Agresi militer Israel terhadap Gaza menyedot perhatian warga dunia. Sejak Selasa (9/7/2014), Israel membombardir Jalur Gaza dan menyerang rakyat sipil tanpa pandang bulu. Anak-anak dan wanita banyak yang menjadi korban kekejaman Israel.
Data yang dilansir oleh Middle East Monitor (22/8/2014) menyebutkan, sekitar 2.084 rakyat Gaza tewas dan lebih dari 10.000 warga cedera dalam serangan Israel ke Gaza. Menurut sumber di Kementrian Dalam Negeri Palestina, Israel telah membom Gaza dengan 20.000 ton bahan peledak atau setara dengan enam bom nuklir. Kementrian tersebut juga menyebutkan bahwa Israel telah menggunakan senjata yang dilarang secara internasional dan rudal-rudal yang sangat eksplosif untuk menyerang Gaza.
Israel menggunakan senjata dengan kekuatan penuh dalam serangannya ke Gaza, misalnya semua jenis pesawat tempur, termasuk drone, helikopter Apache, VTOL, pesawat F15 dan F16, yang semuanya meluncurkan berbagai jenis rudal, termasuk MK82, MK83 dan MK84 yang menyebabkan terjadinya ledakan besar dan kehancuran total di wilayah sasaran.
Penargetan wanita dan anak-anak dalam agresi militer Israel ini sangat jelas. Israel menyerang mereka di mana-mana, di jalan-jalan, di rumah-rumah mereka, di sekolah-sekolah, di rumah sakit-rumah sakit, dan bahkan di pantai. Israel membunuh dan menghancurkan tanpa rasa kemanusiaan.
Diamnya Penguasa Muslim
Pemerintah Venezuela mengumumkan bahwa mereka akan mengasuh anak-anak yatim piatu Gaza akibat serangan zionis Israel. Presiden Venezuela, Nicholas Maduro mengatakan bahwa pemerintahnya telah menyiapkan rumah tinggal khusus untuk anak-anak yatim piatu Palestina di Gaza. Rumah tersebut akan diberi nama dengan nama pendahulu Nicholas yaitu Hugo Chavez.
Pengumuman bahwa Venezuela akan mengasuh anak-anak Gaza itu muncul setelah sebelumnya Nicholas bertemu dengan Menteri Luar Negeri Palestina, Riyadh al-Maliki, Kamis (14/8).
Lantas apa yang dilakukan oleh penguasa muslim? Para penguasa muslim lebih banyak diam dan menyaksikan penderitaan Rakyat Gaza. Mereka hanya menggalang doa bersama dan bantuan makanan dan obat-obatan. Meski semua itu dibutuhkan, tetapi itu tidak akan menyelesaikan persoalan Gaza secara tuntas. Persoalannya adalah adanya pendudukan Israel terhadap Palestina. Selama pendudukan Israel tetap ada, selama itu pula kebiadaban Israel terhadap rakyat Gaza tidak akan pernah berakhir. Maka semestinya yang dilakukan oleh para penguasa muslim adalah mengerahkan tentara-tentaranya dan segenap kekuatannya untuk mengusir Israel dari tanah Palestina, yang berarti tanah kaum muslimin.
Sestinya umat Islam malu dengan sikap penguasa kafir yang berupaya mengasuh anak Gaza. Padahal mereka adalah orang-orang kafir, namun kenapa mereka terlihat lebih peduli ketimbang penguasa muslim?
Penguasa Mesir hanya membuka perbatasan untuk menolong yang cidera dalam beberapa jam lalu ditutup lagi. Nasionalisme telah menghalangi setiap negara untuk mengirim bantuan tentara karena prinsip Politik Luar Negeri yang dianut, kalaupun mengirim tentara maka tunduk dalam genggaman PBB yang mendukung eksistensi Israel.
Sikap penguasa muslim yang pengecut jelas bukan karakteristik pemimpin Islam. Pemimpin dalam Islam semestinya memiliki kepribadian yang istimewa, yaitu kepribadian Islam, kepribadian yang terpancar dari pola pikir yang cemerlang dan pola sikap yang benar, sesuai arahan Sang Pencipta manusia dan alam semesta ini. Kepribadian seperti ini, senantiasa akan melahirkan perilaku yang benar, perilaku shaleh dan takwa. Mereka juga akan senantiasa menebarkan kebaikan kepada banyak orang.
Lebih dari itu, mereka akan selalu aktif menciptakan arus perubahan di masyarakat menuju ketakwaan kepada Sang Pencipta. Setiap orang yang berinteraksi dengannya akan mendapatkan celupan takwa. Sehingga apabila mereka memimpin, mereka akan menggunakan wewenang kepemimpinannya untuk mencelup orang-orang yang dipimpinnya menjadi orang-orang takwa, baik dalam skala individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Dengan kata lain, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya akan menghantarkan orang berbondong-bondong menjadi takwa. Sebab kebijakannya selalu dilahirkan dari pemikiran yang cemerlang, pemikiran yang mampu menyelesaikan masalah manusia dengan cara yang sebaik-baiknya, berdasarkan petunjuk Allah SWT, Sang Pencipta manusia dan alam semesta.
Gambaran pemimpin yang memiliki kepribadian ”istimewa” seperti yang disampaikan di atas, tidak hanya membuat kagum rakyatnya, bahkan musuh-musuhnya pun kagum dengannya.
Maka, pemimpin seperti ini tidak akan mendzalimi kaum muslim, saudaranya. Ia tidak akan membiarkan tanah Palestina dirampas oleh Zionis Israel. Ia tidak akan berdim diri menyaksikan pendudukan Israel, tetapi ia akan menjadi garda terdepan dalam membela Palestina dengan mengerahkan segenap kekuatan untuk mengusir Israel dari tanah Palestina, yang notabene adalah tanah kaum muslimin.
Tragedi Gaza : Persoalan Aqidah, Syariah dan Politik
Dubes Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi pernah menyatakan bahwa persoalan Palestina bukanlah persoalan agama tetapi persoalan kolonial dan ketidakadilan. Padahal persoalan Palestina itu lekat dengan persoalan aqidah, syariah dan juga politik. Artinya pernyataan Dubes Palestina tersebut adalah sesuatu yang mengada-ada.
Secara Aqidah, Masjidil Aqsa di Palestina adalah tanah suci ketiga bagi kaum muslimin. Nabi SAW pernah bersabda : “Tidak ada perjalanan yang sengaja ke masjid, kecuali ke Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa”.
Secara Syariah, Islam telah mengharamkan kolonialisme dan pembantaian. Sementara Israel telah melakukan kedzaliman yang luar biasa terhadap warga Palestina. Mereka melakukan penjajahan/pendudukan dan pembantaian terhadap warga Gaza.
Secara Politik, sejak pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra, kaum muslimin diamanahi melindungi kaum Nashrani dari ancaman Yahudi dengan mencegah Yahudi tinggal di Palestina. Hal tersebut tertuang dalam Perjanjian Umariyah/Perjanjian Illiya tatkala penduduk Palestina yang semuanya Nashrani menyerahkan secara sukarela tanahnya kepada kaum muslimin.
Dalam Perjanjian Umariyah disepakati bahwa selain Umat Islam, hidup juga berdampingan secara damai umat Nashrani di Palestina dan Yahudi tidak boleh tinggal di Palestina.
Selamatkan Gaza dengan Khilafah
Sesungguhnya tragedi Gaza adalah buah dari konspirasi Barat Imperialis untuk menghancurkan Islam dan Kaum Muslimin, dengan menggunakan solusi national state/kemerdekaan bagi palestina. Padahal nation state atau negara bangsa/nasionalisme justru memecehbelah kesatuan kaum muslimin sehingga menjadikan banyak negeri-negeri muslim menjadi jajahan Kafir Barat Penajajah.
Solusi ini juga akan menjauhkan kebutuhan umat terhadap persatuan kaum muslimin dalam naungan Khilafah Islamiyah. Padahal Khilafah Islamiyah adalah satu-satunya solusi bagi setiap persoalan, termasuk persoalan Gaza. Khilafah pun merupakan kewajiban yang telah Allah bebankan kepada kaum muslimin untuk menegakkannya.
Tegaknya Khilafah akan menyelesaikan persoalan Gaza secara tuntas. Khilafah yang akan melakukan jihad ke Palestina. Jihad adalah solusi shohih yang diwajibkan Allah SWT untuk direalisasikan oleh umat Islam. Jihad yang dilakukan secara personal atau kelompok untuk menyelamatkan Palestina masih belum cukup. Persoalan Palestina sangat membutuhkan pengerahan tentara-tentara dari negeri-negeri muslim seluruh dunia yang berjumlah besar untuk bersatu menyelamatkan Palestina sebagai bagian dari masalah kaum muslimin. Sehingga sangat mendesak untuk dicabutnya Nasionalisme dari benak kaum muslimin, baik rakyat, tentara maupun penguasa.
Kewajiban jihad berlaku tidak hanya atas negeri terdekat, namun juga kewajiban muslim di negeri lain terhadap problem umat. Karena bagaimanapun Gaza adalah saudara seakidah dimana kia memiliki kewajiban untuk membelanya.
Umat Islam saat ini memiliki kewajiban untuk mempersiapkan umat menegakkan Khilafah. Bila negeri-negeri bersatu dalam Naungan Khilafah Islamiyah, umat akan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menaklukan Israel maupun pendukungnya. Umat memiliki tentara dalam jumlah besar, peralatan perang dan senjata yang berimbang bahkan lebih.
Khilafah Islamiyah adalah perisai (junnah) bagi rakyatnya, tidak ada satu wilayah maupun individu rakyatnya, termasuk perempuan maupun anak2, yang dibiarkan terbunuh. Perempuan yang melahirkan generasi dan anak-anak calon pemimpin di masa mendatang mendapatkan perlindungan keamanan yang utuh dalam naungan khilafah. Peperangan yang dilakukan oleh Khilafah beradab dibandingkan perang saat ini di era modernisasi penuh dengan kebiadaban. Lihat bagaimana Isarel menyerang penduduk sipil dan orang lemah, rumah ibadah, sekolah, pasar, dll.
Ya, hanya Khilafah yang akan menyelesaikan persoalan Gaza secara tuntas. Selamatkan wanita dan anak-anak Gaza dengan Khilafah Islamiyah. Wallahu a‘lam.[]Oleh : Lilis Holisah (Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Ma’had al-Abqary Serang – Banten)
0 Response to "Selamatkan Anak-Anak Gaza dengan Khilafah"
Post a Comment