Menganggap Guru Sebagai “Ayah”?



Dalam ajaran Islam tidak boleh menisbatkan nasab dengan orang yang bukan menjadi ayahnya. Sebagiamana terdapat dalam Al-Quran. Meskipun sudah dianggap sebagai bapaka atau menjadi bapak angkat. Allah Ta’ala berfirman, ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ […]





Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Menganggap Guru Sebagai “Ayah”?"

Post a Comment