Jihad fi sabilillah adalah salah satu ibadah terbesar yang disukai Allah. Oleh karena itu, mempersiapkan realisasinya dengan bekal iman, ikhlas, mutaba’ah, sabar dan memperkokoh tali hubungan dengan Allah, adalah perkara wajib yang harus dipenuhi. Jika tidak, kekuatan akan runtuh dan semangat akan memudar.
Di samping jihad sebagai amalan terbesar dalam Islam, berjihad di jalan Allah bukan perkara mudah. Di sana akan banyak aral melintang dan hadangan yang selalu menerjang. Menjadikan pelaku di dalamnya, menjadi orang-orang pilihan. Tidak semua insan mampu memikul beban-beban di medan jihad.
Persiapan dan i’dad adalah perkara urgen yang harus ada di setiap diri muslim. Sehingga ia rela memberikan segala jiwa raganya untuk keperluan perjuangan Islam dan menjadi seorang mujahid yang bertempur bagi kemuliaan Islam. Harta, jiwa, raga dan tenaga harus dikerahkan secara totalitas untuk tujuan yang mulia.
Akan tetapi, persiapan fisik dan materi bukanlah penentu mutlak kemenangan. Seorang mujahid bukan orang super yang tidak butuh akan pertolongan. Pertolongan Allah sangat dibutuhkan manakala ujian menerpa dan hantaman musuh-musuh Allah datang silih berganti. Seorang mujahid membutuhkan pegangan yang kuat agar bisa bertahan di jalan jihad. Tidak terpental ke tepian atau bahkan terjungkal dari jalan mulia ini.
Di antara bentuk persiapan yang mampu mendatangkan pertolongan Allah adalah persiapan iman; baik secara ilmu, praktek dan cara bersikap. Hal itu diaplikasikan dalam cara menjauhi maksiat, perbuatan dosa, akhlak yang buruk dan rasa cinta kepada dunia. Karena hal itu merupakan sebab kemunduran dan kekalahan.
Dalam Shahih-nya, Al-Bukhari menyebutkan pada kitab Al-Jihad: “Bab amal shalih sebelum berperang, berkata Abu Darda’, “Sebenarnya kalian berperang dengan amalan-amalan kalian.” (Lihat Shahih Bukhari 3/1033)
Ini menunjukkan begitu pentingnya tazkiyah (penyucian jiwa), tarbiyah (pembinaan) dan adab bagi mujahid. Sebuah perbuatan terpuji bagi orang yang harta dan jiwanya telah dibeli oleh Allah ta’ala. Allah berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّۭا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ ۚ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah : 111)
Pentingnya Tazkiyah bagi Kemenangan
Bila kita membaca buku-buku para ulama baik era dulu maupun sekarang, di dalamnya selalu ada bab tentang Adab, Suluk (Akhlak) dan Raqaiq –tema raqaiq adalah peringatan, pelajaran dan hukum yang bisa menjadikan hati lunak, tema-tema seputar pensucian jiwa.
Bahkan Syaikh Abu Mus’ab As-Suri tetap mencantumkan sebuah bab khusus yang membahas masalah ini dengan judul Al-Adab wal ‘Ibadah wal Akhlak wal Raqaiq dalam buku monumentalnya, Dakwah Al-Muqowamah Al-Islamiyah Al-‘Alamiyah. Padahal buku itu secara umum mengupas konsep dan strategi perlawanan jihad global.
Oleh karena itu, bila seorang aktivis Islam tidak memperhatikan masalah adab, suluk dan raqaiq atau tidak mendapatkan pembinaan yang memadai dalam masalah ini, maka keringlah ruhiahnya. Adabnya menjadi kurang, terutama kepada orang yang lebih tua, lebih berilmu atau kepada pemimpinnya.
Ia akan menjadi mujahid yang kurang bisa menghormati dan menghargai sesama muslim, arogan, angkuh dan kasar kepada orang yang berada pada posisi lemah. Baik karena rendahnya pendidikan, posisi dalam struktur organisasi, sedikitnya harta, dan tingkat kesenioritasan.
Untuk menanggulangi persoalan penting ini, kita perlu membersihkan kembali hati dan jiwa. Kekuatan materi yang kita punyai; baik dari segi persenjataan, fisik, logistik dan kematangan perencanaan akan sirna jika hati kotor dan jauh dari adab yang mulia. Pertolongan Allah akan datang jika mendekat pada-Nya dengan hati yang sehat.
Kita berbeda dengan orang kafir yang berjuang karena dunia, mereka tidak memiliki konsep pensucian hati dan jiwa. Pikiran mereka materialistis dan segalanya dihitung secara matematika. Berbeda dengan kita yang memiliki Allah sebagai penolong, Dia hanya akan menolong hamba-Nya yang ikhlas lagi bersih hatinya.
Hati yang Sehat beserta Cirinya
Pondasi akhlak dan adab yang semestinya disandang setiap muslim—apalagi mujahid—adalah amalan-amalan hati. Karena atas dasar itulah, amal-amal lahiriyah dibangun. Sedangkan amalan hati yang paling besar dan utama adalah mahabbah—cinta kepada Allah—yang membawa seseorang untuk pasrah kepada-Nya, membenarkan firman-Nya dan beramal hanya untuk-Nya.
Inilah hati yang sehat, yang membuat pemiliknya bersih. Sekaligus, nantinya akan membuahkan segala sifat kebaikan baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, harus berhenti sejenak untuk mengenali lebih dalam bagaimanakah sebenarnya hati yang sehat itu, dan apa hubungannya dengan akhlak dan adab.
Tanda Hati yang Sehat
Di antara tanda hati yang sehat adalah pasrah, tunduk dan menerima semua yang dikabarkan Allah dan Rasul-Nya. Baik kabar tentang peristiwa di masa lampau, peristiwa ghaib yang bakal terjadi di masa mendatang, dan semua kabar yang tidak bisa dinalar akal tentang sifat, hikmah dan perbuatan-Nya.
Allah berfirman
وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ
“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari isi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imron : 7)
Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata,”Ubudiyah dan iman kepada Allah, kitab-kitab-Nya serta rasul-rasul-Nya dibangun atas dasar kepasrahan dan tidak mempertanyakan rincian hikmah di balik berbagai perintah, larangan dan syariat; oleh karena itu tidak pernah Allah menceritakan bahwa umat yang membenarkan danmengimani nabi-Nya bertanya tentang rincian hikmah di balik perintah, larangan dan syariat yang ia sampaikan dari Allah kepada mereka..”
Lebih lanjut beliau berkata,”…jika syariat menjelaskan hikmah dari suatu perintah, atau perintah itu masuk akal, maka itu untuk semakin menguatkan bashirah sekaligus penyemangat untuk melaksanakannya, namun jika tidak terlihat hikmah di balik suatu perintah maka itu tidak semestinya mengurangi ketundukan seseorang atau membuatnya malas mengerjakannya.” (Lihat As-Shawaiq Al-Mursalah 4/1560-1561)
Buah dari kepasrahan kepada takdir Allah adalah sabar, ridha, rasa tenang dan baik sangka kepada Allah ta’la. Semua ini adalah amalan hati yang mutlak diperlukan oleh seorang mujahid, karena amalan tersebut yang akan mendatangkan pertolongan dari Allah.
Buah lain dari kepasrahan terhadap takdir Allah adalah selamatnya hati dari iri, dengki dan benci kepada sesama muslim; sebab dalam hasad itu sebenarnya terdapat unsur “protes” terhadap takdir dan pembagian rizki Allah kepada hamba-Nya.
Cinta kepada Allah adalah terbebasnya hati dari segala bentuk cinta yang bertentangan kepada selain-Nya. Allah berfirman
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌۭ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍۢ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.’.” (QS. At-Taubah : 29)
Mahabbah adalah pokok ibadah dan buah dari makrifat terhadap Allah, juga terhadap asma’ dan sifat-sifat-Nya. Konsekuensi mahabbah adalah mentauhidkan dan mentaati Allah. Semakin kuat mahabbah seorang hamba, semakin nampak pengaruhnya dalam bentuk ketundukan total kepada perintah Allah.
Efek lain dari mahabbah ini adalah terjauhkannya seseorang dari fanatisme golongan (hizbiyah) yang tercela dan panji-panji yang dibangun di atas kepentingan kelompok atau ambisi-ambisi duniawi.
Dengan mahabbah inilah, orang yang dibenci Allah tak mungkin berubah menjadi pihak yang dicintai walaupun dia berbuat baik, sebagaimana orang yang dicintai Allah tak bisa menjadi musuh yang dibenci jika suatu saat ia melakukan suatu hal yang tidak menyenangkan atau menyakitkan.
Mujahidin dan orang-orang yang menyiapkan diri untuk mengemban amanah jihad sangat membutuhkan penguatan amalan hati yang mulia ini—mahabbah, supaya mereka tidak terjebak masuk di bawah panji-panji fanatik buta atau terkotori oleh debu-debu hizbiyah, faham kebangsaan (wathaniyah), dan nasionalisme.
Disadur dari kitab Daliilu Mujaahidiin karya DR. Muhammad bin Faishal Al-Ahdal
Penulis: Dhani el_Ashim
The post Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid: Sucikan Hati Rajut Kemenangan (1) appeared first on Kiblat.net.
0 Response to "Serial Tazkiyatun Nafs Mujahid: Sucikan Hati Rajut Kemenangan (1)"
Post a Comment