Abu Mariya Al-Qahthani, Komandan Asal Irak yang Konsen pada Jihad Suriah

Nama Abu Mariya Al-Qahthani sudah dikenal sebagai penanggung jawab syar’i Jabhah Nusrah. Dua puluh empat jam waktu yang ia punyai tidak hanya dihabiskan sebagai penasihat, Abu Mariya merupakan komandan militer berpengalaman yang langsung turun ke medan jihad. Berbagai pengalaman langsung di medan jihad, membuatnya diberi amanah sebagai penanggung jawab di wilayah timur secara keseluruhan, yaitu di wilayah Hasakah dan Deir Azzour. Abu Mariya juga dikenal mempunyai pengalaman di berbagai pertempuran yang penting.


Melihat perannya yang begitu signifikan dalam kancah jihad, marilah kita kenali tokoh jihad fenomenal satu ini..


Riwayat Abu Mariya Al-Qahthani


Abu Mariya lahir di sebuah desa di selatan Mosul yang bernama Haraarah. Sebuah desa yang dimuliakan karena didiami oleh kabilah Al-Jabur Fahd Dandan dari silsilah Al-Qahthan. Ia lahir dari seorang ibu dan memiliki 8 saudara. Diasuh dan dibesarkan oleh ayahnya yang bernama Abu Maysar atau Abu Maysarah. Ayahanda Abu Mariya dikenal sebagai orang yang berprinsip. Ia tidak mau mengadakan interaksi dengan tentara Ba’ats karena dalam pandangannya semua antek-antek Ba’ats telah kafir.


Ayah Abu Mariya, seorang pengagum Sayyid Quthb ini mengharamkan televisi serta gambar. Karena sikapnya itu, sekaligus kebenciannya terhadap Ba’ats, ia dipenjarakan oleh rezim. Bahkan bibinya, saudara perempuan ayahnya juga tidak luput dari kekejaman rezim Ba’ats. Ia dijebloskan ke dalam penjara selama 4 tahun dikarenakan anaknya termasuk penentang rezim.


Abu Mariya kecil dikenal mempunyai ingatan memori yang kuat. Tak heran jika ia memulai pendidikan di usia 4 tahun. Pemimpin jihad Irak yang tersohor ini melanjutkan pendidikan lanjutan di Qayyarah dan masuk pelatihan olahraga khusus bela diri di Mosul.


Perannya Dalam Dunia Jihad


Sebenarnya sosok Abu Mariya Al-Qahthani masih ditutupi dan dikelilingi tembok misteri yang tinggi. Siapa orangnya dan di mana posisinya tetap menjadi rahasia. Demikian juga, tokoh penting lainnya sekaliber pemimpin atau amir Jabhah Nushrah, Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani dan komandan militer Abu Samir Al-Urduni tetap menjadi rahasia. Banyak orang yang masih mempertanyakan tentang tokoh-tokoh kunci Jabhah Nushrah ini. Namun, misteri tokoh-tokoh ini sedikit memudar seiring bermulanya fitnah antar faksi-faksi mujahidin di Suriah.


Mereka sangat mencintai picu senjata dan kebaikan, dengan keberanian saat peperangan berkecamuk Terjun, jatuh dan bersenjatakan aqidah Tidak mengharapkan selain syahadah

Mereka sangat mencintai picu senjata dan kebaikan,

dengan keberanian saat peperangan berkecamuk

Terjun, jatuh dan bersenjatakan aqidah

Tidak mengharapkan selain syahadah



Abu Mariyah Al-Qahthani atau yang dikenal bernama Maisarah Harari atau Maysar ‘Ali Musa Abdullah Al-Juburi, dulunya adalah salah satu petinggi senior di ISI (Islamic State of Iraq). Tetapi dalam perjalanannya, ia memutuskan hubungan dengan ISI sebelum dimulainya krisis Suriah. Maysar Juburi atau lebih dikenal dengan nama Abu Mariya Al-Qahthani digambarkan sebagai sosok komandan dan pemimpin jihad yang tersohor di Irak. Sehingga Amerika Serikat pada 11 Desember 2012 – karena ketakutannya – melalui Departemen Keuagannya memberikan putusan akan menghukum dua warga Irak. Salah satu dari dua orang Irak yang dicari-cari AS ini adalah Maysar Ali Musa Abdullah Al-Juburi atau Al-Qahthani.


Al-Qahthani menjadi target incaran AS dan ditetapkan sebagai teroris global oleh Departemen Keuangan AS karena disinyalir bekerja dengan musuh bebuyutan AS saat ini, Al-Qaeda. Ia merupakan tokoh Jabhah Nushrah yang notabene adalah sayap Al-Qaeda di Suriah. Sikap AS dengan koalisinya menyerang IS sampai detik ini hanyalah sebagai kedok untuk memerangi Al-Qaeda dengan membuat istilah “Kelompok Khurasan”.


Adapun rincian keputusan Depkeu AS ini, memberitakan bahwa pada akhir 2011 Al-Qahthani pindah dari Mosul, Irak menuju Suriah untuk mengambil keuntungan dari krisis Suriah. Situasi chaos di Suriah ini dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi Al-Qaeda, sekaligus membentuk kelompok jihad dengan manhaj yang sama dengan Al-Qaeda. Sehingga pada pertengahan 2012, Al-Qahthani menjadi penanggung jawab syar’i sekaligus komandan militer Jabhah Nushrah di wilayah timur, di samping mengelola sebuah kamp pelatihan bagi anggota JN.


Bergabungnya Al-Qahthani ke jamaah yang berdiri pada 24 Januari 2012 ini dianggap sebagai bentuk pengkhianatan oleh ISIS. Telah diketahui bahwa sebelumnya Al-Qahthani adalah salah satu pemimpin jihad yang dikenal di Irak. Ketika ISI melebarkan sayapnya ke Suriah hingga berubah nama menjadi ISIS, ternyata Al-Qahthani lebih memilih bergabung ke JN pimpinan Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani. Hingga dalam perkembangannya, pada 1 Ramadhan 1435 H kemarin ISIS, telah berubah menjadi Islamic State (Daulah Islam).


Al-Qahthani lebih memilih tetap setia berbaiat di bawah Al-Qaeda yang dipimpin Aiman Az-Zawahiri. Dikarenakan peran aktifnya di Jabhah Nushrah dan terkesan bertindak antagonis terhadap IS, serta penolakan JN terhadap kepemimpinan Al-Baghdadi, maka Al-Qahthani menjadi salah satu yang dijadikan target upaya pembunuhan di Deir Azzour. Puncaknya adalah pada bulan November 2013, sebuah bahan peledak ditanam oleh ISIS di rumah keluarga dekatnya di Deir Azzour. Namun operasi itu gagal.


Peran Aktif Abu Mariya Al-Qahthani di Jabhah Nushrah


Dalam jajaran petinggi JN, Al-Qahthani termasuk orang yang dekat dengan amir JN sekaligus menjadi orang kepercayaan. Mujahid asli Irak ini juga menjadi penghubung pribadi Al-Jaulani dengan para pemimpin jamaah lainnya yang sama-sama berjuang memerangi rezim Syi’ah Bashar Assad. Selain di medan jihad sebagai tokoh penting yang patut diperhitungkan, di dunia maya pun Al-Qahthani melanggangkan eksistensinya lewat twitter dengan akunnya yang bernama @alghreebmohajer yang memiliki follower lebih dari 54.000. Namun saat ini, tampaknya twitter tersebut tidak aktif dan berganti dengan akun @shvmshvm86 .


Twitter Abu Mariya Al-Qahthani dengan nama akun @shvmshvm86

Twitter Abu Mariya Al-Qahthani dengan nama akun @shvmshvm86



Al-Qahthani adalah seorang tokoh penting di kancah jihad dan sebagai komandan lapangan, baik ketika di Irak dan Suriah. Ia juga seorang duta bagi Jabhah Nushrah untuk jamaah-jamaah yang lain, sekaligus seorang syaikh atau ulama kharismatik yang sering melayangkan nasehat dan statementnya di dunia maya. Memang dunia maya atau internet masa kini menjadi corong yang kuat dalam pergerakan jihad. Bak pisau bermata dua yang mampu memberikan dampak positif dengan kemajuan dan perkembangan dunia jihad, atau dapat menjadi perusak semua yang telah tertata rapi.


Mantan petinggi ISI ini pernah mengeluarkan statemen yang berisi pesan kasih sayang kepada penduduk Syam. Di saat ada jamaah yang berjuang di Syam untuk memperjuangkan kelompoknya, ia menegaskan bahwa Jabhah Nushrah ini berdiri dalam rangka membela penduduk Syam semata. Dalam tweetnya ia menambahkan, “Sesungguhnya kami berhijrah untuk membela keluarga kami di bumi Syam, bukan untuk membela kepentingan jamaah-jamaah, atau organisasi-organisasi. Karena peperangan kami ini adalah perang di jalan Allah, bukan di jalan jamaah, darah ahlus sunnah adalah mulia.”


Al-Qahthani juga mengeluarkan statemen ketika deklarasi khilafah Daulah Islam pada 1 Ramadhan 1435 H silam. Al Gharib Al Muhajir Al Qahthani (nama akun twitter resmi Al-Qahthani) menolak khilafah versi ISIS dan menyebutnya sebagai “imajiner.” Menurut Al Qahthani, ISIS sebelumnya telah gagal mendapatkan dukungan dari “banyak siswa ilmu [Islam] dan para pemimpin.” Dengan demikian, kelompok ini sekarang telah terobsesi dengan gagasan tentang khilafah, berharap memperoleh legitimasi yang lebih kuat daripada ketika ia masih hanya berbentuk sebuah negara.


Begitu juga tindakan IS yang telah menculik ribuan orang di Suriah, termasuk aktivis pemberontak dan oposisi, melakukan sidang harian, serta mengeksekusi pelaku di depan publik di daerah-daerah yang berada di bawah kendalinya. Juga saat syahidnya beberapa petinggi Ahrar Syam yang didalangi orang tak dikenal dengan sebuah operasi tingkat tinggi. Al-Qahthani dalam statemennya memuji Ahrar Syam, bahwa mereka adalah kumpulan ulama dan penuntut ilmu, salah satu yang disebut dalam pernyataannya adalah Syaikh Al Alim Al Mujahid Abu Yazin.


Para ulama dan penuntut ilmu yang bergabung dalam Ahrar Syam tidak pernah mencela manhaj dan pimpinan Jabhah Nushrah, bahkan mereka begitu dekat dengan Syaikh Al-Fatih Al-Jaulani. Al-Qahthani juga memuji bahwa tidak pernah ada komandan yang memiliki ilmu syari dan kesadaran politik terhadap medan jihad kontemporer seperti komandan Harakah Ahrar Syam. Di akhir statemennya, Al-Qahthani memberi nasihat dengan mengatakan, “Karenanya kami ingin mengatakan kepada saudara-saudara kami di Harakah Ahrar Syam, bersabarlah dan sempurnakanlah perjalanan kalian karena sebentar lagi fajar akan menyingsing, dengan izin Allah.”


Statemen terbaru yang dilontarkan Al-Qahthani adalah ketika menanggapi dukungan cabang Al-Qaeda di Yaman (AQAP) terhadap Daulah. Pada dasarnya Al-Qahthani mendukung pernyataan AQAP tentang bahaya kampanye tentara salib. Tetapi yang disayangkan komandan lapangan tertinggi ini adalah dukungan AQAP kepada IS (Islamic State), sehingga menggambarkan jamaah “Daulah” bukanlah Khawarij. Karena hal ini dapat diartikan bahwa AQAP mendukung kelompok Al-Baghdadi dalam menumpahkan darah yang diharamkan sebagaimana terjadi di Syam, dan mereka (Daulah IS) telah membunuh para mujahidin dan para pemimpinnya.


Begitu pula nihilnya pernyataan dari AQAP yang berisi kecaman kejahatan kelompok Al-Baghdadi yang telah membunuh para mujahidin dan para pemimpin terbaik. Menurut Al-Qahthani ini, adalah suatu sikap yang tidak memiliki kejelasan karena AQAP adalah bagian dari Al-Qaeda.


Al-Qahthani juga menyebutkan beberapa tindakan IS yang seharusnya disikapi AQAP dengan tegas. Yaitu ketika IS menentang Syaikh Al-Mujahid, DR Ayman Az-Zawahiri dan menuduhnya dengan tuduhan palsu. Juga ketika IS mengumumkan kekhilafahan dan menyatakan semua kelompok mujahid dibatalkan dan tidak sah –termasuk AQAP sendiri—serta memecah belah jajaran mujahidin dan membunuhi mereka. Yang terakhir adalah sikap IS yang telah mengkafirkan para mujahidin di Jabhah Nushrah dan Ahrar Syam.


Hal yang ditakutkan Al-Qahthani adalah jika sikap AQAP ini diikuti pengikutnya. Padahal pernyataan AQAP yang kurang jelas ini tidak dapat mengubah sikap jamaah lain secara keseluruhan kepada IS. Tentu hal ini akan membingungkan para pengikut AQAP atau justru para tentara dan pendukung AQAP akan mengikuti manhaj IS dalam mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka.


Inilah isi statemen pertama yang dilayangkan Al-Qahthani berkenaan sikap AQAP kepada IS. Selanjutnya disusul dengan pernyataan kedua, yaitu masih dalam perihal yang sama. Statemen terbaru yang berbentuk kultwit ini diberi judul “Fakta-Fakta Yang Hilang”. Di dalamnya berisi fakta tentang khawarij yang sebenarnya dan telah memainkan perannya dalam jihad Syam. Al-Qahthani menegaskan bahwa pernyataan AQAP tentang IS dibantah dengan risalah Syaikh Abu Dujanah Al-Basya dan makalah Al-Ustadz Ahmad Faruq yang berisi paparan dan telah mewakili manhaj Al-Qaeda serta menyatakan bahwa pernyataan yang bersumber dari cabang-cabang Al- Qaeda tidaklah mewakili manhaj Al Qaeda.


Cuilan isi dari risalah Syaikh Al-Basha itu adalah gambaran dari kekhilafahan Al-Baghdadi yang dibangun di atas dasar pembatalan perjanjian, kedustaan dan mengkafirkan kaum muslimin. Ia juga memperingatkan mujahidin agar tidak terjebak ke dalam sikap ghuluw, dan mengajak para ahli ilmu agar terus menjelaskan kebenaran. Orang kepercayaan Al-Jaulani ini juga menganalogikan dengan mustahilnya menyatukan antara tentara Ali dengan tentara Ibnu Muljam di dalam satu pasukan. Hal ini tidak mungkin karena para ghulat hanya akan menimbulkan bahaya dan keburukan bagi kaum muslimin, khususnya para mujahidin yang terjun langsung di medan jihad.


Al-Qahthani juga mengungkapkan strategi AS dengan koalisi salibisnya. Dengan berbagai dalih AS menggunakan IS untuk menghancurkan musuh bebuyutan yang sebenarnya, yaitu Al-Qaeda. Tentu sudah kita ketahui bersama bahwa AS menamakan kelompok yang diserang di Suriah dengan sebutan “Kelompok Khurasan”. Jadi, AS menggunakan IS untuk menghancurkan Al-Qaeda di Suriah –Jabhah Nushrah dan yang berafiliasi dengannya—. Seolah AS melemparkan batu tetapi dengan tangan pihak lain. Di sisi lain AS mengkader sebuah kubu agar kubu tersebut dicap sebagai shahawat, dan ketika kedua kubu ini habis kekuatannya, Amerika akan selamat dan tidak mengalami kerugian sedikitpun.


AS pun mulai menyadari bahwa IS akan menjadi penyelamatnya dalam keterpurukan ekonomi yang melilit dan menghancurkan Islam. Maka Amerika pun segera menyelamatkan IS dan mendukungnya dengan cara melakukan perjanjian dengan Iran, yang isinya memberikan senjata dan harta untuk menggempur Al-Qaeda di timur Suriah yang menjadi kantong personal dan sumber pendanaan bagi Al Qaeda. Karena ia meyakini apabila para mujahidin di timur Suriah berhasil memenangkan pertempuran melawan IS, kemudian Bashar tumbang dan negara Rafidhah runtuh, lalu negara sunni berhasil berkuasa mulai dari Bashrah hingga As-Sahil, maka bahaya yang sebenarnya akan terjadi. Inilah rencana licik AS dibalik koalisi salibisnya.


Juga jatuhnya kota Homs, di mana saat itu Jabhah Nushrah bersama beberapa faksi ahlus sunnah lainnya tengah mengumpulkan kekuatan untuk bergabung ke dalam pertempuran Homs yang dikomandoi oleh Shalih Al-Hamawi. Para mujahidin yang menjalankan pertempuran tersebut mengalami kekurangan pasukan dan ISIS berhasil menggagalkan pertempuran tersebut dengan cara menyerang markas-markas Jabhah Nushrah di Deir Azzour dan Hasakah. Di mana para mujahidin yang menjaga perbatasan dan berbatasan langsung dengan wilayah PKK dibunuh dan ditawan, maka jatuhlah wilayah Tel Hamis dan ISIS membiarkan PKK secara leluasa membunuh dan merampas harta.


Abu Mariya Al-Qahthani di Deir Azzour

Abu Mariya Al-Qahthani di Deir Azzour



Statemen berupa kultwit ini ditutup dengan analogi para khawarij terdahulu yang telah mengkafirkan Ali dan Muawiyyah Radhiyallahu Anhuma dengan alasan menolak tahkim, dan pada hari ini para ghulat mengkafirkan mujahidin dan para komandannya. Bahkan di antara mereka ada yang mengkafirkan Syaikh Ayman Az-Zawahiri. Ada juga di antara mereka yang menuduh beliau telah menyimpang, ada pula yang mencaci maki Syaikh Usamah. Pendahulu mereka jugalah yang telah membunuh Utsman dan Ali, dan ini banyak disebutkan di dalam sejarah.


Inilah bentuk kepedulian Abu Mariya Al-Qahthani terhadap berbagai perkembangan jihad yang ada. Di samping ia begitu sibuk di lapangan sebagai komandan, ditunjuk pula sebagai penasehat sekaligus penanggung jawab syar’I, ternyata Al-Qahthani juga menyempatkan untuk memberikan statemen lewat kultwit, di mana hal ini diharapkan dapat memberikan penjelasan dan obat kebingungan bagi para mujahidin, serta umumnya kaum muslimin.


Penulis: Dhani el-Ashim


Sumber :



  1. http://ift.tt/12mJQ9m

  2. http://ift.tt/Od95DF

  3. http://ift.tt/1sBpfcQ

  4. http://ift.tt/1xfycq2

  5. http://www.syamina.org/

  6. http://ift.tt/1tdR208

  7. http://ift.tt/1xfyfCh

  8. http://orient-news.net/

  9. http://ift.tt/1xfycq7


The post Abu Mariya Al-Qahthani, Komandan Asal Irak yang Konsen pada Jihad Suriah appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Abu Mariya Al-Qahthani, Komandan Asal Irak yang Konsen pada Jihad Suriah"

Post a Comment