Fikih Rasa Cemburu

Allah Ta’ala berfirman, Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-A’râf [7]: 33).


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,


لَا أَحَدَ أَغْيَرُ مِنَ اللهِ وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا شَيْءَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمَدْحُ مِنْ اللهِ وَلِذَلِكَ مَدَحَ نَفْسَهُ


Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu daripada Allah, oleh karena itu Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Tidak ada satupun yang lebih senang dipuji melebihi Allah dan karena itulah Allah memuji diri-Nya sendiri.(Muttafaq Alaih).


Rasa cemburu itu memiliki kedudukan yang tinggi sekali. Bentuknya ada dua, yakni rasa cemburu dari sesuatu dan rasa cemburu atas sesuatu. Rasa cemburu atas sesuatu yaitu semangat besar yang engkau miliki atas apa yang engkau cintai, sehingga engkau tidak mau jika ada orang lain yang mendapatkan sesuatu yang engkau cintai itu. Adapun rasa cemburu dari sesuatu adalah rasa benci yang engkau miliki jika orang lain menyertai atau menandingimu dalam hal yang engkau cintai itu.


Berdasarkan siapa yang dicemburui, rasa cemburu terbagi menjadi dua macam:


Pertama, rasa cemburu yang Allah miliki atas hamba-Nya.


Kedua, rasa cemburu dari seorang hamba untuk Tuhan-Nya, bukan atas-Nya.


Adapun rasa cemburu yang Allah miliki atas hamba-Nya adalah ketika Dia tidak menjadikan seorang makhluk sebagai hamba untuk makhluk yang lain, akan tetapi Dia menjadikan makhluk tersebut sebagai hamba untuk diri-Nya. Allah tidak menjadikan tandingan-tandingan yang memperebutkan makhluk tersebut, akan tetapi Dia hanya menjadikan makhluk itu untuk diri-Nya sendiri dan mengkhususkannya hanya untuk Diri-Nya. Ini merupakan rasa cemburu yang paling tinggi.


Adapun rasa cemburu seorang hamba untuk Tuhannya, terbagi menjadi dua macam juga. Ada yang berasal dari dirinya, yaitu ketika dia tidak menjadikan sesuatu pun dari amalan-amalan, perkataan-perkataan, keadaan-keadaan, waktu-waktu dan juga jiwa-jiwanya untuk selain Allah Azza wa Jalla.


Sedangkan yang berasal dari selainnya adalah rasa marah yang dia miliki ketika ada seseorang yang melanggar larangan-larangan Allah dan ketika ada orang yang meremehkan hak-hak Allah. Rasa cemburu yang hamba berikan kepada Allah itu lebih utama daripada rasa cemburu kepada selain-Nya. Tidak ada seorang pun yang pencemburu melebihi Allah.


Oleh karena itulah Allah tidak menjadikan orang-orang kafir bisa memahami firman-Nya, tidak bisa mengenal-Nya, tidak bisa untuk mengesakan dan mencintai-Nya. Allah menjadikan sebuah penghalang yang tidak dapat dilihat oleh mata, yang menghalangi mereka dari Rasul, firman dan ketauhidan kepada-Nya. Rasa cemburu yang Allah miliki dalam hal ini adalah dengan tidak menjadikan hal tersebut untuk orang-orang yang memang tidak berhak untuk mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman,


Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur`an, Kami adakan suatu dinding yang tidak terlihat antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat. (QS. Al-Israa`: 45).


Tingkatan rasa cemburu


Pertama, rasa cemburu yang dimiliki seorang hamba, ketika ada sedikit dari amalan shalih yang terlewatkan darinya. Hamba itu akan mengganti yang telah hilang tersebut dengan amalan yang sejenisnya. Hamba itu akan menutup apa-apa yang telah terlewatkan, seperti wirid-wirid, segala sesuatu yang sunnah dan seluruh amalan-amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dengan melaksanakan perbuatan-perbuatan yang sejenisnya ataupun yang selainnya.


Kedua, rasa cemburu yang hamba miliki karena hilangnya waktu. Waktu merupakan sesuatu yang paling berharga untuknya. Hamba itu merasa rugi jika waktu itu berlalu begitu saja tanpa ada amalan shalih yang dilakukan. Jika waktu itu telah lewat darinya, maka tidak mungkin akan mendapatkannya lagi, karena waktu yang kedua berhak untuk mendapatkan kewajibannya yang lain.


Ketiga, rasa cemburu yang dimiliki oleh seorang hamba karena adanya penghalang atau penutup yang menghalanginya untuk mengetahui kedudukan Allah. Atau ketika dia terikat dengan harapan akan pahala yang terpisah, ketika dia tidak terikat dengan kehendak Allah dan rasa cinta kepada-Nya, atau ketika dia berpaling kepada pemberian dari selain Allah, sehingga kemudian ridha kepadanya.


Rasa cemburu merupakan sebuah naluri yang dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan, bahkan bisa jadi rasa cemburu yang dimiliki oleh para wanita itu lebih besar. Rasa cemburu yang Allah Azza wa Jalla miliki itu terjadi ketika ada ada larangan-larangan-Nya yang dilanggar. Seorang muslim yang menaati hawa nafsunya dan patuh kepada setan, telah terjerembab dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah, seolah-olah dia telah menjadikan tandingan dalam rasa cemburu yang Allah miliki pada hal tersebut.


Sa’ad bin Ubadah telah berkata, “Jika aku melihat seorang laki-laki bersama dengan istriku, niscaya aku akan memukul laki-laki tersebut dengan pedang di bagian mata pedangnya, bukan dengan pinggirnya.” Maka kemudian hal ini didengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau bersabda,


أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِيْنَ وَالْمُنْذِرِيْنَ، وَلَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ


Apakah kalian merasa heran dengan rasa cemburu yang dimiliki oleh Sa’ad? Demi Allah, aku lebih pencemburu daripada Sa’ad dan Allah itu lebih pencemburu dari diriku. Dan karena itulah Dia mengharamkan hal-hal keji baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan tidak ada yang lebih suka memaafkan melebihi Allah, dan karena itulah Dia mengutus (para Rasul) sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak ada yang lebih mencintai pujian melebihi Allah. Oleh karena itulah Dia menjanjikan surga (kepada para hamba-Nya yang beriman).” (Muttafaq Alaih).


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Fikih Rasa Cemburu"

Post a Comment