Pendidikan Islam dan Memukul Anak

Ada pihak coba menggambarkan seakan merotan ataupun memukul anak merupakan satu tuntutan dalam pendidikan Islam. Pernyataan mereka ini bisa memberikan gambaran yang salah mengenai kesantunan dan kerahmatan Islam itu sendiri. Lebih buruk lagi pernyataan itu dibuat pada musim Islam dituduh sebagai agama yang ganas. Saya ingin menyebut beberapa perkara dalam merotan anak di sini:


Asas pendidikan dalam Islam ialah panduan yang jelas, mengajar yang penuh hikmah (wisdom) dan contoh teladan yang baik. Inilah isyarat al-Quran dalam Surah al-Isra ayat 24 ketika mengajar kita berdoa untuk orangtua dengan doa: “Katakanlah: Wahai Tuhanku kasihanilah kedua mereka (ibu dan bapakku) seperti mereka membesarkanku semasa kecil.”


Artinya, jika diteliti dari arahan doa yang diajarkan oleh al-Quran tersebut bahwa pendidikan ataupun membesarkan anak (bringing up process) yang menjadi tanggungjawab orangtua hendaklah dengan sifat kasih ataupun rahmah (mercy). Justru, hanya orangtua yang membesarkan anak dalam suasana kasih simpati saja yang mendapat bagian dari doa ini. Allah mengajar doa kepada anak, tapi dalam masa yang sama mengingatkan orangtua tentang cara mendidik dan membesarkan anak.


Adapun hadis tentang memukul anak, hendaklah dilihat dalam kerangka maksudnya yang betul. Di sana juga ada ayat al-Quran (Surah al-Nisa: 34) yang menyebut tentang memukul isteri, apakah selepas ini kita akan mempertahankan perangai sebagian suami yang suka memukul isteri?! Ayat itu berkaitan isteri yang nusyuz (durhaka) setelah segala proses pendidikan yang baik telah gagal. Sementara suami adalah seorang yang bertanggungjawab menunaikan segala kewajibannya di sudut nafkah zahir dan batin. Pukulan pula dengan cara yang tidak mencederai dan meninggalkan bekas kesakitan yang serius tetapi sekadar memberikan amaran tentang kesungguhan maksud suami. Hanya dalam suasana begitu di samping suami dengan ciri yang begitu saja boleh memukul isteri dengan syarat yang disebutkan tadi.


Tiada seruan dalam nash Islam agar kita memukul anak. Bahkan kita tidak wajar memukul anak yang belum mumayyiz (mampu membezakan antara yang baik dan buruk). Hadis hanya menyebut memukul pada umur sepuluh setelah melalui proses yang panjang. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Suruhlah anak-anak kamu shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukul karena meninggalkan shalat ketika berusia sepuluh tahun.” (Riwayat Abu Daud, shahih).


Artinya, ketika berusia tujuh tahun saban hari sebanyak lima waktu dia mendengar perintah bapak atau ibunya, “Marilah shalat!” Maka, selama tiga tahun lamanya dia akan mendengar seruan kepada shalat dengan penuh cinta dan manja. Tanpa kekerasan, tanpa paksaan. Bujukan demi bujukan. Sehingga perintah shalat sehati dengannya dan dia memahami maksud shaat. Shalat diingat bersama hubungan kasih sayang orangtua yang berbicara dan memujuknya setiap kali adzan berkumandang. Mungkin berbagai upah dan janji diberikan. Dia bermesra dengan bapaknya yang akan membawanya ke tempat shalat. Dia mempelajarinya dari pelajaran dan teladan.Tidak dipukul melainkan setelah tiga tahun melalui tempo ini. Jika dia dipukul pun setelah berusia sepuluh tahun, dia akan faham itu adalah pukulan kasih dan cinta. Pukulan itu tidak mencederakan atau mendapatkan kesakitan yang serius.


Artinya, betapa untuk sampai kepada tahap memukul memerlukan satu proses yang panjang padahal itu menyebabkan soal asasi dalam hayat seorang muslim iaitu shalat. Maka, siapapun bapak sewenang-wenang memukul anak, dia bukan seorang bapak yang baik dan telah melanggar ajaran agama. Lebih malang lagi jika bapak itu sendiri bukan teladan yang baik seperti bapak yang merokok memarahi anaknya merokok. Sama juga bapak kurang bertanggungjawab terhadap nafkah dan pendidikan anak, tiba-tiba memukul anak, maka mereka adalah pengkhianat amanah Allah.


Kegagalan pendidikan hari ini, tiada kaitannya dengan rotan ataupun tidak, tetapi berkaitan dengan faktor penting pendidikan insan itu sendiri yaitu; kejelasan arah dalam pembentukan anak, teladan yang baik dan suasana yang membina. Inilah tiga faktor penting yang telah musnah oleh berbagai keadaan. Mereka yang coba mengaitkan merotan anak sebagai keberhasilan pendidikan Islam adalah satu kedangkalan yang nyata.


Jika ada orangtua yang memukul anak tanpa alasan yang benar, dalam keadaan yang tidak munasabah, mendatangkan cedera yang kekal ataupun kesakitan yang serius, maka itu bertentangan dengan ajaran Islam dan boleh untuk pemerintah menganggapnya sebagai satu kriminal untuk diambil tindakan.


Ustadz Prof. Madya Dr. Muhammad Asri Zainul Abidin


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pendidikan Islam dan Memukul Anak"

Post a Comment