Spirit Menulis

tumblr_static_writing-750x441 DETIKISLAM.COM – Ketika kita sedang menggarap sebuah karya tulis, baik fiksi mau pun nonfiksi, terkadang hati kita dihinggapi oleh perasaan bosan dan suntuk. Hal ini juga yang saya rasakan ketika saya menulis beberapa karya saya. Ketika saya menggarap novel saya yang berjudul Sabil, perasaan yang negatif itu menghampiri saya. Padahal novel ini masih jauh dari kata “tamat”, tapi saya sudah merasa bosan dan suntuk untuk meneruskannya.

Perasaan seperti ini memang sangat berbahaya, sebab jika perasaan seperti ini kita ikuti, tentunya tidak akan ada satu pun karya kita yang selesai. Setiap kali kita menggarap sebuah karya, kemudian baru saja sampai di tengah-tengah, kita sudah merasa bosan menggarapnya, dan perasaan itu kita ikuti. Padahal seorang penulis yang baik bukan hanya bisa memulai penggarapan sebuah karya, tetapi bisa mengakhirinya juga dengan baik.

Seorang manusia dihinggapi perasaan bosan dan suntuk saya rasa itu adalah suatu yang wajar. Setiap manusia secara alamiah pasti akan merasakan hal ini. Hanya saja yang jadi masalah adalah, bagaimana langkah kita untuk menyikapinya. Apakah perasaan bosan dan suntuk itu kita ikuti, sehingga membuat kita berhenti di tengah-tengah? Atau yang lain, kita mengabaikan perasaan negatif itu, dan melanjutkan kerja besar kita untuk menyelesaikan sebuah karya. Semua pilihan ada di tangan kita.

Sebuah motivasi yang saya rasakan cukup efektif untuk membuat kita kuat berhadapan dengan kebosanan, adalah menganggap karya kita sebagai amanah dari Allah. Itulah yang saya alami ketika menggarap Sabil. Saat penggarapan Sabil baru sampai di tengah-tengah, perasaan bosan dan suntuk itu datang. Saya jadi malas meneruskan penggarapan. Namun saya berpikir, munculnya ide tentang kisah Sabil ini adalah sebuah petunjuk dari Allah khusus untuk saya. Buktinya Dia tidak memberikan ide kisah ini kepada orang lain, tetapi kepada saya. Kalau pun sempat ada orang lain yang memikirkan tentang ide kisah ini, apakah dia sudah mewujudkan ide kisah ini seperti yang sedang saya lakukan sekarang? Kalau saya bosan dan suntuk, tentunya penggarapan akan jadi terhenti, dan petunjuk dari Allah ini akan jadi sia-sia belaka. Dengan kata lain saya telah mengkufuri nikmat Allah berupa hadirnya ide kisah Perang Sabil ini di kepala saya. Allah telah menitipkan ide cerita ini kepada saya, maka saya wajib menyelesaikannya.

Dengan kata lain, jika kita menganggap apa yang sedang kita garap itu adalah sebuah kekayaan intelektual yang amat besar dari Allah, tentunya kita harus menuntaskannya. Jangan sampai anugerah Allah tersia-sia di tangan kita. Semoga bermanfaat. Happy writing! []Oleh : Sayf Muhammad Isa


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Spirit Menulis"

Post a Comment