As Sahab Media adalah Production House yang dimiliki oleh Al-Qaeda. Situs ini dibuat untuk mempublikasikan pandangan, kebijakan, dan pemikiran Al Qaeda, di samping untuk memprosikan Jihad Global ke seantero dunia. Berbagai rilis video dan tulisan sudah dipublikasikan sejak 200 yang bermula menggunakan siaran TV Arab layaknya Al Jazeera atau Al Arabiya. Rilisan berisi tentang berbagai operasi serangan di wilayah-wilayah di mana Al Qaeda berada, selain itu juga membeberkan tentang manhaj perjuangan yang dijalani olehnya. Sebagaimana salah satu rilisan di bawah ini, yang berjudul “Falnakun Kan Nahlah “ (Jadilah Kita Seperti Lebah).
Dalam rilisan kali ini, Al Qaeda menegaskan kembali manhaj yang dipeganginya sejak dahulu. Dipaparkan oleh Ustadz Ahmad Faruq, yang diindikasikan sebagai Jubir Al-Qaeda Pusat. Dalam tulisannya terdapat 17 poin yang bisa menjelaskan manhaj Al Qaeda sebenarnya. Menariknya, Al Qaeda yang dinilai banyak orang sebagai organisasi jihad yang ekstrim, justru dalam manhajnya berusaha untuk bersikap lemah lembut dan rendah hati terhadap umat Islam. Di samping itu benar-benar memprioritaskan untuk menjaga kehormatan dan darah seorang Muslim. Kaedah-kaedah hokum harus dijaga, kemudian disesuaikan dengan realitas yang ada.
Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda baca dan pahami sendiri tentang Manhaj yang dipegangi Al Qaeda. Sejalan tidaknya dengan Manhaj Rasulullah, Anda sendiri yang bisa menilainya.
فلنكن كالنحلة
Jadilah Kita Seperti Lebah
Curahan hati untuk saudara saudara mujahidin di tengah badai fitnah dan ujian-ujian yang terjadi di berbagai medan jihad akhir-akhir ini.
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam atas Rasulullah wa ba’du:
Kepada saudara-saudaraku yang tercinta yang teguh di garis depan medan perjuangan dan ribath, yang sabar di dalam kesulitan, musibah dan dalam kesusahan, yang mempersembahkan jiwa mereka di jalan Allah. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Telah diriwayatkan dari hadits hasan dari Nabi kita –Sallallahu Alaihi Wa Sallam—sesungguhnya Beliau bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ
“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam shahih al-jami’ as-shaghir, no: 10785)
Shalawat atas Nabi kita dan kekasih kita Muhammad dengan seribu kali shalawat dan salam serta penghormatan …… karena Beliau telah merangkumkan beberapa sifat yang terpenting yang ada pada diri orang mukmin dengan kata-kata yang ringkas namun mengandung makna yang sangat luas.
Dan nasehat terpenting yang bisa kita ambil dari hadits ini adalah seorang mukmin yang sempurna –yang terkumpul padanya sifat sifat yang terpuji— bersungguh sungguh dalam hal kebaikan dan perbaikan. Banyak manfaatnya dan sedikit keburukannya, tidak muncul dari batin dan lahirnya kecuali sikap yang baik, dan akan menjadi rahmat bagi alam dan seluruh makhluk lainnya.
Seorang mukmin memiliki kemiripan dengan lebah dalam beberapa hal:
1. Dia terbebas dari hal-hal yang hina dan omong kosong sebagaimana seekor lebah yang jauh dari hal-hal yang kotor.
2. Seorang mukmin berusaha dengan bersungguh-sungguh agar tidak ada yang ia perbuat kecuali bermanfaat untuk makhluk lain. Seperti halnya tidak ada yang keluar dari perut lebah kecuali minuman yang bermanfaat yang berbeda-beda warnanya, di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Semua itu tidak lain hanyalah dengan kesadaran seorang mukmin bahwasanya dia adalah bagian dari sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Agar menjadi pembimbing bagi mereka menuju jalan yang lurus dan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka serta mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyyah menuju cahaya syariat yang maha pengasih.
3. Dan seorang mukmin memiliki kemiripan dengan lebah dalam hal kerendahan diri dan sedikitnya keburukan yang ada padanya, sebagaimana seekor lebah (jika hinggap di atas dahan untuk menghisap madu, ia tidak mematahkannya) begitu juga setiap mukmin …… lemah lembut, dekat dan mempermudah kepada saudaranya sesama mukmin. Tidak sedikitpun membahayakan mereka ataupun menyakiti mereka, lemah lembut dan berkasih sayang terhadap mereka, dan menjadi penasehat bagi mereka tanpa berlaku curang.
Wahai orang-orang yang aku cintai, maka hendaknya kita menjadi seperti lebah. Apabila kita tidak bisa menjadi seperti lebah maka minimal hendaklah kita seperti pohon kurma. Karena pohon kurma memiliki sebuah keistimewaan! Disebutkan dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar –Radiyallahu’anhu—bahwasannya Rasulullah SAW memberikan sebuah permisalan yang lain –tanpa mengurangi kelembutan dari permisalan yang pertama—dalam menjelaskan permisalan seorang mukmin sebagaimana sabda beliau:
“Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti pohon kurma, kamu tidak mengambil sesuatu darinya kecuali akan memberimu manfaat.”( Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Al Albani – Rahimahullah –, No. 2285].)
Dan pohon kurma memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan pohon-pohon yang lain, dari buahnya yang bisa dikonsumsi dan bisa dimanfaatkan dalam fase-fase pertumbuhannya dari mulai tumbuh hingga mengering. Dari kayunya, daunnya, ranting-rantingnya, dan juga bijinya semuanya bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Kemudian dari keindahan pohonnya, keindahan buahnya juga sebagai tempat berteduh yang tentram yang semakin menambah manfaatnya ….. dan begitulah seharusnya seorang mukmin …. Seperti sosok nyata yang disabdakan oleh Nabi SAW:
“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia, dan amalan yang paling Allah cintai adalah kebahagiaan yang diberikan pada seorang muslim, atau menolong seorang muslim dari musibah, atau melunasi hutangnya, atau menolongnya dari rasa lapar. Dan sesungguhnya jika aku berjalan dengan saudaraku untuk sebuah kebutuhan lebih aku cintai daripada beriktikaf di masjid ini (masjid Madinah) sebulan penuh. Dan barangsiapa yang meredam amarahnya, Allah akan menutup auratnya (aibnya). Dan barang siapa yang meredam amarahnya padahal jikalau ia mau meluapkannya ia mampu untuk meluapkannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan (ketenangan) pada hari kiamat. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk sebuah kebutuhan hingga selesai, Allah akan meneguhkan kedua kakinya di hari di mana kaki-kaki tergelincir. Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu merusak sebuah amalan, sebagaimana cuka merusak madu.” (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Al Albani – Rahimahullah –, No. 906)
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita sifat-sifat yang mulia tersebut dan akhlak yang terpuji –aamiiin—
Wahai saudara saudaraku yang tercinta!
Tidak ada satupun yang lebih berkewajiban untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia ini selain para mujahid, karena mereka adalah orang yang berdiri untuk menegakan kalimat tauhid dan untuknya lah diciptakan makhluq dan diutusnya Rasul-Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, dan mereka berjuang untuk suatu yang sangat mahal di alam semesta ini, dan yang paling besar dalam agama kita yang lurus ini, bahkan dalam syariat-syariat samawiyah seluruhnya. Dan mereka adalah orang orang yang sedang menempuh sebuah ibadah yang mana Rasul –Shallallahu alaihi Wa Salam—bersabda mengenai ibadah tersebut: (puncak dari amalan dalam Islam) ….. Maka dari itu menjadi sebuah kewajiban untuk mengetahui besarnya tanggung jawab, dan pentingnya kedudukan tersebut dan juga keagungan hal tersebut agar mereka meningkatkan akhlak mereka hingga mencapai kedudukan yang tinggi dan sesuai dengan keadaan mereka hari ini …. Karena mereka adalah orang-orang yang menegakkan salah satu misi kenabian yang agung …… misi dakwah dari makhluk ke makhluk …. Dan mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan mungkar…… tidak mungkin mereka akan sanggup melaksanakan misi ini dengan sebaik-baiknya kecuali dengan berpedoman dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi – Shallallahu alaihi Wa Salam— yang dengannya Allah memuji beliau lewat Firman-Nya:
“Sesungguhnya kamu berada diatas akhlak yang mulia.”
Begitu juga dengan apa yang telah digambarkan dalam Firman-Nya
“Telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan bagimu), dan amat lemah lembut dan penyayang bagi orang mukmin”
Demikianlah kondisi hati orang mukmin melihat keadaan manusia dan berusaha keras dalam memberi petunjuk kepada manusia.
“Thaa Siim Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan. Boleh Jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” [Qs. Asy Syu’araa’: 1-3].
Dan hati beliau yang terbakar menyaksikan keadaan para makhluk, serta obsesi beliau untuk memberikan hidayah kepada manusia, seperti yang difirmankan oleh Allah.
Beginilah seharusnya seorang mujahid ….. seperti lebah atau pohon kurma …… bersungguh-sungguh dalam rangka memperbaiki sesama mahluk … bersungguh-sungguh untuk kebaikan manusia dan keselamatan mereka, tidak muncul dari raga mereka kecuali kebaikan. Mereka berperang melawan orang kafir.
“Demi Allah jika seandainya Allah memberikan hidayah pada seorang saja melalui perantara kamu, itu lebih baik daripada unta merah.”
Ya, wajib bagi mereka untuk menjadi seperti itu …. Keseharian mereka dipenuhi dengan darah, luka dan pedang-pedang. Kehidupan mereka yang keras digunung-gunung dan gua-gua, akan tetapi hati mereka lebih lembut dari yang kita kira, hati mereka berdenyut bersama ummat yang terluka, bahkan mereka juga berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kebaikan walaupun dengan orang kafir sekalipun, dengan memberikan mereka petunjuk menuju Al-Haq, menunjukkan mereka kepada kebaikan dan juga memberikan mereka peringatan akan bahayanya menempuh jalan orang-orang yang berdosa.
Saudaraku fillah
Inilah agama kita yang kita ketahui dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan kisah para sahabat yang dimuliakan, dan apa yang pernah dituliskan oleh salafussalih. Dan ini adalah apa yang telah kita pelajari dari masyayekh pergerakan jihad terkini dan yang dahulu dan para pembesarnya dan ulamanya, dan yang lebih khusus untuk diungkapkan : pembaharu kewajiban yang pernah hilang As-Syaikh As-Syahid Abdullah Azzam –semoga Allah merahmatinya—dan amirul mukminin, simbol kemuliaan umat dan kekuatannya, yaitu Mullah Muhammad Umar mujahid –semoga Allah memberikannya pertolongan—, Syahidul Ummah, sang penakluk Amerika, Syaikh Usamah bin Ladin dan seorang mujahid, dai, murabi Athiyatullah Al-Libiy –semoga Allah merahmatinya- dan Syaikh yang alim, komandan dan memiliki kedudukan yang tinggi Syaikh Yahya Al-Libiy –semoga Allah merahmatinya— dan Syaikh Alim dan Mujahid, Abu Laits Al-Qasimi –semoga Allah merahmatinya— dan syaikh yang terpenjara yang tegar setegar gunung Abu Qatadah Al-Filisthini, semoga Allah segera membebaskannya, dan syaikh yang terpenjara Abu Muhammad Al-Maqdisi –semoga Allah segera membebaskannya—, dan Syaikh Mujahid, seorang dai yang tiada duanya yaitu Ustadz Muhammad Yasir Al-Afghani –semoga Allah merahmatinya- dan Syaikh Mujahid yang memiliki keilmuan yang luas yang telah banyak memberikan kontribusi berharga bagi umat ini Abu Mushab As-Suri –semoga Allah segera membebaskannya- dan Syaikh Alim, al-Faqih, al-Qadi, Abu Walid Al-Filisthini –semoga Allah menjaganya- dan Syaikh Alim, Ahli ibadah, Manshur As-Syami –semoga Allah merahmatinya- dan Syaikh, juru dakwah, Anwar Al-Aulaqi. Dan masih banyak lagi yang dengannya Allah memuliakan kita dengan hidupnya sebagian dari mereka, sehingga kita dapat mengambil faidah dari kitab-kitab, kajian-kajian ilmu dan arahan-arahan dari mereka.
Semoga Allah memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang baik, karena mereka telah menerangi jalan kami, mereka telah menerangkan kepada kami rangkuman dari hasil experimen-experimen mereka selama 40 tahun atau bahkan lebih, berkat kesungguhan dakwah dan jihad mereka, maka berdirilah pergerakan-pergerakan jihad modern di berbagai belahan bumi Islam, dan mereka telah memberikan kepada kita peringatan agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan yang dulu pernah terjadi dan merasakan akibatnya yang buruk, dan menerangkan kepada kita sebab-sebab keberhasilan, kemenangan, dan perbuatan-perbuatan yang menyebabkan kerugian dan kegagalan.
Perbuatan mereka telah mengajarkan kita sebelum ucapan mereka. Kami melihat (amalan-amalan) mereka dan kesungguhan mereka, dan perjuangan mereka, dalam dakwah mereka dan buku-buku yang mereka tulis, begitu juga dengan karya-karya tulis mereka sesuai dengan pemahaman Islam yang benar ….. sebuah gambaran yang nyata yang membuat gemilang pendidikan Islam …. Islam dengan segala kekuatannya, kegamblangannya, kekokohannya dan kemudahannya, keseimbangannya juga kesempurnaannya …. Sebaik-baik kebersamaan adalah kebersamaan dengan mereka, dan sebaik-baik kebersamaan adalah kebersamaan dengan mereka ….semoga Allah menerima mereka yang telah gugur dan kaum muslimin yang telah gugur sebagai syuhada … dan semoga Allah meneguhkan mereka dan menutup umur mereka dan umur kami dengan akhir yang baik.
Dan kita semua –wahai saudaraku—hidup di zaman yang penuh tipu daya, di mana orang yang berbuat baik akan menuai hinaan sedang orang yang berbuat keburukan akan menuai pujian, dan inilah keadaan kita yang memprihatinkan, bersama sebuah kelompok yang tidak mendapati pada diri kami, para pemimpin kami dan manhaj kami kecuali keburukan. Itu semua karena:
Satu: Kami sangat mencintai ummat kami yang sedang menderita, kami bersikap rendah hati kepada mereka, kami ingin memberikan kebaikan kepada mereka juga mengembalikan mereka kepada Islam yang sempurna yang tidak ada kekurangannya, kami berusaha mencari dukungan mereka – tentunya setelah mendapatkan dukungan dari Allah— dalam berjihad melawan kekafiran, dan karena itu kami memilih seluruh cara yang ditunjukkan oleh syar’i. Namun ada sebagian penentang –semoga Allah memberikannya hidayah- yang memandang bahwa problem terbesar dalam gerakan jihad Al-Qaeda adalah orang yang bergabung di dalamnya “ingin menyertakan kafilah mereka (Al-Qaeda) dalam kendaraan kafilah ummat yang sedang melakukan revolusi.” Maha Suci bagi Sang P Apakah ini sebuah keunggulan atau kehinaan?!
Dua: Kami memandang bahwa takfir adalah bagian hukum syar’i yang sangat penting, karena hal tersebut dapat menjaga ajaran-ajaran Islam dan sebagai pemisah antara ajaran Islam dengan ajaran kafir, begitu juga dapat mencegah adanya percampuran atau kerancuan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Tapi di satu sisi kami juga memperingatkan akan bahayanya ghuluw dalam mengkafirkan, dan kami menegaskan akan pentingnya berpegang pada kehati-hatian sebagaimana yang telah dinukilkan dari para salaf dalam bab ini. Dan kami tidak berpendapat bahwa hal ini bisa diubah menjadi seperti pelajaran hitung menghitung yang bisa masuk ke dalamnya orang awwam dan buta huruf A-Z dalam masalah ilmu syar’i atau setiap pencari ilmu yang menerapkan ilmu tersebut padahal baru mendapatkan secuil dari ilmu syar’i. Ia dengan mudahnya menvonis siapa saja yang dikehendakinya tanpa memperhatikan kaidah-kaidah syar’i yang telah ditetapkan oleh para ulama karena faktor kehati-hatian kami dan menerapkan ketentuan-ketentuan tersebut menyebabkan kami divonis oleh sebagian orang yang ghuluw dengan Murji’ah –sama halnya sebagaimana yang dituduhkan oleh murji’ah dengan vonis ghuluw karena berpegang teguh dengan syarat pertama— hanya kepada Allah kita mengadu dari segala tuduhan dan perkataan dusta tersebut.
Tiga: Kami sangat memahami posisi para ulama dan kami mencintai dan menghormati mereka. Kami memandang bahwa mereka semuanya adalah para komandan ummat ini yang sebenarnya. Kami mengajak kepada ummat seluruhnya untuk bergabung bersama mereka. Kami memandang bahwa kemaslahatan ummat hanya ketika mereka kembali mendapat petunjuknya apabila kelompok ahlul ilmi dan para mujahidin bersatu dan menutup pintu kesenjangan diantara keduanya. Oleh karena itu kita terus berusaha untuk tidak berbicara hal-hal buruk tentang para ulama dalam konteks umum.
Jika kami melihat suatu kondisi ketika kemaslahatan syar’i menuntut agar menjelaskan kejelekan salah satu ulama dari ulama su’, maka kami akan berbicara tentang orang ini secara khusus dan menjelaskan kepada ummat tentang kesesatannya serta mengingatkan mereka untuk tidak mengikutinya dan membimbing mereka untuk mengikuti ulama yang Rabbani – kami tidak menuntun mereka kepada pelajar atau penulis di internet yang tidak jelas latarbelakangnya—.
Akan tetapi sungguh disayangkan kadang-kadang ada aktivis jihadis yang merusak hubungan di antara kedua kelompok tersebut dengan perkataan dan perbuatannya. Dia memaksa yang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah kontemporer dan dalam masalah ilmu lain yang urgen. Padahal pendapatnya jauh dari nilai-nilai ilmiah—atau katakan saja banyak tidak tahunya—, kami melihat golongan ini tidak ada henti-hentinya mencela para ulama Rabbani, para ulama yang telah kita ketahui kejujuran dan keteguhannya serta kebenarannya dalam memegang Al-Haq, semua yang mereka sampaikan demi laa ilaaha illallah. Hanya karena perbedaan pendapat atau bertentangan dengan nafsu yang mereka inginkan, mereka dengan seenaknya menggunakan kata-kata yang tak beradab terhadap para ulama besar tersebut. dan itu jelas menunjukkan akan rusaknya hati yang ada dalam diri mereka. (ulama yang mereka cela) adalah dua syaikh yang tertawan yaitu Abu Qotadah al-Filasthini dan Abu Muhammad Al-Maqdisi – semoga Allah membebaskan mereka—, tak terkecuali juga dengan Hakimul Ummah Syaikh Aiman Az-Zhawahiri –Hafidhahullah—sebagaimana tak luput juga celaan mereka kepada ulama-ulama lain yang dikenal ummat.
Empat: Kami berusaha keras untuk melindungi darah kaum muslimin dan kami menyesali setiap tetesan darah mereka berjatuhan secara za Kami tidak keluar dari rumah kecuali untuk membela kaum muslimin yang tertindas, membela agama mereka, kehormatan mereka, jiwa mereka dan harta-harta mereka. kami sangat meyakini bahwa darah kaum muslimin tidak boleh tumpah kecuali dengan dalil yang qath’i dan jelas, layaknya terangnya matahari tanpa kabut. Dan kami sangat mewanti-wanti dari sikap penghalalan darah mereka dengan hujjah yang lemah atau karena terlalu longgar dalam masalah tatarus (membunuh orang muslim yang dijadikan tameng oleh musuh) tanpa menerapkan kaidah-kaidah syar’i yang telah tertulis dalam kitab-kitab para ulama yang tsiqoh. Atau dengan melemparkan tuduhan yang tidak jelas kepada mereka, atau menganggap berpisah dari jamaah jihad sama juga berpisah dari ummat sehingga orang yang menyimpang tersebut berhak untuk dibunuh.
Lima: Kami memandang bahwa pentingnya mengingatkan kondisi sulit yang pernah menimpa ummat Islam –dan masih terus akan terjadi—diantaranya runtuhnya kepemimpinan Islam, kezaliman yang dilakukan oleh pemerintahan murtad, upaya untuk menjauhkan ummat dari berpegang teguh dengan agamanya, memaksa untuk menerapkan kurikulum liberal dalam pengajaran ummat, agar konsep tarbiyah generasi terdahulu tergantikan dengan keyakinan-keyakinan rusak dan pemahaman-pemahaman yang berlawanan dengan sistem kurikulum syar’i yang lurus, memaksa ummat ini dengan kekuatan senjata dalam menerapkan undang-undang buatan manusia yang mana Allah tidak pernah menurunkan satu keterangan pun tentangnya, mempersempit gerak laju para da’i yang berdakwah kepada penegakkan syari’at dan melarang para ulama untuk menyampaikan kalimat al-haq serta menyampaikan hukum-hukum syari’at secara benar di depan khalayak umum kaum muslimin.
Seluruh realitas ini telah mampu menanamkan kebodohan pada masyarakat kita dan menghilangkan manyoritas hukum-hukum syar’i dari pikiran kaum muslimin.
Semua fenomena ini, mengharuskan kita untuk lebih mengutamakan kelembutan dalam bermuamalah dengan ummat, lebih bisa memahami dan menerima udzur yang ada pada mereka. dan berusaha keras untuk mengembalikan mereka kepada agamanya serta menyampaikan dakwah kepada mereka secara bertahap.
Akan tetapi pada saat ini kita mendapati sebagian orang yang mengamalkan Islam dengan menerapkan konsep loyalitas keimanan dalam arti yang cukup sempit. Dia merendahkan ummat dan meremehkannya, mencari-cari kesalahan ummat, kemudian dalam menghakimi, mereka memukul rata semuanya. Sebagaimana mereka juga menjelek-jelekkan setiap orang yang menyeru mujahidin untuk berlaku kasih sayang dalam berhubungan dengan ummat. Maka kita melihat mereka berkata dengan perkataan yang cukup mengherankan: ((Ummat yang mana yang menjadi tempat rujukan kita? Ummat Islam Saudi kah? Ikhwani kah? Atau Sururi kah? Atau Hizbul Ummah Quwait kah?….sungguh aneh jika ada yang menyerukan kembalilah kepada ummat! Coba tanyakan kepadanya ummat apa?, Ikhwani kah?, Salafi kah?, Jamiah kah?, Sufiah kah?, Al-Qaeda kah?, atau siapakah ummat itu?))
Cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Allah lah sebaik-baik pelindung dari segala pemikiran yang bengkok ini.
Enam: Kami berusaha merangkul ummat untuk sama-sama menyelesaikan problematikanya yang paling mendasar. Diantara hal yang cukup penting adalah fokus untuk menyerang kepada ular, yaitu Amerika dan anak tirinya Israel. Berjihad demi membebaskan negeri-negeri kaum muslimin dan tempat-tempat suci mereka. kami memandang bahwa dengan lenyapnya cengkraman Amerika, maka dengan izin Allah, pemerintahan murtad yang mengekor kepada Barat dan tidak menerapkan hukum Allah pasti akan tumbang. Kemudian pembebasan kaum muslimin dari pembagian-pembagian negara berdasarkan kebangsaan dan tutorial-tutorial yang mereka ciptakan, serta menyatukan mereka di bawah satu kekhilafahan dan di dalam kesatuan negara I Oleh karena itu, kami terus mewaspadai dari setiap upaya yang ingin menjadikan jihad ini sebagai alat perperangan antara sesama mereka dan memalingkan kesungguhan para mujahidin kepada konflik parsial saja.
Kami tetap mengobarkan semangat untuk melanjutkan perjuangan sesuai dengan khittah yang telah disusun oleh komandan para mujahid – yang dipelopori oleh Syaikh As-Syahid Usamah bin Ladin, dalam sekian banyak aksi eksperimen yang beliau lakukan demi kemaslatan agama. Dan kami tetap melanjutkan perjuangan di atas khittoh ini sampai kami menyempurnakan jalan ini dan berhasil meraih tujuan kami yang selama ini kami idam-idamkan melalui pertolongan dan taufik dari Allah.
Tujuh: Kami memandang bahwa dakwah dan jihad fi sabilillah adalah dua saudara yang harus berjalan seiringan dan tidak boleh terpisahkan. Kedua-duanya adalah ibadah yang agung, masing-masing memiliki keutamaan, ketentuan hukum dan prinsip-prinsip tersendiri. Tidak ada jurang pemisah yang bertentangan di antara keduanya, akan tetapi keduanya harus saling menguatkan. Keduanya berjalan dalam poros tauhid. Maka dakwah kita adalah menyeru kepada kalimat Laa Ilaaha Illallah. Kami yakin bahwa kami adalah para da’i sekaligus mujahid dan kami merasa terhormat dengan status tersebut. Dan kami memandang bahwa tidak akan sukses sebuah pergerakan yang ingin menghancurkan sistem jahiliyah yang menjajah ummat kita ini kecuali dengan berpegang teguh dengan kedua ibadah yang agung ini (dakwah dan jihad, red), juga berkomitmen dengan seluruh hukum-hukum syar’i. Seluruhnya sesuai dengan hukum-hukum dan tahapan-tahapannya yang telah dijelaskan dalam buku-bukum fikih secara rinci. Dan kami mewaspadai dari segala bentuk peremehan terhadap amal dakwah yang telah ditetapkan oleh syariat dan menjadikan hubungan antar keduanya menjadi bertentangan.
Delapan: Kami tekankan tentang pentingnya fikih siyasah syar’iah (politik Islam) bagi para mujahidin. Kami memandang bahwa harakah-harakah jihad secara umum akan menuntut untuk berhubungan dengan kelompok yang bermacam-macam dan dengan negara dan bangsa yang berbeda-beda. Sehingga butuh adaptasi dengan keadaan yang tidak stabil dan kejadian-kejadian yang selalu berubah-rubah. Oleh karena itu kami memandang bahwa para mujahidin, ahlu ilmi dari mereka – sesuai dengan posisi, tangung jawab dan karakter kerja masing-masing—wajib mengambil bagian untuk mempelajari ilmu hukum politik Islam dan ilmu-ilmu yang mengatur aturan-aturan yang berkaitan dengan pembatasan prioritas dan penetuan maslahat dan mafsadat. Karena manyoritas fikih jihad adalah berdasarkan fikh kemaslahatan, yaitu berdiri tegak untuk meraih kemaslahatan dan menghindari kerusakan.
Dan setiap gerakan jihad yang tidak mengindahkan pentingnya pembahasan agama tentang ini dan tidak mempelajari hukum-hukumnya maka biasanya dia akan mengalami kerugian dalam berperang dan akan gagal dalam menentukan maslahat jihad yang paling besar. Meskipun dia berhasil meraih kesuksesan dalam beberapa hal.
Harakah jihad seharusnya terus berkembang dan maju sesuai dengan daerah yang berhasil dia kuasai, berkembang dari wilayah khusus menuju wilayah yang umum. Apabila para anggotanya belum terdidik, dan belum memilki kemampuan dan cara pandang yang luas serta belum mampu berinteraksi dengan manusia –dengan latar belakang dan tingkatan yang berbeda-beda—sesuai dengan kemampuan akal mereka, belum memahami metode-metode politik internasional dan meminimalisir musuh serta memperbanyak teman dan yang terbentuk dalam pikiran mereka adalah mereka tidak mampu untuk menjalankan sistem politik dan tidak bisa menerapkan kebijakan mereka sesuai dengan prinsip syariat bahkan mereka tidak mampu melihat dengan baik mana maslahat yang rajih dan mana mafsadat yang akan mereka dapatkan.
Kemudian mereka bisa menunjukkan sebuah pilihan yang terbaik diantara dua pilihan yang baik, dan menentukan mana yang lebih kecil kadar kerusakannya.
Apabila semua tarbiyah dan persiapan ini belum terwujud, maka efeknya adalah para mujahidin akan melakukan kesalahan fatal dalam berpolitik sehingga dapat menghilangkan buah (hasil) dari perjuangannya yang panjang serta akan memudahkan musuh untuk memetik buah pergerakan jihad tersebut sesuai dengan tujuan dan visi terbesar mereka.
Namun sayangnya, sebagian orang tidak paham perbedaan antara praktek politik Islam untuk menjaga kemaslahatan agama dengan praktek tawar-menawar dalam mengorbankan agama.
Sebagian yang lain memandang karena kelalaian mereka terhadap pembahasan penting dalam agama ini. Berpendapat bahwa wajib bagi mujahidin untuk mengatakan dan melakukan seluruh perbuatan yang dapat mengundang kerusakan atas penduduk bumi, sehingga bertambah jumlah musuh mereka dan meminimalisir jumlah teman. Dan menurut mereka para mujahidin harus selalu berbicara dengan masyarakat umum dengan bahasa yang tidak dapat dipahami kecuali hanya kalangan tertentu saja yang terbatas, serta dengan gaya bahasa yang menyebabkan masyarakat manjauh dari mereka.
Kemudian mereka mengira bahwa gaya bahasa mereka ini menunjukkan bukti atas kuatnya aqidah mereka dan murninya manhaj mereka. Mereka tidak tahu bahwa hal itu justru menunjukkan dangkalnya ilmu mereka, sempitnya pemikiran mereka, jauhnya mereka dari ajaran yang lurus dan penuh toleransi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Itu juga membuktikan bahwa mereka mengikuti cara pandang ummat terdahulu yang memberatkan dirinya dan terbelenggu dengan perkara-perkara bid’ah sehingga menyebabkan mereka menuju kepada kehancuran. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan jalan yang membinasakan tersebut.
Sembilan: Kami menegaskan bahwa pentingnya mengedepankan adab dalam hal perbedaan antar sesama mujahidin. Karena mereka adalah orang yang paling butuh untuk memahami masalah ini, mengingat mereka adalah termasuk orang yang paling sering diuji dengan perbedaan. Oleh karena itu, mereka harus memahami bahwa orang yang berselisih itu tidak sama semuanya, akan tetapi mereka memiliki tingkatan masing-masing. Maka wajib membedakan sesuatu yang berhubungan dengan mereka, dan wajib mengetahui bahwa salah satu karateristik orang mukmin adalah selalu bersikap netral ketika berselisih dan harus berlaku adil meskipun terhadap dirinya, kedua orang tuanya dan kerabatnya. Mereka harus tahu bahwa orang mukmin selalu memiliki akhlak yang mulia tidak suka mencaci, melaknat, berkata kotor, merendahkan orang lain dan berbuat dosa ketika berselisih, meskipun dia berselisih dengan orang kafir dan orang-orang murtad. Mereka harus yakin bahwa kekuatan dalil bukan pada kata-kata dan menyerang kepribadian seseorang.
Sepuluh: Kami menegaskan bahwa pentingnya para mujahidin berkomitmen terhadap hukum-hukum Islam sebelum mereka terapkan kepara orang lain. Mereka harus menjadi tauladan bagi orang lain dalam hal kesetaraan diantara mereka –antara yang kecil dengan yang besar, yang kuat dengan yang lemah— di hadapan hukum hudud Allah. Mereka harus menjadi contoh terbaik dalam hal ketundukan mereka terhadap hukum syari’at secara mutlak. Karena sungguh tidak masuk akal jika menjadi pembawa panji syari’at, namun mereka bersikap longgar dalam menetapkan syari’at Allah terhadap diri mereka sendiri atau membuat alasan-alasan agar terlepas dari jeratan hukum jika bertentangan dengan pendapat dan keinginan nafsu mereka.
Tidak, bukan seperti ini perilaku seorang mujahid! Akan tetapi kami melihat dengan penuh rasa sedih bahwa ada beberapa pihak yang selalu menyerukan kepada hukum Allah dan mengajak untuk memutuskan perselisihan mereka dengan mujahidin lainnya dengan hukum Allah. namun dia selalu bersikeras dan berkelit untuk terlepas darinya dengan menggunakan alasan-alasan yang lebih lemah dari rumah laba-laba. Kami memohon kepada Allah agar mengembalikannya kepada kebenaran dengan baik.
Sebelas: Kami meyakini bahwa prinsip syura adalah salah satu prinsip penting dalam pemerintahan Islam yang dibangun di atas asas hakim syar’i dan ummatlah yang berhak memilih pemimpin yang memenuhi persyaratan terlebih lagi ahlu halli wal ‘aqdi.
Kami tidak melihat adanya pelanggaran dalam hak ini berdasarkan apa yang telah disebutkan nash yang menekankan prinsip syura tersebut. Dan bahkan ada atsar yang menyebutkan celaan yang cukup keras kepada orang “yang membai’at seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin” (Ini adalah perkataan Umar bin Khathttab Radhiyallahu Anhu yang tercantum di dalam sebuah riwayat di dalam Shahih Ibnu Hibban, jilid 2)
Dan kami memandang bahwa jihad kami ini untuk melenyapkan hambatan-hambatan yang menghalangi kaum muslimin untuk memilih seorang pemimpin yang memimpin mereka sesuai dengan hukum Allah. Kami tidak berjihad untuk menghakimi manusia dengan pedang, namun kami berjihad untuk menjadikan syari’at Islam yang suci ini berkuasa terhadap kami dan terhadap ummat kami. Oleh karena itu, kami menasehatkan kepada jamaah-jamaah jihad untuk memperbanyak musyawarah dan menghindari dari mendeklarasikan daulah atau imarat sebelum ada proses pembelajaran dan musyawarah dengan jamaah-jamaah jihad lain yang lebih dahulu dari mereka, serta dengan para ulama yang jujur dan para da’i yang tulus dan para pemuka masyarakat yang shalih. Begitu juga menasehati mereka untuk bersikap tawadhu’ terhadap saudara-saudara mereka kaum muslimin serta selalu siap ketika diturunkan jabatannya demi kesatuan barisan ummat.
Dua belas: Kita berpendapat bahwa tidak boleh tergesa-gesa dalam mendeklarasikan daulah dan imarat sebelum seluruh faktor penunjangnya tercapai. Karena syari’at tidak ditegakkan hanya dengan nama atau simbolnya saja, akan tetapi sesuatu itu dianggap sesuai hakikat dan maknanya. Jadi tuntutannya adalah tidak boleh tergesa-gesa memberi nama daulah atau imarah dalam jamaah yang belum memiliki wilayah atau tandhim yang tidak meiliki kekuatan.
Telah banyak pengalaman sebelumnya bahwa jamaah yang telah mencapai sebagian kekuatan untuk mengendalikan sebuah kekuasaan yang masih nisbi dalam sebuah wilayah kecil, sebenarnya dia berada di bawah dominasi kekuatan global dan di bawah kekuasaan penguasa jahiliyah internasional. Sebenarnya dia tidak memiliki kekuasaan karena dia tidak memiliki kemampuan untuk mengayomi rakyatnya atau melindungi warganya dan dia juga tidak berhasil dalam mengatur kebutuhan pokok sehari-hari bagi sekian juta masyarakat yang hidup dibawah kekuasaannya. Bahkan eksistensinya akan cepat sekali hilang darinya ketika pasukan kafir menyerangnya.
Sehingga penamaan daulah seperti ini akan berakibat hilangnya simpati masyarakat tentang ide-ide daulah itu sendiri atau bahkan akan menyebarkan rasa frustasi dan keputus asaan dalam memperjuangkannya serta akan menyebabkan mereka lari dari perjuangan penegakkan Daulah Islamiah.
Oleh karena itu, kita memandang bahwa pertama kali yang harus dilakukan dalam periode awal ini adalah meneruskan strategi perang gerilya (Harb Al-‘Ishobaat), Atau yang disebut oleh Syaikh Aiman Az-Zhawahiri sebagai strategi “Bergerilya Di Setiap Tempat” yang tercantum di dalam tulisannya yang berjudul: “Fursan Tahta Raayah An-Nabi Shallallahu alaihi wa sallam”, penamaan ini serupa dengan penamaan yang dipilih oleh sebagian peneliti barat untuk menamakan strategi perang yang kita terapkan, yaitu strategi “Asymmetric Warfare” atau strategi perang yang tak terkordinasi. Tidak perlu menggebu-gebu untuk melebarkan sayap kekuasaan atas wilayah-wilayah sebelum tiba waktunya. Dan fokus sasaran adalah tentara-tentara kafir yang melakukan invasi terhadap negara-negara kaum muslimin.
Dan berupaya keras untuk menggulingkan undang-undang internasional dengan cara patok kepala ular yaitu memerangi Amerika sampai hancur sehingga tatanan dunia jahiliyah ini pun akan ikut hancur. Sehingga dunia Islam dapat terlepas dari kehinaan tersebut. Demikianlah metode untuk memerdekakan ummat dan mengembalikan kemulian yang hakiki kepada Islam dan kaum muslimin, sehingga dengannya akan membentuk khilafah yang realisitis berdasarkan manhaj nubuwwah.
Tiga belas: Kita meyakini bahwa sikap I (fanatik) terhadap golongan, tandhim atau terhadap seseorang adalah penyakit kronis jika terdapat dalam sebuah jamaah jihad. Jamaah yang mengalir di dalam jasadnya penyakit tersebut, akan lebih banyak mengundang kerusakan daripada kebaikan. Oleh karena itu, kami ingatkan kepada seluruh mujahidin untuk mewaspadai penyakit yang membinasakan tersebut. Kami anjurkan kepada mereka untuk memurnikan niat hanya untuk Allah dan selalu loyal kepada prinsip keimanan atas asas laa ilaaha illallah. Senantiasa komitmen dalam memegang kebenaran. Jangan sampai ia menjadi bagian dari orang-orang yang menolong kelompoknya, saudaranya atau pemimpinnya saja tanpa mempedulikan kebenaran atau kesalahan. Sungguh memprihatinkan sekali ketika kita melihat sebagian orang berlebihan dalam mengangkat syi’ar-syi’arnya demi tujuan kelompoknya saja dan kami khawatir jika mereka menjadikan jamaahnya “eksis” berada di atas perjuangan Ashobiah dan secara tidak sadar, mereka menjadikannya bagian dari salah satu ushul aqidah mereka.
Kita ketahui bahwa yang akan eksis hanyalah mereka yang mengharapkan wajah Allah yang Maha Mulia. Sementara kumpulan jamaah atau daulah, cepat atau lambat ia akan runtuh sendiri. Sebagaimana dengan apa yang telah kita khawatirkan kepada sebagian ikhwah kita yang berlebih-lebihan atau taqlid buta kepada amir mereka. Sungguh, diantara mereka ada yang langsung memahami sesuatu pemahaman kemudian tertancap dalam hatinya, padahal itu semuanya tercela. Cukuplah Allah menjadi sebaik-baik penolong kita.
Empat belas: Kami meyakini bahwa jihad adalah ibadah yang mengikat di atas seluruh pundak ummat ini –baik yang shalih maupun yang jahat—untuk menjaga tujuan syariat yang paling besar dan menyatukannya di bawah kalimat tauhid dan menyelamatkannya dari perpecahan, perselisihan, dan seluruh bentuk bentuk Ashabiah Jahiliyah. Kemudian mengarahkan anak panahnya kepada musuh-musuhnya yang sebenarnya, di mana mereka memerangi syariat di setiap tempat dan dalam segala segi, baik dari segi militer, pemikiran, keyakinan, politik dan sosial.
Oleh karena itu, kita dengan tegas mengingatkan kepada seluruh mujahidin agar tidak membawa-bawa perselisihan ilmiah antara ulama ahlus sunnah ke dalam medan jihad atau menyeru kepada salah satu pemikiran tersebut atau berkelompok atas asas tersebut, atau mengerakkan jihad hanya untuk membela sebagian kaum muslimin tidak kepada yang lain. Karena semua itu akan mengundang perpecahan barisan para mujahidin dan akan menghancurkannya serta akan memalingkan mereka dari sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan, sehingga mereka sibuk dengan batasan-batasan tersebut. Dan jika orang-orang seperti ini ada, maka akan melenyapkan kekuatan mujahidin dan akan berkuasanya orang-orang kafir dan murtad serta akan dihalalkannya darah kaum muslimin, kehormatan dan harta mereka, hancurnya madrasah dan masjid mereka serta halaqah-halaqah ilmiah mereka.
Lima belas: Kami meyakini bahwa mendengar dan patuh kepada para pemimpin selama tidak dalam hal maksiat adalah tiang bangunan jihad. Karena tidak ada jihad kecuali dengan berjamaah, tidak ada jamaah kecuali dengan mendengar dan taat, kami berpendapat bahwa ketaatan kepada pemimpin dalam hal ma’ruf adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Nabi-Nya SAW. Ia adalah bentuk ibadah yang kita jadikan sebagai sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah. Dengan demikian tidak ada kesuksesan pada suatu pasukan yang tidak bergabung dalam satu jamaah dan tidak akan dapat berperang untuk mengalahkan musuh mereka laksana satu barisan yang kokoh.
Kesatuan ini tidak akan tercapai kecuali dengan bergabungnya para pasukan di bawah satu kepemimpinan dan ketaatan kepadanya, baik dalam keadaan senang maupun benci, dalam keadaan susah maupun lapang. Oleh karena itu kami mengingatkan kepada diri kami dan kepada seluruh saudara kami dari hal yang dapat mencelakakan yaitu membangkang kepada amir. Sungguh syaitan menjadikan pembangkangan tersebut tampak indah bagi para mujahidin dan akan membentuk khayalan dalam pikirannya seolah-olah hal tersebut demi kemaslahatan yang tak terhingga nilainya.
Kita semua harus mengetahui bahwa tidak akan ada kebaikan pada langkah seorang mujahid jika dia bermaksiat kepada Allah, karena tidak mungkin dapat menegakkan agama sementara pada saat yang sama dia meruntuhkannya!
Enam belas: Kami memandang bahwa Amirul Mukminin Mullah Umar Mujahid (semoga Allah meneguhkannya di atas kebenaran) adalah amir kami, mahkota kami serta penyejuk mata kami. Allah telah meneguhkan hati kami padanya ketika beliau berjuang menegakkan kekuasannya demi membela laa ilaaha illallah, melindungi para mujahidin dari kalangan muhajirin yang terasing dan diburu oleh musuh. dan dikuti juga dengan pengorbanan beliau bersama saudara-saudaranya dalam pemerintahan Imarah Islamiyah di Afghanistan yaitu ketika menghadapi dahsyatnya kekuatan Pasukan Salib yang terukir dalam lembaran sejarah. Mereka tidak menyerah atau goyah dan tidak berputus asa bahkan mereka menjadikan jihad mereka demi menghalangi invasi orang-orang kafir ke negeri mereka dan demi menegakkan syari’at Allah di dalamnya, hingga mereka hampir mencapai gerbang kemenangan. Dan orang-orang yang terpilih tersebut masih senantiasa menapaki jalan pendahulu mereka. Semoga Allah memenangkan mereka dan mengembalikan mereka ke Kabul dengan segenap kekuatan dan kekuasaan dan kelurusan mereka dalam membela syari’at Allah.
Kami memandang bahwa Imarah Islamiah Afghanistan menjadi hutang yang harus terbayarkan oleh seluruh para mujahidin dan bahkan seluruh kaum muslimin. Di dalamnya banyak faktor-faktor syariat, sosial dan faktor alamiah yang menjadikan mereka lebih pantas untuk memegang tali kepemimpinan ummat. Oleh karena itu, kami menyeru kepada seluruh kaum muslimin untuk bergabung dan berbaiat kepada mereka, menasehati mereka, mensupport dan menolong mereka dengan perkataan maupun perbuatan.
Kita berlepas diri kepada Allah terhadap orang-orang yang memecahkan persatuan kaum muslimin dengan menyebarkan keraguan tentang kelurusan manhaj mereka atau dengan mendeklarasikan pemimpin baru untuk menyaingi mereka. Kita tidak menganggap mereka bebas dari kesalahan, karena mereka juga manusia yang kadang-kadang benar dan kadang-kadang juga salah, akan tetapi kewajiban kita ketika ada kesalahan adalah mengutamakan nasehat kepada mereka tentunya dengan sopan dan menjaga adab-adabnya.
Kita ber-husnudhan kepada mereka dengan mengekspos seluruh kebaikan perkataan dan perbuatan yang telah mereka lakukan dalam perjalanan hidup mereka dan pengorbanan yang mereka lakukan demi menegakkan agama. Semoga Allah mengangkat derajat mereka di dunia dan di akhirat.
Dengan demikian, sungguh kami merasa cukup pedih ketika beberapa masa yang lalu, kami mendengar gosip yang tidak baik seputar manhaj Imarah Islamiah dan apa yang kami saksikan tentang beberapa pengakuan seputar pembatalan baiat mereka kepada amirul mukminin Mullah Muhammad Umar Mujahid –Hafidhahullah- dan berbaiat kepada pemimpin baru untuk menggantikan beliau.
Sungguh kami melihat sebagian mereka ada yang membatalkan baiat tersebut dengan isyarat dan sebagian lagi secara terang-terangan membatalkan baiat mereka kepada amirul mukmin dan menggantikannya dengan amir yang baru. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raji’uun.
Tujuh belas: Kita berpendapat bahwa amal jihad harus senantiasa diiringi dengan penyucian jiwa (tazkiyatun nufus), pembinaan akhlak dan memperbaiki hati. Allah telah memerintahkan kepada kita untuk memperbanyak zikir ketika menghadapi musuh. Di antara hikmah dari itu semua adalah, kesibukan dalam perperangan dan kehidupan ditengah-tengah tengkorak dan potongan-potongan tubuh yang bertebaran kadang-kadang meninggalkan kekejaman dalam hatinya dan menjadikan hatinya keras. (melunakkannya adalah dengan berzikir). Ini merupakan penyakit kronis yang cukup berbahaya dan tak jarang mengantarkan pelakunya ke jurang kehancuran.
Setiap gerakan jihad yang tidak mementingkan sisi tarbiyah terhadap para pasukannya serta penyucian jiwa mereka, maka pergerakan itu akan kehilangan bahan bakar utama dan bekal terpenting dalam perjalanan untuk mencapai keberuntungan dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Sementara obat dari segala penyakit hati tersebut adalah bertaubat kepada Allah dan memperbanyak tilawatul Qur’an, menjaga shalat fardhu dan shalat sunnah, berinfak di jalan Allah, memperbanyak istighfar dan do’a, menolong orang miskin dan bemajelis bersama mereka, membantu saudara dan tetangga, membahagiakan hati kaum muslimin, taat kepada kedua orang tua dan menghormatinya, dan membaca buku-buku tentang akhirat dan motivasi untuk mencapai jannah –semoga Allah menjadikan kita bagian dari penghuninya—dan buku tentang dahsyatnya neraka. Semoga Allah menjauhkan kita dari neraka sebagaimana Allah menjauhkan timur dan barat. Amiin..
Saudaraku Para Mujahidin
Demikianlah beberapa pelajaran penting yang terdapat dalam risalah ini. Semua itu kami terima dan kami pahami dari lisan para masyayikh yang berjihad di jalan Allah serta dari pemimpin-pemimpin dan ulama-ulama mereka. Berikut saya simpulkan ringkasannya.
- Bersikap rendah hati terhadap ummat Islam, menggandengkannya bersama-sama dengan kita dan berusaha bersama untuk meraih dukungannya setelah mendapatkan dukungan dari Allah.
- Mewaspadai dari bahaya sikap ghuluw, begitu juga dengan sikap tafrid dalam masalah takfir.
- Memahami posisi para ulama dan berusaha menutup pintu kesenjangan antara kelompok para ulama dengan kelompok para mujahidin.
- Berusaha keras untuk menjaga darah kaum muslimin dan mewaspadai dari sikap berlebih-lebihan terhadapnya dengan menggunakan dalil yang lemah.
- Mempertimbangkan situasi sulit yang sedang melanda kehidupan ummat dan bersikap lembut terhadap mereka serta mendakwahi mereka secara bertahap.
- Menyadarkan ummat tentang problematika pokok yang sedang dihadapi terutama memerangi Amerika dan Yahudi.
- Memahami pentingnya dakwah serta kaitannya dengan amal jihad.
- Penegasan tentang pentingnya mempelajari fikih siyasah syar’iah (politik Islam) yang berkaitan dengan mujahidin.
- Mengedepankan adab dalam perbedaan.
- Berkomitmen untuk menerapkan hukum-hukum syar’i dalam barisan internal kami dan berusaha untuk mewujudkannya pada masyarakat umum.
- Senantiasa berprinsip kepada musyawarah dan tidak mengabaikan ummat dalam memilih pemimpin yang memenuhi persyaratannya.
- Tidak tergesa-gesa dalam mendeklarasikan Daulah atau Imarat sebelum memenuhi segala faktor penunjang dan sebelum memenuhi secara sempurna kemampuan dan kekuasaan.
- Mewaspadai dari segala bentuk sikap Ashabiah, berkelompok-kelompok dan ghuluw terhadap seseorang
- Mewaspadai untuk tidak membawa-bawa perselisihan ilmiah antara para ulama ahlussunnah dalam medan jihad.
- Senantiasa taat kepada pemimpin dalam hal yang ma’ruf.
- Bergabung bersama Imarah Islamiah di Afghanistan dan membantu mereka baik dengan perkataan maupun perbuatan.
- Memperhatikan urgensi penyucian jiwa dan memperbaiki hati.
Demikianlah sebagian dari sisi penting dalam manhaj kami –tidak bermaksud ingin menjelaskan semuanya—, maka jangan sekali-kali menganggap bahwa kami keluar membuat manhaj baru dan menyelisihi manhaj yang murni ini. Dan jangan sekali-kali merendahkan para masyayikh kami dan mengatakan bahwa manhaj para masyayikh kami telah berubah dan menyeleweng. Tidak demi Allah, inilah manhaj kami dan tak pernah berubah. Kami memohon agar Allah meneguhkan kami.
Ya, kami mengakui kelemahan dan keterbatasan kami dan kami mengetahui bahwa ada kesalahpemahaman dalam diri kami tentang sebagian hukum dari seluruh hukum syar’i atau apa yang telah kami terapkan dalam realitas kehidupan. Meskipun sifat syariat Allah sendiri sempurna dan menyeluruh tanpa ada kekurangan dan keterbatasan. Oleh karena itu, kami membuka diri untuk dinasehati dan kami akan mengikuti kepada orang yang menunjukkan kesalahan kami dengan dalil syar’i. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari sisi Allah semata.
Dan sebagai penutup, saya mengajak kepada seluruh saudara saya para mujahidin di seluruh tempat dan khususnya kepada saudara saya dalam jamaah Al-Qaeda dan para ikhwah mujahid di Syam untuk senantiasa merenungi hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada yang lebih sabar atas suatu hal menyakitkan yang didengarnya melebihi kesabaran Allah. Di mana mereka menganggap bahwa Allah memilki anak dan menjadikan tandingan bagi-Nya, padahal Dia mengampuni dosa mereka, melindungi mereka dan memberi rizqi kepada mereka.” (silsilah hadits shahih karya Syaikh Albani Rahimahullah, no: 2239)
Wahai saudara-saudaraku yang tercinta, sungguh akhir-akhir ini kalian telah mendengar tentang penghinaan, cacian, celaan, tuduhan, berkata dusta serta menjelek-jelekan para senior yang dapat melukai hati dan pikiran kita. Akan tetapi saya mengajak kepada kalian untuk mengharap pahala dari Allah dan berakhlak dengan kesempurnaan akhak Allah, bersikap bijak, sabar dan membalas keburukan dengan kebaikan, menanggapi kezaliman dengan adil dan janganlah sesekali kamu merasa aman dari fitnah. Tetapilah jalan kebenaran karena itu semua hanyalah buih yang pasti akan hilang.
Saya mengajak kepada diri saya dan kalian semuanya untuk menjadi seperti lebah atau seperti pohon kurma, di mana naungan kita teduh, hasil yang kita dapatkan manis, jernih pandangan kita, serta baik dan bermanfaat keberadaan kita. Semoga Allah memberi taufik kepada saya dan kepada kalian semuanya untuk menjadi seperti itu. Amiin…!
Dan jika Allah memanjangkan umur dan memberikan taufik, kita akan berbincang kembali poin-poin yang telah disebutkan di atas namun akan dituangkan lebih detail dalam bentuk makalah yang akan datang dengan izin Allah. Dan Allah lah yang Maha Pemberi Taufik.
Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya serta para sahabatnya.
Ditulis oleh: Ahmad Faruq –semoga Allah mengampuninya-
Penerjemah: Muhammad
The post As Sahab Media Rilis Manhaj Al Qaeda: “Jadilah Laiknya Lebah” appeared first on Kiblat.net.
0 Response to "As Sahab Media Rilis Manhaj Al Qaeda: “Jadilah Laiknya Lebah”"
Post a Comment