Ayah, Sayangmu Sepenuh Jalanku

love-road DETIKISLAM.COM – rintik hujan turun beriring, samarkan isak airmata yang berlinang | seolah jatuh tak tersaring, menambah perih semua yang terkenang


tiap memoar bagai baru berselang, gundah gulana sampai canda tawa | kikira ingatan itu sudah hilang, ternyata ia mengakar di relung jiwa


punggung yang tadinya tegak gagah kini terbaring lemah | mata yang dulu berbinar cerah kini terlihat sangat lelah


berkali-kali aku dipapah punggung itu sambil berteriak bahagia | sepanjang hidupku aku selalu ingin mata itu menatapku bangga


masa tua memakan masa mudamu, namun tidak kebijaksanaanmu | engkau selalu jelaskan bahwa dunia semu, dan akhirat itu barang tentu


sepenggal nafas engkau hela, dadamu kembang kempis payah | disini aku berusaha untuk rela, entah kenapa bisa begitu susah


dalam hidupku, kuakui tidak sepanjang hidup aku mencintaimu | bahkan mungkin, hidupku habis lebih banyak membencimu


kukira selama ini kau hanya pikirkan dirimu sendiri | saat ini baru aku mengerti kau hanya mengajarku berdiri


kuduga selama ini kau orang yang paling tak peduli | ternyata kau bukan lelaki yang pintar lisankan hati


segala mahal yang kau batasi, dan dunia yang tak kau beli | ternyata sebuah cara ajari, bahwa hidup itu untuk berbagi


mengapa sekarang aku baru mengerti? | mengapa sekarang baru aku pahami?


bahwa memang banyak kekuranganmu yang aku saksikan | namun lebih banyak lagi kelebihan yang tak kau perlihatkan?


bahwa kesalahanmu selalu banyak aku sebutkan | namun kesalahanku engkau terima dengan senyuman?


bahwa tak peduli seberapa jauh aku melangkah pergi | pelukan yang sama selalu menanti bila aku kembali?


bahwa setiap hari tersedia bagiku suapan nasi dan tegukan air | berapa payah tulang terbanting dan berapa banyak peluh mengalir?


aku kehilangan ketenangan, sempurnalah penyesalanku | menekur semua salahku, takut akan sisa kesempatanku


bersamamu selamanya itu sebuah khayalan | namun perpisahan ini terasa begitu menyakitkan


apakah penyesalan itu karunia atau kutukan | mengapa ia selalu datang dibelakang kemudian?


Allah kumohon, beri aku waktu untuk melantunkan sepenggal ayat-Mu | agar kuperdengarkan padanya sebagaimana ia perbuat di masa kecilku


perkenankan firman-Mu menyesap kuatkan ringkih badannya |

terimalah sebuah bakti kecil yang terakhir dari keturunannya


jadikan tilawahku ini sebagai pendamping lafadz syahadatnya | agar Engkau ampunkan dosanya dan tambahkan kebaikannya


izinkan dekapannya aku abadikan walaupun hanya genggaman | biarkan aku menemaninya walau dia sudah hilang kesadaran


Allah kumohon, bisakah beri waktu untuk sekali lagi saja shalat | merapal hamdalah di sampingnya walau hanya dua rakaat


sekali lagi mengamini apa yang ia doakan dan mengiba pada-Mu | sekali lagi tengadahkan tangan dengarkan pintanya pada-Mu


merengkuh tangannya lalu menciumnya sekali lagi | untuk bisikkan maaf sebelum dia berpulang kembali


aku begitu bodoh, menyimpan lisan yang harusnya terkatakan |

untuk banyak berterimakasih, bersyukur atas semua pelajaran


ayah, beri aku 20 menit saja untuk mengingat tanpa tangis di wajahmu | bagaimana aku bisa mengenang bila berlinang juga airmatamu?


jangan ucapkan yang sudah kutahu | kutahu sayangmu sepenuh jalanku


ayah, bila ini terakhir kalinya di dunia kita berjumpa | mudah-mudahan ada pertemuan lagi kelak di surga


namun ayah, mohon katakan padaku apa yang harus kulakukan? | biasakah engkau bersamaku, menasihatiku, walau sehari lagi?


___________________________________________


catatan ini belum terjadi namun mungkin akan terjadi, catatan ini juga adalah impian dan doa seorang hamba yang faqir di hadapan Allah Azza wa Jalla, Ar-Rahman, Ar-Rahiim, Yang Maha Menunjuki siapapun yang Dia kehendaki


Allah yang bagi-Nya segala kehendak-Nya, jika Dia menginginkan satu perkara maka Dia hanya tinggal mengucap “Jadi” maka Jadilah


disini kutitipkan doa bagi kedua orangtuaku, agar ketika mereka masih hidup mendapatkan dalam hidayah Islam, dan pula berpulang dengan keistiqamahan Islam, walau bukan hari ini, namun esok siapa tahu?


hanya kepada Allah kita berserah dan berharap, dan kepada manusia yang beriman kita mohonkan doa agar impian ini terkabulkan


hamba Allah yang faqir,

@felixsiauw


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ayah, Sayangmu Sepenuh Jalanku"

Post a Comment