Tersesat Karena Takabur

Pembalap Takabur motor culun c 90 Oleh: Kholili Hasib


AntiLiberalNews - Mengelola hati membutuhkan perangkat-perangkat ilmu. Seorang muslim yang kehilangan perangkat tersebut, bisa dipastikan terjebak dalam persepsi diri yang menyesatkan. Salah satunya bangga diri (ujub) dan sombong (kibr).


Seseorang yang terperangkap dalam kubangan ini akan sulit menerima kebenaran – walau al-haq itu bagaikan terangnya sinar matahari di siang bolong. Untuk itu, setiap muslim wajib mempelajari trik mengelola hati. Lebih-lebih pemimpin, yang menjadi teladan umat.


Ujub dan Kibr, adalah dua sifat iblis yang saling berkorelasi. Seseorang yang sombong, pada mulanya berawal dari bagga diri. Yaitu merasa dirinya suci, dan bersih dari segala kekurangan, memandang orang lain dengan pandangan hina.


Sombong dan bangga diri disebut sifat iblis, karena iblislah makhluk Allah yang pertama kali menurunkan sifat tercela ini. Iblis awalnya makhluk Allah yang taat menghamba pada-Nya dalam waktu yang cukup lama. Namun, Allah akhirnya melaknat, mengusir dari sorga dan menyumpahinya menjadi penghuni neraka. Iblis adalah tipe makhluk yang sombong, merasa lebih mulya dari Adam as.


Manusia yang bertipikal seperti Iblis, sangat rentan pada kesesatan. Iblis mulanya menghamba pada Allah SWT, tapi ia adalah makhluk yang sombong dan dangkal ilmunya. Akhirnya ia jatuh pada kesesatan selamanya.


Demikian pula dengan Mutakabbir (Orang yang sombong). Kebanyakan orang yang sombong ilmunya tidak akan mengalami kemajuan berarti, karena sudah merasa sudah mencapai puncak paling tinggi (top of the top). Ilmu yang hakikatnya masih pada level taman “kanak-kanak”, tapi dirasa sudah mencapai tingkat doktor. Akibatnya, ‘nyanyian’ orang disekitarnya tak dihiraukan. Ia pun jatuh pada kesesatan yang nyata.


(Mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya) (QS.Al-Kahfi: 104). Rasulullah mendifinisikan Kibr dengan Bathorul haq wa ghomtu an-Nas (menolak kebenaran dan meremehkan orang lain) (HR. Muslim).

Kebenaran, apapun bentuknya dan siapapun yang menyampaikan wajib diterima dengan lapang hati. Kelapangan hati ini perlu ditanamkan dalam-dalam pada diri pemimpin, da’I atau thalibul ‘ilm. Sebab, ujub dan takabur ini biasanya menghinggapi mereka, walau sekecil apapun.


Seseorang yang baru saja mempelajari ilmu, perlu memahami isi hati kecilnya. Suatu saat kadang terbesit dalam hati bahwa ia sudah ‘alim, pandai berdalil dan menantang debat. Ibarat orang yang baru mempelajari beberapa jurus bela diri, biasanya ia menantang siapa saja untuk beradu fisik. Padalah masih kelas sabuk putih, yang masih perlu pembenahan di sana-sini.


Belajar ilmu agama juga demikian, pada fase-fase awal, sering terjatuh pada kekeliruan. Hal ini adalah wajar. Sikap yang tidak sehat adalah, menolak kritikan dan nasehat saat ia melakukan kesalahan. Oleh karenanya ia harus siap menerima masukan dan peringatan orang lain – yang kadangkala masukan itu terasa pahit tapi sebenarnya manis bila sudah merasuk hati.


Setan, tidak akan diam melihat seorang awam belajar agama. Ia tida rela ilmu dan imannya setiap waktu meningkat. Salah satu caranya, membisikkan bahwa si awam telah menjadi ‘alim, tidak perlu belajar banyak lagi, dan tidak butuh nasehat orang lain.


Setan memang selalu menggiring manusia kepada hal-hal yang berbau instan, membisikkan mimpi-mimpi indah. Menjadi orang ‘alim dalam waktu yang singkat., meraih gelar ustadz atau kyai dengan mudah dan cepat. Tidak perlu belajar Minal mahdi ila al-lahdi . Tapi cukup mengikuti traning singkat dan audisi. Setelah lolos audisi, orang-orang memanggilnya ustadz atau kyai. Jadilah ia ulama karbitan. Akibat dari cara-cara yang instan ini, ia tidak sempat mempelajari ilmu dan penyakit hati.


Tidak akan ada masalah bila, sang da’i tadi terus belajar di tengah kesibukannya berdakwah. Yang menjadi problem adalah, bila sudah merasa menjadi juru dakwah ia enggan memnyempurnakan ilmu, anti kritik, dan merasa sudah top. Imam al-Ghazali menyatakan, orang bodoh adalah orang yang merasa dirinya paling pintar.


Bagaimana bila ada orang yang ilmunya bertambah takaburnya menjadi-jadi? Salah satu sebanya menurut Imam al-Ghazali karena ia mendalami ilmu agama dalam keadaan hatinya kotor. Rajin mengaji tapi maksiat jalan terus.

Atau, niat awalnya sudah salah. Menuntut ilmu dengan niat mencari pengaruh, jabatan dan harta atau menjadi ustadz biar kaya. Dan fenomena ini agaknya sudah menjadi tren saat ini.


Lantas bagaimana menyembuhkan penyakit ujub dan takabur ini? Kesombongan dan ujub, biasanya disebabkan oleh faktor nasab, ketampanan, kekayaan dan ilmu. Untuk soal nasab, seorang muslim harus sadar bahwa semulya apapun nasab ayah atau kakek, semuanya berasal dari cairan yang hina dan dari tempat yang rendah yaitu tanah.


Sombong karena ilmu merupakan satu bentuk kesombongan yang paling dahsyat daya rusaknya – yang rumit untuk menyembuhkannya. Banyak kasus seorang ‘alim jatuh pada kesesatan karena faktor ini. Model kesombongan seperti ini butuh usaha dan niat yang sungguh-sungguh. Maka orang yang berilmu mesti harus mengetahui dua hal; pertama, kesadaran bahwa tanggung jawab ‘alim di hadapan Allah lebih berat.

Seorang ‘alim yang durhaka dengan ilmunya lebih buruk daripada orang bodoh yang maksiat. Seorang kyai dan orang bodoh yang sama-sama berzina, siksanya lebih pedih seorang kyai daripada orang bodoh. Kedua, bahwa sifat sombong itu hanya milik Allah. Makhluk lainnya tidak berhak bertakabur. Bila seseorang itu bertakabur, maka sesungghuhnya ia telah merampas hak Allah. Bagaimana Allah tidak murka dengan orang seperti ini?


Ssecara umum, Imam al-Ghazali memberi beberapa petunjuk pengobatan sebagai berikut; Yaitu, adanya sinergi atau kombinasi antara ilmu dan amal. Seorang muslim hendaknya menyadari hakikat diri dan hakikat Allah (ma’rifatullah). Hakikat manusia adalah makhluk hina. Ia dilahirkan dari sesuatu yang hina (QS. Al-Insan: 1-2). Saat lahir, ia sama sekali tidak memiliki apa-apa dan lemah. Semua kepandaian, kecerdasan dan keluasan ilmu semuanya dari Allah. Sedangkan Allah SWT adalah dzat yang serba sempurna. Dialah yang berhak sombong.


Adapun penyembuhan dengan amal dapat dilakukan dengan melatih diri menjadi orang tawadhu’, setinggi apapun ilmunya. Rasulullah SAW telah memberi teladan yang luar biasa dalam hal ini. Beliau adalah manusia yang paling mulya. Tapi, Rasulullah SAW adalah tipe pemimpin yang merakyat. Ia tak segan bergumul dengan orang-orang miskin. Dalam satu riwayat beliau sampai-sampai pernah makan di atas tanah tanpa alas bersama sahabat.

Seorang ulama’ salaf pernah melatih diri dengan makan dan ngobrol bersama para penjual di emperan pasar. Padahal ia sangat terpandang di mata umat. Hal ini dilakukannya semata-mata demi menyingkirkan sifat kibr yang hinggap di hatinya.


Melatih hidup sederhana inilah yang kadang sulit dilakukan pemimpin. Membiasakan diri dengan sesuatu yang dipandang rendah ini akan melunturkan sifat sombong dan bangga diri dalam hatinya. Semuanya tergantung pada kesedian diri, adakah kerelaan dari para pemimpin, dan juru dakwah untuk bersahaja, terbuka menerima kebenaran, merakyat, dan dekat dengan umat. Sebaliknya orang yang menutup diri, tidak jujur dan egois biasanya mudah diombang-ambingkan oleh kesesatan, dan mudah tergoda oleh harta, jabatan dan prestasi.


*Ustadz Kholili Hasib adalah anggota InPAS sebagai Koordinator Divisi Pemikiran Islam.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tersesat Karena Takabur"

Post a Comment