarga dan kehormatannya, akan mati sebagai syuhada,” tambah dia.
Al-Sistani yang sudah berusia sangat lanjut itu, meski jarang tampil di hadapan publik namun dia sangat berpengaruh di dunia Syiah dan dihormati jutaan orang. Sumber diolah dari Kompas yang mengutip AFP
Rabu, 26 Februari 2014, seorang perwira Angkatan Darat Syiah Irak (letnan kolonel) dan tiga polisi Syiah Irak dari Resimen Ketiga Brigade Reaksi Cepat (sebelumnya bernama Scorpio) tewas ketika sebuah bom pinggir jalan menghantam patroli mereka pada Selasa malam di perbatasan antara Amiriyat al-Fallujah dan Jurf al- Sakar 45 km sebelah barat laut dari Hilla seperti dilansir oleh Kantor Berita Nasional Irak.
Sebuah sumber di kepolisian Babil mengatakan kepada wartawan Kantor Berita Nasional Irak (NINA): “Bom meledak saat mereka melakukan patroli, ledakan tersebut menewaskan tiga polisi dan petugas, yang meninggal saat dibawa ke rumah sakit”
Serangan tersebut diduga dilakukan oleh Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) yang dikenal sering menggunakan serangan bom rakitan pinggir jalan untuk membunuh musuh. Sumber diolah dari NINA (Kantor Berita Nasional Irak)
Kamis, 26 Juni 2014, ulama Syiah berpengaruh di Irak Muqtada al-Sadr berjanji akan “mengguncang tanah” di bawah kaki para militan Sunni dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), di saat Perdana Menteri Nuri al-Maliki memperingatkan saingannya terhadap memanfaatkan krisis untuk melengserkan dirinya.
Sadr, yang gerakannya telah berperang selama hampir sembilan tahun dengan pasukan Amerika Serikat di Irak, juga menyuarakan pertentangannya terhadap pertemuan antara penasihat militer Amerika dengan komandan Irak dalam memerangi serangan militan, yang telah menguasai lima provinsi di Irak dan menewaskan hampir 1.100 orang serta membuat ratusan ribu warga mengungsi dan mengancam memecah-belah bangsa, seperti dilansir situs Asia One.
Pernyataan itu disampaikan Sadr saat pasukan keamanan Irak terus mengusir serangan dari para militan terhadap kota-kota dan infrastruktur, meskipun pejuang dari Suriah yang terinspirasi Al-Qaidah itu (ISIS) membuat aliansi lokal dengan kelompok jihad buat memimpin serangan di Irak.
“Kami akan mengguncang tanah di bawah kaki kebodohan dan ekstremisme,” kata Sadr dalam pidato disiarkan televisi dari kota suci Syiah di Najaf.
Sadr menjelaskan dirinya hanya bersedia mendapat dukungan internasional dari negara-negara non-pendudukan untuk tentara Irak.
Pernyataannya itu muncul beberapa hari setelah para pejuang setia kepadanya berparade sambil membawa senjata di kawasan Kota Sadr, sebelah utara Ibu Kota Baghdad, dan bersumpah untuk melawan serangan dari para militant (ISIS) yang telah menggegerkan dunia dan mengancam untuk merobek wilayah Irak.
Lalu mengapa Daulah Khilafah Islam belum menyerang Iran kalau memang mereka memerangi syi’ah?
Jawabannya sebagaimana statemen reski Juru Bicara ISIS ketika itu, Syekh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami Hafizahullah, yang dikeluarkan pada bulan Rajab 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan bulan Mei 2014.
Beliau mengatakan :
“Dan karena itu, para pemimpin Daulah Islam menyampaikan pernyataan kepada Qo’idatul Jihad sebagaimana prajurit kepada amirnya. Dengan begitu Daulah Islam berpegang pada arahan dan nasehat syuyukh al-Qaidah. Oleh karena itu, Daulah Islam tidak menghantam rafidhah di Iran semenjak dididirkan. Dan rafidhah dibiarkan aman di Iran. Dan para tentara Daulah menahan amarah yang meluap-luap, meski mereka mampu untuk mengubah Iran menjadi genangan darah. Ia menahan ini selama bertahun-tahun dan menanggung tuduhan bahwa Daulah merupakan antek Iran, musuhnya paling ia benci. Hal itu menjalankan perintah al-Qaidah dengan menjaga kepentingannya dan pelebarannya ke Iran.
Ya, tentara Daulah menahan diri dan menggigit kemarahannya selama bertahun-tahun untuk menjaga persatuan kalimat mujahidin. Maka Hendaklah Sejarah Mencatat bahwa di leher-leher Iran ada Hutang tehadap Al-Qaidah
Wallahu a’lam bis showab!
0 Response to "Benarkah Khilafah Islamiyah (Tidak) Perangi Syi’ah?"
Post a Comment