Selama ini kita sering mendengar istilah anak durhaka. Anak yang tidak patuh kepada orang tuanya, melawan, membantah, hingga tidak mau mengakui ibunya layaknya Malin Kundang atau lebih parah, ingin menikahi ibunya layaknya Sangkuriang. Tapi apakah predikat itu hanya ada pada anak? Bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya? Orang tua yang dzalim kepada anak, tidak memberikan hak anak. Apakah ada istilah ayah durhaka atau ibu durhaka?
Teringat seorang teman yang tinggal disebuah desa di pojok Jawa Tengah. Seorang gadis yang masih malu untuk bertemu lelaki. Dipaksa menikah oleh orang tuanya. Sebabnya, sudah lelaki yang datang melamarnya, dan takut jadi perawan tua. Tanpa pertimbangan panjang seperti apa masa depan keduanya.
Hingga sampailah pada hari berbahagia itu (entah siapa yang bahagia). Semua terlihat indah. Mereka menikah, lalu tidak lama sang istri mual-mual, hamil muda. Waktu berjalan, sang suami yang hanya berkerja sebagai buruh serabutan jaga kandang ayam, mulai berat mencari nafkah. Selain untuk kebutuhan keluarga kecilnya, juga untuk mertua perempuan dan adik iparnya. Saat itu mertua laki-laki sudah meninggal.
Cobaan mulai datang, kebutuhan yang meningkat, ditambah persalinan yang semakin dekat, butuh biaya yang tidak bisa dibilang sedikit. Hingga sampailah pada hari persalinan yang ditunggu. Alhamdulillah, sang istri melahirkan normal, paling tidak biaya yang harus dikeluarkan tidak sebanyak persalinan Caesar. Namun, ada cobaan baru, tangan kanan bayi merah itu hanya sampai di pergelangan tangan. Tidak ada jari.
Sedih? Tentu saja. Ada ketakutan besar, bagaimana menghadapi masyarakat. Apalagi masyarakat desa yang sangat cepat laju penyebaran gosipnya. Cobaan mencapai klimaksnya. Entah siapa menyalahkan siapa. Semua saling menuduh. Hingga akhirnya sang suami diusir dari rumah mertuanya.
Hari berganti hari, masalah tak kunjung selesai. Sang suami yang telah menjadi ayah muda itu tidak pernah diijinkan melihat putranya sama sekali. Hampir setiap hari dia menunggu di depan rumah mertuanya, meminta untuk diijinkan masuk dan melihat anaknya yang baru lahir. Namun pintu rumah tidak pernah dibuka untuknya.
Singkat cerita, pasangan muda itu bercerai, atas perintah ibu dari pihak perempuan. Sekuat apapun sang suami meminta dah memohon, tidak digubris. Dia disalahkan atas lahirnya anak yang spesial itu. Berselang satu tahun dari perceraianitu sang (mantan) istri menikah lagi dan tidak lama setelahnya punya anak lagi. Atas ijin Allah pula, anak tersebut lahir seperti kebanyakan anak yang lain, dianugerahi fisik yang lengkap.
Dua anak yang terlahir berbeda membuat sang istri sulit untuk berlaku adil. Sang adik mendapat perhatian penuh. Sedang sang kakak, sering terlihat dibiarkan duduk di pojok ruangan atau diluar rumah saat ibu, ayah tiri, dan adiknya berkumpul. Berbeda dengan ayah kandungnya yang terus ingin bertemu anaknya, ayah tirinya tidak pernah memberikan perhatian khusus kepadanya.
Dari cerita diatas ada hikmah yang bisa kita ambil. Tentang hak seorang anak. Namun sebelumnya mari kita cermati cerita yang lain dari masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab.
Seorang lelaki tua nampak gusar, ia sengaja datang ke rumah Khalifah Umar bin Al-Khatthab ra. sambil membawa anak lelakinya, mengadukan masalahnya, ”Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku, wahai Amirul Mu’minin!”
Sang Khalifah mencoba membuka dialog dengan si anak, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena berbakti adalah hak bagi orang tua.”
“Wahai Amirul Mu’minin, bukankah anak juga mempunyai hak atas orang tuanya?” si anak lelaki itu bertanya kepada Umar ra.
“Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Quran,” jawab Khalifah Umar bin Al-Khatthab sesuai dengan apa yang dipesankan Rasulullah SAW.
Dengan nada sedih si anak tadi menimpali jawaban Umar ra, “ Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia juga tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Ju’al. Dan dia juga tidak mengajarkan Al-Quran kepadaku kecuali satu ayat saja.” Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek, atau orang yang emosional.
Khalifah Umar ra menoleh kepada sang ayah dan berkata, “Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu, tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Pergilah engkau dari hadapanku!” (As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin)
Mari kita pertemukan hadist ini dengan kisah diatas. Tentang hak anak. Dipilihkan orang tua yang baik (kalau lelaki mencarikan ibu yang baik, sedangkan untuk perempuan berlaku sebaliknya). Ini menjadi pilihan utama saat memutuskan untuk menikah, apakah yang akan dipilih bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak nanti atau justru sebaliknya. Apalagi dengan kondisi sang istri yang sudah punya anak dari pernikahan sebelumnya.
Memilihkan orang tua yang baik, menjadi hak anak yang pertama. Jadi kalau tidak memilihkan yang baik, benarkah bila ada istilah ibu durhaka atau ayah durhaka? Silahkan dijawab masing-masing. Wallahu’alam.
0 Response to "Durhakanya Ibu"
Post a Comment