Bandung – Angin puting beliung dan hujan besar menghancurkan atap perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunung Gunung Djati Bandung, Jalan AH Nasution, Kamis (18/12/2014). Rangka baja beserta atapnya beterbangan. Ada yang menimpa bus kampus dan juga masjid.
Menurut Dosen UIN Bandung Roni Tabroni, suasana kampus UIN malam ini berantakan. “Atap perpustakaan hancur. Atap bagian barat kosong, pada terbang. Puncak atap juga terbang, sudah melompong,” ujar Roni saat dihubungi detikcom.
Rangka baja dan atap perpustakaan ada yang menimpa tiga bus kampus yang terparkir dekat aula, sekitar 50 meter dari perpustakaan. Ada juga rangka baja dengan diameter 5×10 meter menimpa masjid.
“Atap gypsum perpustakaan juga ini berserakan di bawah,” ujar Roni yang kebetulan sedang melintas depan kampus.
Rangka baja atap perpustakaan juga terlihat berserakan di sekitar aula. “Perpustakaan ini memang posisinya di bagian barat paling tinggi. Jadi kalau ada angin dari arah barat, pasti ini yang pertama kena. Kalau bangunan lain saya belum mendapat kabar,” ujar Roni.
Saat ditanya bagaimana dengan nasib ribuan buku yang berada dalam perpustakaan, Roni mengaku tidak mengetahui persis. “Ini perpustakaan gelap, tidak ada petugas. Ya kemungkinan basah kena air hujan,” sesalnya.
Sementara itu menurut Kapolsek Panyileukan Kompol Sumi M, pohon tumbang terjadi di depan kampus UIN dan depan Borma Cilengkrang. Akibatnya terjadi kemacetan. Namun sekitar pukul 18.00 WIB, petugas telah berhasil mengevakuasi pohon itu ke pinggir jalan.
(ern/ern) Erna Mardiana – detikNews, Kamis, 18/12/2014 19:15 WIB
***
Kenapa Negeri Ini Sering Ada Bencana dan Musibah
By nahimunkar.com on 17 December 2014
Musibah yang menimpa manusia sebenarnya adalah karena dosa dan maksiat yang mereka perbuat.
Oleh Hartono Ahmad Jaiz
Kesyirikan merajalela di mana-mana, bahkan seolah digalakkan pula demi meraih secuil dunia dengan dalih macam-macam. Lihat saja betapa banyaknya orang yang mondar-mandir sana-sini untuk ngalap berkah ke tempat-tempat yang dikeramatkan, padahal tidak sesuai tuntunan Islam. Namun itu seakan digalakkan oleh sebagian pemuka agama dan penguasa-penguasa daerah. Perdukunan dengan uba rampenya (tetek bengeknya) pun semarak di mana-mana dan diikuti. Ada yang memakai jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, mendatangi kubur para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa, bahkan mungkin ada yang meminta kepada isi kubur agar lancar rejeki dan jodohnya. Ini bukan cari berkah tetapi justru mencari jalan penghancur iman.
Ada yang mengada-adakan ritual-ritual yang tidak dituntunkan dalam syari’at Allah Ta’ala. Padahal yang berhak membuat ritual (syari’at ibadah) itu hanya Allah Ta’ala dan hanya untuk Allah Ta’ala. Namun manusia ini tidak sedikit yang lancang, hingga menjerumuskan sejumlah banyak manusia. Lalu mereka para pembuat dan pengamal ritual bikinan itu berkongkalikong dengan para penguasa setempat hingga bertambah-tambah saja kelangsungannya. Karena yang satu agar ritual sesatnya tidak dilarang oleh penguasa, sedang pihak penguasa atau yang mencalonkan diri serta ingin melanjutkan kekuasaannya menginginkan dukungan massa dari kelompok sesat-sesat itu. Maka terjadilah persekongkolan di atas kesesatan.
Bahkan kini diracang RUU yang akan melindungi model-model kesesatan semacam ini, tetapi atas nama RUU Pelindungan Umat Beragama. Ini lebih buruk dibading membuat program atas nama anti virus namun dimaksudkan untuk melindungi virus. Membuat RUU Perlindungan Umat Beragama namun ditujukan untuk melindungi yang sesat-sesat seperti Syiah, Ahmadiyah, LDII, Bahai, Inkar Sunnah dan sebagainya agar tetap dibolehkan untuk mengamalkan kesesatannya. (Padahal tentunya pasti merusak agama yang murni yang seharusnya dilindungi). Sedangkan UU tentang Penodaan Agama yang dimaksudkan untuk melindungi agama justru mereka upayakan untuk dihapus. Betapa mengerikannya lakon manusia-manusia perusak namun mengaku pembangun di dunia ini. Dan itu jelas beresiko mendatangkan murka Allah Ta’ala, dan meresahkan Umat Islam.
Lebih dari itu, ketika manusia ini diingatkan dengan kejadian datangnya bencana pun kemudian belum tentu mereka mau ingat, belum tentu mengakui bahwa datangnya bencana itu akibat perbuatan salah dan berdosa. Sehingga begitu bencana menimpa, sebagian manusia justu menebalkan praktek kemusyrikannya. Misalnya mengundang dukun untuk larung atau labuh sesaji, menyembelih binatang untuk tumbal dengan aneka kemusyrikannya. Lebih memalukan lagi, air bekas cuci kaki orang yang dianggap sukses hidupnya pun dijadikan rebutan untuk dialap berkahnya. Na’udzubillahi min dzalik.
Berita memilukan bagi yang prihatin akan rusaknya akidah umat pun muncul bahwa karena Dianggap Bawa Berkah, Warga Berebut Air Sisa Cuci Tangan Jokowi. Itu terjadi di tempat bencana longsor di Banjarnegara Jawa Tengah pertengahan Desember 2014. Di antara alasannya: “Buat barokah. Ini kan tadi sudah dipakai Presiden. Siapa tahu nasib berubah,” kata di antara pelakunya. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung dari hal yang demikian. (nahimunkar.com on 15 December 2014). Selanjutnya silakan baca di link ini http://ift.tt/1yYfLpp
(nahimunkar.com)
'Puting Beliung Hancurkan Atap Perpustakaan UIN Bandung' dapat dibaca di Nahimunkar.com.
0 Response to "Puting Beliung Hancurkan Atap Perpustakaan UIN Bandung"
Post a Comment