Ramadhan lalu bisikan itu tidak sekuat sekarang. Semakin jauh dari Ramadhan semakin terasa sekali bisikan itu. Meski sekedar bisikan ternyata kita juga sering kalah. Bisikan itu benar-benar selalu menguntit dimanapun kita berada. Bisikan itu mengoda kita. Bisikan itu juga mengajak kita. Sungguh godaan dan ajakan maut. Membahayakan masa depan kekal kita kelak.
Bagi yang membaca tulisan ini, sesungguhnya juga dikuntit oleh bisikan itu. Bila tidak memiliki sensitivitas iman mungkin tidak merasakan kehadirannya. Sungguh, bisikan itu maut! Mengancam masa depan diakhirat kelak. Maka perlawanan harus kita lakukan. Upgrading ilmu dan iman harus senantiasa kita lakukan. Apalagi kita sudah terikat kontrak dengan Dia. Ya, kita sudah sepakat untuk menjadikan Dia sebagai Rabb kita dan tujuan dari segala amal.
Bisikan maut itu harus ditepis. Karena dia menuntun jalan kepada api. Api yang menyala-nyala yang akan menghancurkan tubuh kita.
“…dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208).
Permusuhan ini abadi hingga akhir zaman. Mereka tidak rela manusia menaati Rabbnya. Maka manusia yang diberi akal sudah seharusnya tidak rela dan melawan bisikan itu. Walaupun rupa-rupa bisikan yang ia diberikan. Kita harus ingat, masa depan kita di akhirat kelak.
Bisikan itu hadir…
Ketika adzan sholat terdengar, muncul bisikan, “Nanti aja sholatnya, terusin nonton TV-nya, waktu masih lama”.
Waktu mau membaca Al-Qur’an bisikan itu berkata, “Ada tugas yang belum kamu kerjakan, ngajinya setelah menyelesaikan tugas”.
Nah ketika hendak menuntut ilmu, bisikan itu berkata, “Di luar panas, enakan di rumah. Lagian sekali-kali istirahat menuntut ilmu juga boleh”.
Ketika mau sedekah, bisikan itu muncul lagi, “Tas kamu udah mau lepas kancingnya, saatnya beli yang baru”.
Nah ketika hendak puasa, bisikan itu bilang, “Puasa minggu depan aja, sekarang masih hari-hari merayakan idul fitri”.
Dan terus bisikan itu menghantui manusia hingga manusia meninggalkan amal sholeh yang dicintai Rabb-nya. Benar-benar kurang ajar syetan sang pembisik kemaksiatan ini. Sekali kita lenggah, maka dia akan berpesta pora merayakan kesuksesannya menggoda manusia. Biar pun tak terlihat, sungguh ampuh makar mereka merusak manusia. Lihatlah, maksiat telah bertebaran dimana-mana, nafsu angkara murka telah mengelabuhi manusia, iman kian tipis akibat cinta dunia. Astagfirullahal’adziim…
Ilmu yang membawa sinar terang itulah yang harus kita datangi. Sinarannya akan meneranggi jalan menuju kehidupan yang membahagiakan. Nikmat yang tidak pernah terlukis di dunia. Itulah kehidupan di Syurga yang kita idam-idamkan. Jatuh bangunnya seorang mukmin mempertahankan iman dan amal sholehnya akan Allah SWT balas dengan kenikmatan yang tiada tara. Ramadhan berlalu bukan berarti kembali ke selera masa lalu. Mari memohon kepada Dzat yang menjadi tujuan amal, sebuah permohonan agar kita bahagia dan selamat dunia akhirat. Aamiin. Wallahu a’lam bis showab.[]Oleh : Puji Astutik (Aktivis Muslimah Trenggalek Jawa Timur)
0 Response to "Bisikan Maut Yang Tak Disadari"
Post a Comment