Dzikir dan Doa yang Dibaca Setelah Shalat Wajib (2)

وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.


Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu bahwa “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca doa perlidungan dari beberapa setiap selesai shalat, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu sifat penakut, aku berlindung kepada-Mu jika aku dikembalikan kepada usia yang tua renta, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. HR. Al-Bukhari.


Beberapa Kandungan Hadits


1. Disyariatkan berlindung dengan kalimat-kalimat setiap selesai shalat, hal itu merupakan perbuatan Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah Ta’ala berfirman, Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS. Al-Ahzaab: 21).


2. Pentingnya berlindung dari lima perkara tersebut karena Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung darinya setiap selesai shalat.


Apakah kalimat دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ maksudnya di akhir setiap shalat ataukah setiap selesai shalat?


Kata دبر “dubur” asalnya merupakan akhir sesuatu dan termasuk darinya dubur hewan berada di bagian belakang badannya. Akan tetapi hadits riwayat Sa’ad Radhiyallahu Anhu ini bahwa dahulu beliau memulai dengannya[1] dan kata permulaan itu menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya selesai shalatnya.


3. Tercelanya sifat bakhil, hal itu karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung darinya.


4. Tercelanya sifat penakut, hal itu karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berlindung darinya, akan tetapi bukan keberanian maju secara mutlak, dan penakut itu bukanlah mundur secara mutlak. Akan tetapi maju di saat dibutuhkan itulah keberanian dan mundur di saat dibutuhkan merupakan sikap yang bijak dan penuh pertimbangan.


5. Meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala agar tidak dikembalikan kepada usia yang tua renta.


Jika ada yang mengatakan, “Apakah termasuk sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,Aku berlindung kepada-Mu jika aku dikembalikan kepada usia yang tua renta,” walaupun akal seseorang masih normal?”


Kita jawab, ini termasuk usia yang renta dari sisi kekuatan jasmani, akan tetapi yang dimaksud adalah kekuatan otak untuk berpikir. Karena itu orang yang hilang akal pikirannya lebih menyusahkan daripada orang yang lumpuh atau sejenisnya.


6. Besarnya fitnah dunia berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia.”


7. Besarnya adzab kubur berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan Aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.”


8. Menetapkan adanya adzab kubur berdasarkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan Aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur” dan perkara itu banyak disebutkan dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, demikian pula dalam Al-Qur`an dan penetapan adzab kubur ini disepakati Ahlussunnah.


9. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mampu menolak bahaya dan tidak pula mendatangkan manfaat contohnya beliau berlindung kepada Allah dari hal tersebut di atas, seandainya beliau mampu melakukannya niscaya tidak akan berlindung kepada Allah darinya. Beliau tidak mampu melakukan untuk dirinya sendiri tidak pula terhadap orang lain. Firman Allah Ta’ala, “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya.” (QS. Al-Jinn: 21-22).


Firman Allah Ta’ala, Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku… (QS. Al-An’aam: 50).


10. Disyariatkan untuk mengeraskan doa ini berdasarkan riwayat, “Beliau memulai dengannya.” sebagaimana juga disyariatkan untuk mengeraskan setiap dzikir setelah shalat.


Dalam shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa mengangkat suara saat berdzikir ada di zaman Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Ibnu Abbas dahulu mengetahui kalau mereka selesai shalat apabila mendengar Nabi.[2] Perkara ini jelas sekali.


Sesungguhnya mengeraskan zikir itu sunnah, adapun seseorang yang mengatakan, “Mengeraskan zikir itu sunnah dalam bacaan tahlil saja sedangkan yang lainnya dibaca pelan.” Pembagian ini termasuk bid’ah, siapa yang mengatakan kepadamu mengeraskan bacaan tahlil dan yang lain secara pelan padahal semua itu dzikir?”


__________________________


[1] HR. At-Tirmidzi Kitab Doa-doa Nabi dan Berdoa meminta perlindungan selesai shalat (nomor 3567) dan HR. An-Nasa`i Kitab Memohon perlindungan Bab Berlindung dari sikap kikir (nomor 5447).


[2] HR. Al-Bukhari Kitab Adzan bab Dzikir setelah shalat (nomor 841) HR. Muslim Kitab Masjid dan tempat-tempat shalat, bab dzikir setelah shalat (nomor 583.)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dzikir dan Doa yang Dibaca Setelah Shalat Wajib (2)"

Post a Comment