Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (2/5): Antara Khawarij dan Rafidhah

Sikap ghuluw tidak hanya ada pada kelompok Khawarij saja. Akan tetapi juga muncul dari kelompok–kelompok yang lain—sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah. Dalam masalah ini terdapat kesamaan yang cukup banyak antara Khawarij dan Rafidhah, di antaranya adalah dalam masalah keluarnya mereka dari sunnah dan jamaah kaum muslimin, suka menciptakan bid’ah dalam agama, mengafirkan orang yang menyelisihi mereka kemudian menghalalkan darahnya.


Khawarij menisbatkan dirinya kepada Al-Qur’an, sedangkan Rafidhah mengaku dirinya pengikut Ahlul Bait, padahal ajaran mereka sama sekali tidak mencerminkan apa yang mereka ikuti. Selanjutnya mereka juga menyesatkan jumhur kaum muslimin.


Ibnu Taimiyah berkata, “Khawarij menisbatkan dirinya kepada Al-Qur’an, sedangkan Rafidhah mengaku dirinya pengikut Ahlul Bait, padahal ajaran mereka sama sekali tidak mencerminkan apa yang mereka ikuti.”


Dan di antara hal lain yang paling mencolok tentang adanya kesamaan antara Khawarij dan Rafidhah adalah mereka sama-sama menganggap sesat para pemimpin yang diberi petunjuk dan jamaah kaum muslimin. Selain itu, mereka gemar menciptakan perkara bid’ah dan mengafirkan setiap orang yang menyelisihi mereka serta menghalalkan darahnya.


“Di antara bentuk ahlu bid’ah adalah mereka menciptakan perkara bid’ah kemudian menjadikannya sebagai perkara wajib dalam beragama, bahkan mereka menjadikannya bagian dari keimanan yang harus diyakini, dan mengafirkan orang-orang yang menyelisihinya serta mengahlalkan darahnya. Dan itu yang dilakukan oleh orang Khawarij, Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah dan kolompok-kelompok lain yang semisal.” (Majmu’ Fatawa, 19/212)


Jika bid’ah Rafidhah lebih buruk dari pada bid’ah Khawarij dalam perkara iman dan syirik, maka bid’ah Khawarij lebih buruk daripada bid’ah Rafidhah dalam hal yang berkaitan dengan darah, merampas harta dan menggunakan senjata. Oleh karena itu, terdapat hadits yang memerintahkan untuk memerangi mereka (Khawarij).


Ibnu Taimiyah berkata, “Kerusakan yang paling menonjol pada kelompok Khawarij adalah menumpahkan darah, merampas harta dan keluar dari kepemimpinan dengan menggunakan pedang. Oleh karena itu, banyak sekali hadits shahih yang mencela mereka dan yang memerintahkan untuk memerangi mereka. semua hadits tersebut mutawatir menurut para ulama ahlul hadits. (Majmu’ Fatawa, 13/35)


Khawarij Akan Selalu Muncul di Setiap Masa


“Kelompok Khawarij memiliki beberapa julukan lain yaitu; Haruriyah karena mereka membelot dan berkumpul di wilayah harura, mereka juga dijuluki ahlu Nahrawan, karena Ali memerangi mereka di daerah Nahrawan. Di antara sifat mereka adalah Ibahiyah karena mengikuti Abudullah bin Ibadh, dan Adzariqah pengikut Nafi bin Azrak, dan An-Najdaat yaitu penduduk Haruriyah di Nejed.


Kelompok Khawarij tidak berhenti pada satu masa saja, namun mereka akan senantiasa muncul hingga datang masa datangnya Dajjal dari kalangan tentara mereka.


Sebutan lain kelompok Khawarij yang masyhur dikenal—seperti Adzariqoh, Shafariah dan sebutan lainnya—sebenarnya tidak pernah ada dalam nash (dalil), namun itu hanya sebutan yang masyhur di kalangan kaum muslimin saja. Sebutan tersebut dinisbatkan kepada mereka untuk membedakan dan memperkenalkan hakikat mereka. Akan tetapi esensi dari kelompok tersebut tetap satu sebagaimana yang dijelaskan dalam nash yang menyebutkan sebagai Mariqoh (penumpah darah), dan Kharijah (yang keluar dari kepemimpinan) dan pada masa ini bisa saja kelompok tersebut muncul dengan nama yang berbeda dan dikenal ditengah-tengah kaum muslimin bahwa mereka adalah khawarij.


Ibnu Taimiyah berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa kelompok Khawarij tidak berhenti pada pasukan tersebut, demikian juga dengan sifat mereka yang berlaku umum dan tidak hanya pada kelompok itu saja.”


Oleh karena itu, para sahabat memandang hadits secara mutlak, sebagaimana yang terdapat dalam hadits shahih dari Abi Salamah dan Atha’ Bin Yassar bahwa mereka berdua mendatangi Abu Said dan bertanya kepadanya tentang kelompok Haruriah, “Apakah Engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya (dengan sebutan Haruri)?”


Abu Said berkata, “Saya tidak tahu, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan keluar dari umat ini—beliau tidak menyebut namanya—suatu kaum yang shalatnya mengalahkan shalat kalian, mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama laksana keluarnya anak panah dari busurnya, kemudian pemanah tersebut melihat anak panah yang dibidiknya dan memperhatikan apakah ada darah yanng menempel padanya’.” (HR. Muslim)


Ibnu Taimiyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam hadits-hadits yang lain bahwa mereka akan senantiasa ada hingga sampai pada masa munculnya Dajjal, maka para ulama bersepakat bahwa kelompok Khawarij tidak dikhususkan pada pasukan tersebut saja…. (Majmu’ Fatawa 28/ 496)


“Demikian juga setiap orang yang keluar atau membelot (dari jamaah kaum muslimin) maka dia termasuk dalam makna Khawarij dan wajib diperangi sebagaimana perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memerangi Khawarij. Walaupun cara keluarnya mereka berbeda-beda. Dan telah kami jelaskan bahwa keluarnya Rafidhah dari agama lebih parah dari kelompok yang lain.” (Majmu’ Fatawa, 28/499)


Penyusun: Fahrudin, diinspirasi dari tulisan Syaikh Abu Hasan Al-Kuwaiti yang berjudul “Khawarij ‘inda Ibni Taimiyah”


Editor: Rudy


The post Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (2/5): Antara Khawarij dan Rafidhah appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (2/5): Antara Khawarij dan Rafidhah"

Post a Comment