Jawaban ICMS Terhadap Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean

DETIKISLAM.COM – Awal tahun 2015 akan dilaksanakan MEA. Bagaimanakah modal Indonesia untuk menghadapinya? Angkatan kerja Indonesia pada Agustus 2013 akan mencapai 118.19 juta orang (sumber : survei angkatan kerja nasional). Tingkat pendapatan per kapita Indonesia per tahun hanya 4.700 dolar AS, sedang Malaysia 13.000 dolar AS, dan Singapura 51.000 dolar. Jika dilihat dari rendahnya pendapatan perkapita Indonesia, maka akan terbayang bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia dan tingkat pendidikan rata-rata penduduknya. Maka hal tersebut juga berpengaruh terhadap kualitas para pekerjanya. Dibandingkan dengan angkatan kerja rata-rata negara Asean, Indonesia termasuk pada tingkatan yang tergolong rendah.


Kekhawatiran tidak saja melanda kalangan pelaku bisnis, tetapi juga dikalangan praktisi akademis. Apakah tenaga kerja Indonesia mampu menjawab tantangan MEA 2015? Karena MEA bukan hanya produk (barang) saja yang bebas keluar masuk negara Asean tetapi juga tenaga kerja. Sebagaimana dimaklumi, bahwa perguruan tinggi merupakan wadah untuk membentuk manusia unggul. Menurut Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Mustafa Edwin Nasution pada seminar nasional “Ekonomi Syariah Indonesia Menghadapi MEA 2015″, di Kampus FKG Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Bintaro, Jakarta Selatan, Sabtu. Ketika ditanya penyiapan SDM dari perguruan tinggi, Mustafa mengatakan, penyiapan SDM membutuhkan waktu panjang antara 3-5 tahun, sehingga sekarang yang diperlukan terlebih dulu program pelatihan dan kursus secara cepat dan tepat untuk mengisi SDM di sektor industri, jasa dan perdagangan dalam menghadapi MEA 2015.


Pemaksaan terhadap SDM kita dengan cara yang prematur akan membuat hasil yang prematur pula. Dunia pendidikan kita dipaksa untuk mengikuti MEA. Seakan-akan menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan. Padahal MEA merupakan strategi barat untuk mengambil alih ekonomi Asean secara tidak langsung. Ide barat adalah adanya globalisasi terhadap seluruh sektor ekonomi. Bukan hanya sumber daya alam sebagai bahan baku tetapi juga SDM sebagai buruh. Target utama adalah negara yang memiliki kekayaan alam melimpah sebagai bahan baku industri murah. Dan negara dengan penduduk yang banyak sebagai tenaga kerja murah dan pasar bagi produk mereka. MEA merupakan langkah awal menuju globalisasi ekonomi pada masa mendatang.


ICMS merupakan kongres terbuka mahasiswa yang terbesar. Diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia di 80 kota di Indonesia, dihadiri oleh 25.000 mahasiswa.. Dengan tema “ We Need Khilafah, Not Democracy and Liberal Capitalism”. Mengajak kepada seluruh mahasiswa untuk melihat bahaya di balik pemberlakuan MEA tahun 2015 mendatang. Kita tidak membutuhkan MEA agar SDM kita bisa unggul. Kita juga tidak membutuhkan MEA agar kualitas produk kita terjaga. Atau hanya untuk alasan menambah daya saing mutu. Siapapun mengetahui bahwa berkualitas atau tidak sebuah produk ditentukan oleh bahan baku terbaik, pengolahan dengan sistem dan alat yang memadai serta kualitas pekerja yang bagus. Ditunjang dengan regulasi kebijakan pemerintah untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan sektor usaha. Bukan dengan adanya MEA atau pasar bebas Asean.


Dengan kualitas SDM kita yang seperti sekarang ini, ditambah sikap pemerintah yang mendukung dan menerapkan sistem ekonomi Liberal bisa dipastikan sistem ekonomi Indonesia akan semakin terpuruk. Belum lagi dampak sosial berupa gaya hidup, life style, yang turut masuk Indonesia bersama para pekerja dari luar negeri.


Maka bersiaplah Indonesia yang jumlah penduduknya lebih dari 250 juta jiwa dengan kekayaan alam yang melimpah. Terdapat sekitar 32.000 pulau yang terbentang seluas 4 juta km2 lebih. Sampai tahun 2010 Indonesia masih menjadi salah satu produsen besar di dunia untuk berbagai komoditas, antara lain sawit, kakao, timah, nikel, dan bauksit, besi baja, tembaga, karet dan juga perikanan, akan menjadi buruh di negerinya sendiri.


Maka menjadi tugas di pundak mahasiswa untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap kondisi masa depan bangsa dan menyadari bahwa satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah berusaha berjuang untuk menegakkan kehidupan Islam.[]Oleh : Heni Satika (Pendidik di Sekolah Alam Mutiara Umat Tulungagung)


massa icms


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jawaban ICMS Terhadap Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean"

Post a Comment