Syekh Abu Bakar An Najiy dalam bukunya Idarotu Tawakhus (salah satu bab) yang kemudian dialih bahasakan oleh Kholid El Bassam, pernah menjelaskan :
“Sesungguhnya teguh dalam menghadapi fitnah ini dan teguh dalam menghadapi fitnah jihad dan perang ,keduanya akan meningkatkan taraf iman seseorang dan paling berpengaruh dalam pendidikan personal dan jamaah Islam.”
Beliau melanjutkan:
“Semenjak mentari hidayah terbit pada diri seorang muslim yang hidup ditengah-tengah masyarakat, pasti selanjutnya akan menghadapi sederet ujian. bentuk dan jenis ujian dan fitnah yang akan dihadapi seseorang juga cukup beragam. Berbagai problematika dan peristiwa-peristiwa biasa yang berlalu dalam kehidupan seseorang akan terasa lebih berat dari pada sebelum seseorang mendapat hidayah, tetapi perasaannya setelah cahaya iman merasuk pada dirinya sangat berbeda jauh dengan kondisi sebelum itu. Ada fitnah istri dan harta, ada pula ujian dalam pekerjaan dan sumber rejekinya dan seterusnya. Setiap kali dia sukses menghadapi satu ujian, maka akan dituliskan titik putih dalam hatinya sesuai dengan kadar besarnya fitnah yang berhasil dia lampaui dan selama imannya tetap tinggi.”
Sayyid Quthb rahimahullah berkata :
“Jiwa-jiwa kita pasti menerima penempaan berupa bala’. Sejauh mana tekad kita untuk berperang membela yang benar, pasti sejauh itu pula akan diuji dengan ketakutan-ketakutan, suasana-suasana mencekam, kelaparan, kurangnya harta dan nyawa serta buah-buahan. Ujian seperti ini harus dijalani, supaya orang-orang yang mengaku beriman kelak mampu melaksanakan tugas-tugas akidah, sehingga akidah itu benar-benar tertancap kuat dalam diri mereka sebanding dengan beban yang harus ia emban, yang dengan itu mereka tidak akan lagi bisa melepaskan akidah tersebut begitu berbentur dengan musibah pertama. Jadi, beban-beban di sini adalah harga mahal yang harus dibayar untuk memperkuat akidah dalam diri pemiliknya sebelum ia sendiri menguatkan akidah tersebut dalam jiwa orang lain. Dan setiap kali mereka merasakan kepedihan di atas jalan tersebut, setiap kali mereka berkorban demi akidah tersebut, akan semakin kuat akidah tersebut menancap dalam diri mereka dan mereka menjadi manusia yang paling berhak menyandangnya. Lagipula, orang lain tidak akan faham sebesar apa nilai akidah tersebut, sebelum ia menyaksikan bagaimana para penyandangnya ditimpa bala’ kemudian mereka bersabar menanggungnya. Bala’ juga harus ada dalam rangka mempersolid dan memperkuat pegangan para pemilik akidah. Jadi, memang peristiwa-peristiwa dahsyat datang, tetapi di dalamnya mengandung kekuatan dan energi, akan membuka jendela-jendela dan saluran-saluran dalam hati, yang semua itu tidak akan diketahui seorang mukmin selain dengan terjun dalam berbagai peristiwa mencekam.” Demikian perkataan beliau rahimahullah.
Syekh Abu Mus’ab Al-Zarqawiy-rahimahullah-pernah menulis sebuah buku berjudul “Wa Kadzâlika `r-Rusul, tubtalâ Tsumma Takûnu Lahumu `l-‘Âqibah” yang kemudian diterjemahkan menjadi “Ujian sebelum kemenangan, demikianlah jalan para rosul”
Dalam buku tersebut beliau mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj (22) ayat 11.
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Alloh dengan berada di tepi; jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat…” (QS. Al-Hajj [22]:11)
Beliau melanjutkan, Al-Baghowî meriwatkan dalam tafsirnya, dari Ibnu Abbas ra : “Ada seorang lelaki badui yang beriman kepada Rosululloh SAW. Jika setelah masuk Islam dia mendapatkan anak dan banyak keturunan serta harta, ia berkata: “Ini adalah agama yang bagus,” lantas ia pun beriman dan teguh beriman. Tetapi ketika ia tidak mendapatkan anak, kuda piaraan dan hartanya tidak berkembang, dan tertimpa paceklik, ia berkata: “Ini adalah agama yang jelek,” setelah itu ia keluar dari agama Rosululloh SAW dan berbalik kafir serta menentang Islam.”
Imam Syâfi‘î rahimahullah pernah ditanya: “Mana yang lebih baik bagi orang beriman: diuji ataukah diberi kekuasaan (tamkîn)?”Beliau menjawab, “Kamu ini bagaimana, engkau kira dia akan diberi kekuasaan sebelum diuji?”
Dan dari Sufwan bin ‘Amrû ia berkata, Aku menjadi gubernur di Himsh, suatu ketika aku berjumpa dengan seorang kakek tua yang alisnya sudah berjuntai ke mata, ia adalah salah seorang penduduk Damaskus. Ketika sedang mengendarai hewan tunggangannya karena ingin berangkat perang, ku katakan kepadanya: “Wahai paman, Alloh telah memberimu udzur,” Maka kakek itu menyingkap kedua alisnya lalu berkata, “Wahai keponakanku, Alloh telah memerintahkan kita berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat.”
Wallahu a’lam bis showab!
M Fachry
0 Response to "Ujian Antara Jiwa Manusia Dan Sunatullah"
Post a Comment