MUI akan menyelenggarakan pendidikan kader ulama nasional dengan melibatkan ulama internasional agar mampu berdakwah di tingkat internasional dan bisa menjalin jaringan internasional.
“Kita sadar para kader ulama kita mulai mengendor sehingga MUI perlu menggerakkan kembali pelatihan kader, mulai dari tingkat kabupaten kota hingga nasional,” kata Wasekjen MUI Dr. Noor Achmad di Kantor MUI Jakarta. Dia menambahkan, para kader ulama di tingkat nasional akan diarahkan pada pendidikan kader ulama tingkat internasional dengan melibatkan ulama-ulama internasional. Melalui pendidikan itu, diharapkan nanti hasil dari pendidikan kader ulama di tingkat nasional ini sudah mulai berkiprah dan mempunyai jaringan ulama di level internasional.
Program itu sebagai bagian dari sejumlah agenda yang disiapkan melalui Rakernas MUI bulan lalu, MUI juga akan fokus pada tiga agenda pokok, yaitu tentang penguatan organisasi, perbaikan akhlak bangsa dan pemberdayaan ekonomi umat.
Sejauh ini, kata Noor Achmad, penguatan organisasi menjadi salah satu agenda utama dalam Rakernas, beberapa MUI daerah yang tidak melaksanakan Musda atau rapat yang tidak sesuai dengan ketetapan MUI harus diperbaiki, “Alhamdulillah semua taat, sehingga daru rakernas kemarin dapat disimpulkan bahwa MUI adalah oragnisasi yang solid baik dari pusat maupun ke bawah,” katanya. Hanya tersisa satu, yaitu MUI Babel yang tidak melaksanakan sesuai aturan, sehingga Rakernas meminta mereka untuk melakukan pemilihan ulang.
Achmad memastikan program perbaikan akhlak bangsa MUI akan terus berjalan, dengan meyelenggarakan TOT (Training of Trainer), di samping itu dalam waktu dekat MUI akan menyelenggarakan gerakan nasional perbaikan akhlak bangsa yang fokus pada gerakan anti narkoba, termasuk nantinya akan dipilih tema anti-korupsi setelah anti-narkoba.
Untuk pemberdayaan ekonomi, MUI akan memusatkan kegiatan itu melalui pembentukan pusat inkubasi di tujuh provinsi, di antaranya Jateng, Jatim, Kaltim dan lainnya, “Provinsi itu akan menjadi pusat inkubasi bisnis yang akan memberikan warna pada pergerakan ekonomi umat bawah,” katanya.
Menurutnya, Pusat inkubasi itu semacam pengayaan bisnis Muslim, jalan pikirannya terinspirasi hasil Rakernas kemarin, “Jangan sampai bisnis Syariah hanya terkait pada persoalan keuangan, mestinya bisa menyeluh di banyak sector, tidak hanya ritel, fashion dan keuangan, tetapi semuanya dan itu dibutuhkan pada saat era pasar bebas ASEAN,” katanya.
“Banyak tantangan juga yang muncul, misalnya sekarang ini pusat bisnis keuangan syariah di London, di perancis sudah menggali fashion untuk Muslimah, kenapa itu tidak muncul dari Indonesia?” katanya Noor Achmad. Jika semua yterlaksana, nanti diharapkan peran ulama Indonesia menjadi semakin kuat, yaitu di bidang jaringan ulama, bisnis dan pertahanan akhlak bangsa.
0 Response to "Kader Ulama MUI Diharapkan Bisa Bicara di Tingkat Internasional"
Post a Comment