Apakah Kesalahan Mujahidin Perlu Dibahas? Ini Jawaban Syaikh As-Suri

KIBLAT.NET – Adakalanya orang bertanya, “Bila kalian percaya gerakan jihad telah mampu mengukir banyak prestasi …, lalu untuk apa kesalahan-kesalahan mereka disebutkan?” Orang yang tidak setuju akan berargumen bahwa membeberkan cacat dan kekurangan akan menyingkap rahasia yang akan menguntungkan musuh.


Syaikh Abu Mus’ab As-Suri menjawab, “Itu perlu agar kita sehat.” Soal kekhawatiran akan menguntungkan lawan, penulis buku fenomenal Seruan Perlawanan Islam Global tersebut mengatakan bahwa kesenjangan gerakan jihad telah diketahui oleh mereka. Bahkan mereka lebih banyak mengetahui daripada generasi mujahidin itu sendiri. Musuh telah menyadari perubahan dalam gerakan jihad.


Karena itu, membahas kekurangan mujahidin bukanlah menyingkap rahasia. Terutama, bahwa kebanyakan peristiwa merupakan pelajaran-pelajaran yang telah berlalu dan para pelakunya juga telah tiada.


Alasan lain perlunya evaluasi, bahwa para ulama penguasa, sistem media tirani, dan perangkat global selalu mengalamatkan semua kesalahan—baik yang memang benar terjadi pada mujahidin maupun yang dibuat-buat—kepada mujahidin untuk menjatuhkan reputasi. Maka membahas kesalahan diperlukan agar tidak terulang dan lebih baik.


Metode-metode yang telah usang serta konsep-konsep yang salah pada kebanyakan gerakan jihad merupakan penyakit yang harus diterapi. Ini, menurut As-Suri, merupakan pengetahuan wajib bagi basis gerakan jihad, demikian pula kader-kader dan senior mereka.


Terapi penyakit-penyakit tersebut dilakukan dengan tiga langkah utama, setelah bertawakal dan berdoa kepada Allah.



  1. Mengakui bahwa kondisinya sedang sakit dan berniat untuk mengobatinya.

  2. Berkonsultasi kepada dokter yang dapat dipercaya, amanah, dan beriman untuk mengungkapkan kekurangan dan ketidaksempurnaan kepadanya, tanpa ada rasa takut maupun malu, meskipun bila harus membuka aurat.

  3. Meminum obat yang diberikan walaupun pahit dengan semangat, ketulusan, dan keyakinan bahwa penyakitnya akan sembuh.


Langkah-langkah ini harus dilaksanakan oleh semua pihak dalam gerakan Islam dan kelompok-kelompoknya secara obyektif. Tanpa obyektifitas, kesembuhan—wallâhu a’lam—tidak akan sempurna, karena itu merupakan sunatullah yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun.


Apa gunanya orang tua membawa anaknya yang sakit parah, namun ketika si dokter menanyakan penyakitnya, mereka malah menunjukkan sejumlah karakter si anak yang terpuji. Ketika si dokter menanyakan sebab-sebabnya, mereka tidak menyebutkannya atau menyebutkan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain karena rasa cinta, kasih sayang dan harapan-harapan kebaikan.


Namun, As-Suri mengingatkan bahwa kedekatan emosional diperlukan agar nasihat lebih mudah diterima. As-Suri mencontohkan, diagnosa dan saran dari dokter yang dikenal tentu lebih dipercaya karena orang yakin kepada simpati dan niat baiknya. Hal ini berbeda bila tetangga jauh berkata bahwa anak Anda kudisan. Hati Anda pasti akan menolak peringatan tersebut. Barangkali, Anda akan berbalik mengatakan bahwa dialah yang kudisan, dan tidak menerima kata-katanya.


Demikian pula jihad yang hari ini sering disebut sebagai sebuah kewajiban yang hilang! Mujahid yang sudah berdarah-darah, mengorbankan harta dan jiwa, meninggalkan keluarga, dikritik pula. Mungkin ini akan menyakitkan!


Dalam hal ini, Syaikh As-Suri bukanlah tetangga jauh atau mantan tetangga yang kini menjauh. Beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk jihad fi sabilillah. Membawa keluarga dari satu medan jihad ke medan jihad lainnya, melatih di kamp-kamp mujahidin Afghanistan, mengabadikan sejarah para mujahidin dalam goresan pena yang agung untuk generasi penerus, dan kini dikabarkan masih mendekam di penjara tiran.


Ada tiga poin cacat utama dalam perjalanan gerakan jihad selama 40 tahun (1960-2000). Dan ini kebanyakan terjadi di mayoritas pengalaman kerja jihad dan gerakannya selama hampir setengah abad itu. Tiga kesalahan dan cacat dalam perjalanan gerakan jihad itu adalah:



  • Kesalahan manhaj dan pemikiran.

  • Kesalahan struktur.

  • Kesalahan metode dan cara kerja.


Tiga masalah ini akan kita diskusikan dalam tulisan selanjutnya insya Allah. Sebagai pembuka permasalahan pertama, Syaikh As-Suri menyebutkan bahwa masalah manhaj merupakan aspek paling penting. Salah satunya adalah infiltrasi pemikiran takfir ekstrem ke dalam manhaj sebagian aktivis jihad. Hal ini, dalam analisis As-Suri, telah memapankan strategi intelijen, ulama penguasa, dan media mereka untuk menjadikannya sebagai bukti guna mendiskreditkan para aktivis jihad. Bersambung insya Allah. [Agus Abdullah]


The post Apakah Kesalahan Mujahidin Perlu Dibahas? Ini Jawaban Syaikh As-Suri appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apakah Kesalahan Mujahidin Perlu Dibahas? Ini Jawaban Syaikh As-Suri"

Post a Comment