Bentuk Godaan Iblis kepada Kalangan Syi’ah

Dalam kitab Talbis Iblis, Ibnul Jauzi mengatakan, sebagaimana Iblis telah menyesatkan kaum Khawarij sehingga mereka tanpa merasa bersalah membunuh Ali bin Abi Thalib, Iblis pun menggoda kelompok lain untuk berlebihan dalam mencintai Ali, sehingga mereka mencintainya kelewat batas. Sebagian mereka menganggap Ali sebagai Tuhan. Sebagian lagi menyatakan bahwa Ali lebih mulia daripada para Nabi. Sebagian lagi mencintainya dengan cara menghina Abu Bakar dan Umar, bahkan ada juga yang mengafirkan Abu Bakar dan Umar. Masih banyak pendapat lainnya yang hanya membuang-buang waktu jika disebutkan. Di sini kita hanya membuat sampel dengan sebagian kecil saja.


Imam Al-Khathib berkata, “Saya mendapati sebuah kitab karangan Abu Muhammad Al-Hasan bin Yahya An-Nubakhti tentang konter terhadap Syi’ah Ekstrem. An-Nubakhti sendiri tercatat sebagai seorang teolog Syi’ah Imamiyah. Di dalam buku itu dia mengangkat pendapat-pendapat sekte-sekte Syi’ah Ekstrem ini dengan menyatakan, “Termasuk orang gila dalam sifat berlebih-lebihan saat ini adalah Ishaq bin Muhammad yang lebih dikenal dengan panggilan Al-Ahmar. Ia berpendapat bahwa Ali adalah Allah. Dan Ali senantiasa nampak pada setiap saat, kadang berupa Al-Hasan dan kadang pula berupa Al-Husain. Dan Ali kelak yang akan membangkitkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.”


Sekelompok Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Abu Bakar dan Umar adalah dua shahabat yang telah kafir.[1]


Sebagian golongan Syi’ah berpendapat bahwa Abu Bakar dan Umar telah murtad sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bahkan sebagian kalangan Syi’ah Rafidhah ada yang belepas tangan dari semua shahabat selain Ali bin Abi Thalib.


Kami mendengar suatu riwayat –tentang penamaan Syi’ah Rafidhah- bahwa golongan Syi’ah menuntut Zaid bin Ali untuk berlepas tangan dari setiap shahabat yang berseberangan dengan Ali tentang kepemimpinannya, maka Zaid menolaknya dan mengusir mereka. Mereka pun terkenal dengan sebutan Syi’ah Rafidhah.


Sebagian dari mereka menyatakan bahwa kepemimpinan berada di tangan Musa bin Ja’far, kemudian berpindah kepada putranya yang bernama Ali, lalu kepada Muhammad bin Ali, kemudian kepada Ali bin Muhammad, lalu kepada Hasan bin Muhammad Al-Askari, kemudian kepada putranya yang merupakan imam yang kedua belas, yaitu imam yang ditunggu-tunggu yang mereka anggap belum mati sampai sekarang dan akan datang di penghujung masa dengan menebar keadilan di seantero jagat.[2]


Sebelumnya, Abu Manshur Al-Ijli menganggap bahwa Imam yang ditunggu itu adalah Muhammad bin Ali Al-Baqir dengan menyebutnya sebagai seorang khalifah yang pernah dinaikkan ke langit, lalu Allah mengusap kepalanya dengan Tangan Allah.


Abu Manshur juga menganggap Muhammad Al-Baqir adalah gumpalan awan yang jatuh dari langit sebagai tafsir ayat 44 dalam surat Ath-Thur.


Sebuah sekte sempalan Syi’ah Rafidhah yang bernama Al-Janahiyah, yaitu para pengikut Abdullah bin Muawiyah bin Abdullah bin Ja’far Dzu Al-Janahain berpendapat bahwa Roh Tuhan berpindah-pindah dari nabi-nabi ke wali-wali dan berakhir menetap dalam diri Abdullah bin Muawiyah, sehingga Abdullah tidak akan pernah mati dan dialah orang yang dinantikan.


Sekte sempalan Syi’ah yang menamakan diri sebagai Al-Ghurabiyah berkeyakinan bahwa Ali termasuk dalam jajaran para nabi. Sekte sempalan Syi’ah lainnya yang bernama Al-Mufawwidhah menyatakan bahwa setelah Allah Ta’ala menciptakan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam maka Allah menyerahkan penciptaan jagat raya kepada Muhammad.


Sekte sempalan Syi’ah lainnya yang bernama Adz-Dzammamiyah, yaitu sekte Syi’ah yang menyalahkan Malaikat Jibril Alaihissalam. Mereka menyatakan bahwa Jibril dititahkan untuk memberikan wahyu kepada Ali, tetapi Jibril memberikannya kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.


Ibnu Aqil berkata, “Nampak sekali bahwa perancang mazhab Syi’ah Rafidhah bermaksud meruntuhkan dasar agama Islam dan konsep kenabian. Hal ini disebabkan karena wahyu adalah hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di luar nalar kita. Dan kita memercayai kebenaran wahyu tersebut dari penuturan para salafush-shalih dan kejernihan pemikiran mereka.”


Kecintaan kalangan Syi’ah Rafidhah kepada Ali yang berlebihan mendorong mereka untuk membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan dan keistimewaan Ali Radhiyallahu Anhu. Namun mayoritas hadits-hadits itu memperburuk citra Ali dan bahkan menyakitinya. Sebagian hadits-hadits palsu ini telah aku sebutkan di dalam kitab Al-Maudhu’at.


Di antara hadits-hadits palsu tersebut adalah “Suatu saat matahari telah terbenam, sehingga Ali tidak shalat Ashar, karena waktu Ashar telah habis, maka demi kemuliaannya matahari itu kembali bersinar.”[3]


Hadits ini ditinjau dari sisi periwayatan hadits adalah maudhu’, karena tidak tidak melalui orang-orang yang memiliki kredibilitas (tsiqah). Ditinjau dari sisi makna juga irasional, karena waktu telah habis dan kembalinya matahari adalah terbit yang baru, sehingga tidak mungkin waktu surut ke belakang.


Mereka juga membuat hadits bahwa Fathimah Radhiyallahu Anha pada detik-detik akhir kehidupannya telah mandi. Tak lama kemudian ia meninggal dunia dan ia berwasiat agar mandi terakhirnya itu sebagai mandi jenazah.[4]


Hadits ini ditinjau dari segi ilmu periwayatan adalah dusta. Dan ditinjau dari sisi makna kandungannya menunjukkan kedangkalan berpikir, karena ini adalah mandi disebabkan kematian, bagaimana mungkin cukup dengan mandi sebelum kematian?


Mereka juga memiliki khurafat dan pendapat-pendapat aneh yang secara keseluruhan tidak berdasar. Mereka juga memiliki mazhab fikih yang sama sekali baru dan pendapat-pendapat aneh yang menyalahi konsensus (ijma’ para ulama).


__________________________


[1] Dalam kaitan ini Syi’ah Rafidhah masa kini membuat satu doa yang khusus dengan judul “Doa Melaknat Dua Berhala Kaum Quraisy” untuk mengafirkan dua shahabat yang agung ini.


[2] Mereka menyebutnya sebagai Imam Mahdi. Namun dia bukanlah Imam Mahdi yang diriwayatkan di dalam hadits-hadits yang shahih, tetapi Imam Mahdi palsu yang sengaja mereka buat berdasarkan khayalan dan bualan-bualan mereka.


[3] Disebutkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al-Maudhu’at (1/356). Ia berkata, “Hadits ini maudhu’ tanpa ada keraguan sedikit pun. Al-Jauraqani berkata, “Ini adala hadits munkar dan mudhtharib.”


Hadits ini mendapat perhatian sangat khusus dari guru kami, Nashiruddin Al-Albani dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (2/395-401). Lihatlah dan bandingkanlah dengan kitab Al-Maqashid Al-Hasanah (nomor 519) karya As-Sakhawi.


[4] Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’at (3/277). Dia membedah sisi maudhu’ hadits ini dalam segi matan juga sanadnya.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bentuk Godaan Iblis kepada Kalangan Syi’ah"

Post a Comment