Belajar Bertanggungjawab di Jalanan

DETIKISLAM.COM – Kapan pertama kali Anda mengendarai kendaraan di jalanan?

Saya kelas 2 SD. Tentu saja yang saya kendarai adalah sepeda. Sebenarnya umur 4 tahun pernah bisa memakai sepeda roda dua kecil milik tetangga. Tetapi itu belum dihitung, karena cuma di halaman rumah, tidak pergi ke jalanan umum. Kakak saya sampai “kesal” ngajari naik sepeda, karena saya tidak bisa-bisa. Maklum sepedanya gedhe, orang menyebut “sepeda onta”, karena kalau saya naik pasti kaki tidak sampai ke tanah.


Kelas 2 SD itu saya main ke teman yang lagi belajar naik sepeda. Ibunya menyemangatinya dengan bilang, “Contoh Fahmi tuh, sudah pandai naik sepeda”. Padahal sejatinya saya belum pernah naik sepeda sendiri. Tetapi tiba-tiba jadi ingin mencoba, memberi contoh. Dan wuss, alhamdulillah koq bisa seimbang ya … :-)


Sejak itu saya terus kecanduan naik sepeda ke mana-mana. Di Kota Magelang itu medannya berkontur. Jadi asyik kalau pas turunan. Walaupun naiknya berat. Saya kadang mikir, saya bolehin gak ya, anak saya usia 9 tahun berkeliaran naik sepeda seperti waktu saya kecil dulu?


Saat SMP, sekolah saya jarak langsungnya kira-kira 2 km. Biasanya orang naik angkot. Tetapi rute angkotnya muter-muter, jadi akhirnya saya lebih suka naik sepeda. Walaupun kalau pas hujan ya basah, sekalipun pakai mantel. Demikian terus sampai SMA, saya pernah Magelang-Jogja sekitar 50 km naik sepeda, dan di Jogja putar-putar beberapa hari, juga naik sepeda. Ketika saya bersekolah di Austria, saya juga bersepeda, bahkan sampai ke Jerman, walaupun dicampur naik kereta api … :-)


Saat SMP juga, saya direkrut ikut Patroli Keamanan Sekolah (PKS). Dilatih oleh Polres tentang aturan lalu lintas, kemudian diminta ikut mengatur lalu lintas tiap pagi di sekitar sekolah. Jadi tiap hari Senin pagi pukul 6.30 saya berdiri di tengah perempatan, pakai topi, kaos tangan dan peluit mirip polisi. Kalau saya meniup peluit panjang dan telapak tangan kanan ke atas, maka lalu lintas dari seluruh penjuru akan berhenti. Lalu saya mempersilakan anak-anak sekolah menyeberang. Kadang ngeri juga, ada pemotor yang tidak tahu aturan, terus menyelonong, hampir menabrak saya.


Saat SMA, saya mulai belajar bawa motor. Kelas 2 SMA, usia sudah 17 tahun, di sekolah ada pembuatan SIM-C kolektif. Ini program resmi polisi, semacam pemutihan, karena sudah banyak yang bawa motor tapi belum punya SIM. Tapi saya pikir malpraktek, karena banyak juga teman yang belum fasih bawa motor, ikut program ini. Dari sekitar 100 orang yang ikut, cuma 2 yang diuji. Itupun bikin angka 8 masih pakai kaki menjejak tanah. Tapi oleh polisi dianggap lulus. Lalu pas ujian tertulis, jawabannya diberitahu oleh polwan yang menjaga. Ah minimal saya gak bego-bego amat.


Pernah, baru dapat SIM sementara, saya naik motor di jalanan yang sepi, eh ditabrak anak kecil yang mengejar layang-layang. Saya jatuh, luka-luka. Si anak itu cuma benjol di kepalanya, kena stang motor. Tapi motornya jadi rusak. Stangnya tidak bisa dibelokkan penuh. Padahal motor orang …


Tahun 1987, helm baru dianjurkan, belum diwajibkan. Tapi saya termasuk yang agak awal menyadari pentingnya helm. Tahun 1987 saya bawa motor, tiba-tiba ada angkot menepi di depan saya (mau nurunin penumpang). Saya kagok, motor jatuh, saya jatuh dan berguling dengan kepala kena aspal. Alhamdulillah pakai helm. Kalau tidak, barangkali sekarang saya tidak bisa lagi menulis catatan ini … :-)


Awal 1988, saya sudah di Innsbruck, Austria. Ada paman saya yang kerja di Depag berpesan, kalau bisa segera bikin SIM A, agar nanti bisa membantunya di tim haji di Mekkah. Maka saya lalu mendaftar kursus setir mobil. Di Austria, semua orang yang akan ujian sim, wajib sekolah setir mobil, dengan minimal 20 jam praktek. Di kelas diajari banyak teori, misalnya teori “DUA PRINSIP KESELAMATAN BERKENDARAAN”. Pertama prinsip “Fahren auf Sicht” (Berkendaraan di jalan yang terlihat). Kedua “Vertrauen-grundsatz” (Prinsip percaya).


Prinsip pertama mengajarkan agar kecepatan kita sebatas jarak pandang kita. Bahkan kami diajari, kalau kecepatan mobil misalnya 36 km/jam, maka berapa jarak aman dengan mobil di depan? Kalau saya punya reaksi setengah detik dan mobil bisa saya hentikan dalam setengah detik berikutnya, maka itu berarti 10 meter. Artinya, kalau 10 meter di depan saya ada motor yang terjatuh, maka dalam sedetik saya berhenti tepat sebelum melindasnya. Ini kalau kecepatannya 36 km/jam dan reaksi saya setengah detik. Kalau kecepatannya 108 km/jam, dan reaksi saya ternyata sedetik, dan sedetik kemudian untuk berhenti, maka saya perlu jarak aman minimal 60 meter. Soal jarak aman ini kalau diujikan di Indonesia pasti jarang yang tahu, karena tidak pernah diajarkan di manapun.


Prinsip kedua mengajarkan agar kita percaya bahwa orang lain juga mematuhi aturan lalu lintas. Artinya, kalau memang lampu merah ya jangan nyerobot, karena yang hijau pasti sedang dipakai orang lain. Saya pernah ke Jordania, di sana lampu merah malah pada jalan terus, sementara kalau hijau orang malah berhenti, takut yang lampunya sudah merah masih nyerobot. Akhirnya jadi terbalik-balik begitu. Padahal konon Jordania negeri muslim.


Saya kira dua prinsip ini di Indonesia tidak pernah diajarkan, apalagi diikuti. Orang malah menyalahkan polisi kalau ujian tidak lulus, padahal ya salah sendiri kenapa tidak ikut sekolah mengemudi. Di Indonesia sekolah mengemudi hanya untuk mobil. Di Austria juga ada untuk motor, bahkan sepertinya ujian motor lebih berat, karena pakai motor gede yang 350 cc. Di Austria, guru mengemudi juga ada sertifikasinya dan ada asosiasi profesinya. Makanya mahal juga jam prakteknya. Seingat saya, waktu itu saya bayar sekitar 150 Schilling/jam (sekitar 15 US$). Pernah saya dijadwal 2 jam, eh ketiduran. Hilang dech uang sebanyak itu …


Fahrschule


Karena saya belajar nyetir di Austria, dan kebetulan pas musim dingin, saya jadi belajar rasanya tergelincir di jalan yang berselimut es. Juga belajar cara memantau air radiator jangan sampai beku, mengganti ban dengan ban khusus winter, atau bahkan memasang rantai salju.


Pas ujian, di sana ujian tertulis dan praktek sendiri-sendiri, tidak saling tergantung. Saya tertulis lulus dulu, bahkan cukup bagus. Tetapi pas praktek saya terpaksa tiga kali. Kami praktek di jalanan umum. Penguji duduk di belakang. Yang pertama sebenarnya sudah cukup bagus, sampai saya tiba di suatu jembatan layang sempit yang ada garis kuning pemisah jalur. Ada sebuah mobil penyapu jalan agak jauh di depan saya. Kondisi agak macet. Saya lihat banyak mobil di depan saya menyalip mobil penyapu jalan itu, otomatis menginjak garis kuning. Saya ikut-ikutan. Eh langsung penguji menyuruh saya minggir. “Maaf, Anda melakukan pelanggaran berat, silakan mengulang lagi dua minggu lagi”, katanya pendek. Saya pun langsung lemas. Di Austria, setiap ujian kita membayar 1400 Schilling (atau setara 140 US$).


Pas ujian yang kedua, saya kembali dibawa masuk kota, kembali lewat jalan-jalan sempit. Tiba-tiba disuruh belok kanan. Saya kagok, akhirnya roda kanan belakang menginjak trotoar. Langsung dech, tidak lulus lagi. Saya baru lulus di kesempatan ketiga. Konon kalau tiga kali tidak lulus, harus ikut psikotest. Wow … Yang jelas, saya keluar uang hampir 10.000 Schilling (atau 1000 US$) untuk SIM-A saya. Saya ambil hikmahnya. Saya harus menjadi sopir yang aman. Kalau ugal-ugalan, Allah bisa menghukum lebih mahal lagi, bisa berupa kecelakaan yang membuat cedera atau rusaknya kendaraan. Hebatnya, di Austria, SIM-A saya berlaku seumur hidup. Tetapi kalau saya melakukan pelanggaran berat, apalagi tertangkap menyetir sambil mabuk, SIM itu bisa disita, dan untuk mengambilnya lagi harus ujian lagi, setelah menjalani larangan nyetir beberapa tahun. Waduh … keluar duit lagi dong.


Tapi setelah punya SIM, ternyata saya juga jarang bawa mobil. Di Austria beli mobil itu murah. Ada Mercy second, usia 10 tahun, harganya sama dengan SIM saya … :-) Yang mahal itu pajak dan asuransi wajibnya, bisa lebih besar dari harga mobilnya. Ada asuransi bernama “Asuransi tanggungjawab sosial” (Haftplichtversicherung). Ini asuransi yang akan diberikan ke korban kalau kita mencelakakan atau merugikan seseorang. Dan makin tua sebuah mobil, asuransi tanggungjawab sosial itu makin besar, karena risiko celaka mobil itu makin tinggi.


Di Austria yang diberi insentif gila-gilaan itu angkutan umum dan sepeda. Jadi akhirnya saya lebih banyak naik sepeda dan kereta listrik. Punya SIM mobil hanya untuk jaga-jaga kalau pergi-pergi sama bule, lalu mereka pada mabuk, jadi saya siap-siap menggantikan. Tapi ternyata ini jarang juga, karena kesadaran mereka sangat tinggi. Kalau mereka di pesta minum bir, pasti ada satu dua orang yang diundi untuk tidak ikutan minum, walaupun setetes, karena punya tugas nyetir pulangnya nanti.


Begitu tahun 1997 pulang ke Indonesia, saya praktis “belajar nyetir ulang”. Dengan SIM-A Austria (ditambah SIM Internasional) saya bisa mendapatkan dengan mudah SIM-A Indonesia. Tetapi pas awal-awal menyetir di Indonesia saya terus terang agak takut berkendaraan di sini. Bukan karena di sini setirnya di kanan (di Austria di kiri), tetapi juga kondisi jalanan dan lalu lintasnya beda sekali. Terlalu banyak orang tidak bisa dipercaya. Orang berani ngebut dengan jarak aman cuma sepersepuluh detik (kecepatan 100 km/h, tapi jarak cuma 5 meter). Sepertinya di Indonesia itu orang sudah pada yakin dengan amalnya, jadi kalau mati pasti masuk surga :-) Banyak motor berjalan menentang arus. Banyak orang parkir terlalu rapat. Makanya di Indonesia sayang mobil yang terlalu mulus, karena nanti pasti tergores juga oleh orang yang baru belajar parkir … :-)


Pertama-tama saya beradaptasi dengan mobil Daihatsu-Hijet punya kakak saya. Itu mobil sudah hampir 20 tahun. Serasa jadi sopir angkot lah. Kemudian di kantor saya dipinjami mobil operasional Kijang Ertiga. Lho apa sudah ada Kijang Ertiga? Iya, maksudnya R-3: Ra-AC-an (tak ada AC-nya), Ra-power-steering-an (tak ada power steering) dan Ra-radio-nan (tak ada hiburan radio/music) :-) Saya sempat bawa semprotan air agar di mobil tidak terlalu gerah kalau dibawa ke Jakarta … Belakangan saya pakai juga mobil kantor berbagai type. Ada Suzuki Jimny double gardan, tetapi pas di tol Jagorawi, salah satu gardannya patah dan jatuh di jalan …. akhirnya diderek dech. Ada juga Daihatsu Feroza, yang dari luar kelihatan gagah, tetapi dalamnya sempit banget. Ada mobil kantor tapi plat hitam (konon dibeli dari uang “taktis”): sedan Ford Laser bekas taksi Presiden, tapi mesinnya sudah ganti. Pernah sedan ini disuruh bawa ibu-ibu tetangga ke pengantin di kampung. Di tengah jalan, saya lihat jalannya terlalu bergelombang. Daripada nyangkut, ibu-ibu ini saya minta turun dan meneruskan perjalanan jalan kaki. Kayaknya di Indonesia memang orang kampung dilarang bawa sedan :- ). Mobil ini juga pernah “black out” (mati seluruh sistem listriknya) di jalan tol, di malam hari. Untung saya tidak panik, dan tidak disruduk mobil lain. Saya masih sempat menepi, menunggu diderek. Kenyang dech segala persoalan dengan mobil yang tidak karuan. Ada bahkan salah satu mobil yang saya pakai itu yang begitu “ancur”, dan jendelanya tidak bisa ditutup rapat. Tetapi saya pede saja memarkirnya di pinggir jalan. Saya kira tidak ada curanmor yang tertarik mengambilnya, bikin sengsara dia saja … :-)


Mobil kantor itu banyak yang perawatannya asal-asalan. Dulu ada montir kantor, tetapi ketika pensiun, tidak diganti lagi. Perawatan diserahkan masing-masing yang pegang, yang tidak selalu ngerti mesin. Jimny yang saya pakai itu, oleh pengguna sebelumnya hanya disisain oli secangkir. Seluruh indikatornya (tachometer, bensin, dll) sudah tidak jalan. Jadi kita tidak pernah tahu, ini bensin masih cukup gak ya? Kata pengguna sebelumnya, “Ini servisnya mahal pak, bisa jutaan, kantor gak punya duit”. Saya bawa ke bengkel Pak Ujang, eh cuma disetel-setel, langsung beres semua. “Saya bayar berapa Pak Ujang?”. “Ah terserah Bapak, gak ada yang perlu diganti koq”. Wah orang kayak Pak Ujang ini langka sekali … Saya ke sana karena saya lihat senior saya bawa Mercy-nya ke sana, padahal senior saya itu ngerti mesin. Jadi ilmunya Pak Ujang pasti lebih tinggi …


Ketika saya jadi pejabat struktural, saya dipinjami mobil kijang capsul yang agak bagus. Hampir tidak pernah rewel. Paling ban kempes. Maklum sekarang banyak ranjau paku di jalan. Jadi kalau pegang mobil, harus bisa lah ganti ban! Ketika saya dengan sukses mengakhiri jabatan saya (tepatnya sih boss saya melihat saya lebih pantas jadi pejabat fungsional saja), maka mobil ditarik. Jadi untuk pertama kalinya, saya tidak pegang mobil apapun. Yach, ternyata memang repot juga … Padahal dulu biasa saja, naik ojeg, angkot terus jalan kaki. Tetapi kalau disuruh mendadak ke mana-mana, hujan lagi … wah … Lagipula koq orang sepertinya melihat profesor jalan kaki & naik angkot itu mahluk aneh … :-)


Akhirnya ya udah lah, saya ikutan bergabung ke komunitas pemilik mobil plat hitam juga. Akhirnya jadi juga kena lagu “Bayar bensin sendiri, Bayar pajak sendiri, Nyuci-nyuci sendiri, Service sendiri … ” :-). Kalau pejabat struktural, semua ada yang ngurusin. Tapi saya jadi lebih merasa mantap, kalau habis rapat dinas dengan DPR diminta belok, “Kang, ikutan aksi yuk di depan DPR!”. Sebelumnya kan aneh, tadi ikut rapat dengan dewan, habis itu mendemo dewan, mana mobilnya pelat merah lagi … :-).


Sebenarnya saya tetap lebih suka naik angkutan umum. Di jalan bisa sambil membaca atau menghafal Qur’an. Tapi pemerintah negeri ini kurang serius membangun angkutan umum. Di dekat terminal atau stasiun kereta terdekat juga jarang ada tempat parkir yang cukup. Angkutan umum juga nyaris tidak ada yang punya jadwal, apalagi dipatuhi. Akibatnya tiap hari, jutaan orang menghabiskan umurnya di kendaraan pribadi, sambil membuang CO2 cuma-cuma, yang berakibat iklim berubah.


Yang jelas, semua kendaraan itu hanya alat, sarana transportasi. Yang lebih penting adalah untuk apa transportasi itu? Untuk amal shaleh dan dakwah, atau untuk hal yang tidak jelas pahalanya?.[] Oleh : Prof. Ing. Fahmi Amhar (Peneliti Riset Termuda Yang Dikukuhkan di Indonesia | http://ift.tt/1vbiHN4)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Belajar Bertanggungjawab di Jalanan"

Post a Comment