Underground Tauhid–Utuy sibuk mencari. Dari lembar ke lembar. Seperti haus informasi, dia bolak-balik koran-koran yang bergelimpangan di warung kopi Mpok Atun. Bahkan koran yang tadinya jadi alas bakwan pun tak luput digeledahnya. Sampai-sampai Mpok Atun geregetan sendiri dan hampir saja menggebrak meja. “Mau lu ape sih? Segala bakwan gua lu tengkurepin semue?”
Utuy buru-buru beresin. Apa jadinya kalau Mpok Atun beneran gebrak meja. Itu bakwan bukan lagi tengkurep, malahan bisa selonjoran di atas genteng. Untungnya Utuy segera sadar. Dia pun kisut dengar Mpok Atun ngamuk.
“Begini Mpok,” sahutnya. “Aye mau cari barang sebiji dua biji info tentang haji, kenape ini koran pada bahas politik mulu. Apa emang negara bener-bener lagi gawat?”
Mendengar Utuy ngomong tentang “haji”, Mpok Atun malah ngempet ketawa. “Apa lu bilang, haji? Dasar akal bulus. Lu ke sana bukan ibadah. Tapi ngelamar jadi babu kan!”
“Yaelah,” Utuy pasrah. “Biarpun dikata miskin, tinggal di kampung. Engkong ane dulu haji, Mpok. Aye masuk turunan haji nih. Meskipun hajinya haji sertifikat tanah” tukas Utuy sambil mengingat-ingat kampung semasa kecilnya yang dulu terletak persis di selangkangan tugu Pancoran.
Haji Sabeni, Engkong Utuy, seperti halnya engkong-engkong betawi angkatan tahun jebot, memang punya cita-cita kuat buat naik haji. Rasa-rasanya, bagi orang betawi itu seumur-seumur tidak berhaji seperti belum lunas islamnya. Masih ada yang mengganjal. Takut-takut di akhirat nanti ditagih. “Kenape lu kagak mau haji, padahal lu mampu?” tanya malaikat penunggu loket surga.
Soal “mampu” itu persepsi. Begitu pula soal “kaya”, sekali lagi soal cara pandang. Jadi, apapun dibela-belain. Meski harus melego tanah yang sekarang harganya milyaran itu. Asal bisa naik haji, hidup jadi lebih tenang. Lagipula, ketika mati, manusia tidak diperkenankan bawa oleh-oleh. Apalagi sertifikat tanah. Jadi buat apa disimpan terus.
Masalahnya, Utuy sekarang tidak punya apa-apa lagi. Jangankan sertifikat tanah, akte kelahiran saja raib entah kemana. Kalau boleh dibilang, harta berharganya tinggal baju di badan. Lantas dia bingung bagaimana cara melaksanakan amanat engkongnya itu. Soalnya, sebelum Izrail “say hello” kepada Haji Sabeni, Engkong Utuy ini memang pernah berpesan. “Kalau lu mati tapi belom berhaji. Jangan harap bisa ketemu Engkong di akherat nanti,”.
Menggigilah tubuh Utuy mengingat perkataan itu. Di kepalanya bergentayangan petuah-petuah Sang Engkong. Dia jadi tak betah nongkrong di Warung Mpok Atun. Meskipun masih banyak kawan bersenda gurau. Tapi perasaannya jadi tak tenang. Lagipula saat ini hari makin gelap. Sudah waktunya kelonan.
Kopi buatan Mpok Atun yang masih anget pun ditinggal begitu saja. Tentu setelah Mpok Atun mencatat namanya di daftar bon. Kalau langsung cabut tanpa bayar, Mpok Atun sudah menyiapkan sejumlah panci gosong untuk ditimpukkan ke kepala pelanggan yang berani kabur tanpa ba bi bu. Tapi Utuy mah gentleman. Dia lebih memilih mengutang daripada membayar. Eh, maksudnya, daripada kabur.
Sesampainya di rumah, bukannya salam, Utuy malah ngeluyur langsung ke kamar. Babenya jadi bertanya-tanya, apa ini bocah habis keselek biji kopi? Sejak kapan jadi selonong boy. Lantas Emaknya malah nyautin dari dapur. “Ah babe tanggung amat, kopi mah kagak bikin keselek. Biji duren noh!”.
Sebelum tidur, Utuy getok radio bututnya biar nyala. Lalu ia mengambil kaset Bimbo koleksi babenya. Ada satu lagu yang dia suka. Judulnya “Jabal Rahmah”. Sepertinya cocok buat penggalau haji macam dia.
Sembari geletakan di kasur, Utuy terbayang wajah Sang Engkong. Maksud hati ingin merenungi perkataannya, tapi karena wajahnya amat membosankan, Utuy jadi gampang sekali terlelap tidur. Belum sempat nyamuk patroli menggodanya, roh Utuy sudah kelayapan di dunia mimpi.
“Hei anak muda! mau kemana?” tanya seorang pria tua berparas Arab dengan jenggot tebal.
Utuy menoleh kesana kemari. Tak ada warkop Mpok Atun. Tak ada pohon duren yang biasa nangkring depan rumah. Tak ada lapangan bola tempat main becekan. Tak ada langgar tempatnya belajar alif, ba, ta. Tak ada siapapun yang dikenal. Yang ada hanya hamparan pasir luas, tanpa ujung dan penuh fatamorgana.
“Dimanakah saya wahai Habib?” tanya Utuy yang memang terbiasa berkonvoi menghadiri pengajian para habib di Jakarta sambil membawa bendera segede karpet masjid. Dikiranya, orang ini masih saudara dengan Habib Munzir atau Habib Rizieq atau malah Prof. Habib ie.
“Ini Arab Nak. Apa kamu merasa kedinginan?” Pak Tua retoris.
“Iya benar. Ini suhu padang pasir. Apakah ini padang Arafah? Berarti saya sedang berhaji ya, Bib?” Utuy kegirangan. Tak disangka, akhirnya ia bisa berhaji. Meski modal dengkul.
“Iya kamu benar Nak. Lebih dari itu. Ini Haji Wada’,”
“Saya tak paham bahasa Arab wahai Habib. Apa arti Haji Wada’?”
“Mari ikut saya..” kata Pak Tua tanpa banyak komentar.
Utuy melongo. Ternyata dia diajak ke sebuah tempat berbukit. Alangkah kagetnya ia ketika melihat keramaian di bukit itu. Dalam hati Utuy bertanya, apakah para habib ini sedang tabligh akbar atau sedang apa. Dia masih bingung. Lalu dari jauh, samar-samar ia melihat seseorang berdiri di tengah kerumunan itu, sedang menyampaikan sesuatu.
Utuy bertanya lagi pada Pak Tua tadi. “Maaf Habib, tempat apakah ini? Mengapa begitu banyak orang berkumpul di sini?”
Pak Tua sigap menjawab. “Inilah Jabal Rahmah. Tempat Adam bertemu Hawa setelah berpisah 200 tahun lamanya. Inilah bukit kasih sayang. Dimana Allah turunkan rahmatnya kepada Adam. Allah pula yang mengabulkan doa Adam saat ia diturunkan ke bumi,”
“Maaf, saya tidak pernah tahu soal cerita ini, lantas doa apa yang dipanjatkan Adam saat itu?”
“Waktu itu Adam berucap, ‘Ya Allah, segala apa yang aku rahasiakan dan segala apa yang aku lakukan secara terbuka, terimalah pengaduanku. Sesungguhnya Engkau mengetahui apa saja yang ada di dalam jiwaku. Aku sadar betul atas apa saja yang engkau timpakan kepadaku dan hal itu membuatku makin iman kepada-Mu. Sehingga aku rela atas apapun yang Engkau tetapkan padaku’. Lantas Allah mengabulkan doanya. Akhirnya Adam dipertemukan di bukit cinta ini,” jelas Pak Tua secara lengkap.
Utuy manggut-manggut saja. Belagak paham atas apa yang dimaksud. Tapi dia sempat tangkap poinnya. Bahwa segala sesuatu tak luput dari pengawasan Allah. Sembari dipikirkan maknanya, sayup-sayup ia mendengar pidato orang dari kejauhan tadi,”Telah kusempurnakan Agama-mu. Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku. Dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu,”.
Sekejap kemudian, semua orang yang berkumpul dalam keramaian itu langsung meneteskan air mata. Satu sama lain saling berpelukan. Mereka menangisi. Seakan telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Utuy belum tahu sedang terjadi apa. Tapi ia segera merogoh kantongnya. Barangkali dia kehilangan dompetnya dan bisa ikut menangis bersama. Tatkala Utuy masih sibuk tentang sebab musabab kenapa orang-orang itu menangis, secara tiba-tiba seseorang yang masih terisak-isak memeluknya dari belakang dengan erat.
“Masya Allah!” Utuy tersentak, kaget. Dia langsung terbangun karena sinar matahari menyapu matanya. Hari ini kali kelima dia gagal solat subuh di masjid dalam seminggu ini.*[]
-Bokir bin Haji Abu Bokir-
0 Response to "Ke Jabal Rahmah"
Post a Comment