KETIKA TATASURYA BERUBAH KIBLAT

Oleh: Dr. Fahmi Amhar


Ide untuk kembali kepada Islam, kepada Qur’an & Hadits juga masuk ke dunia ilmiah. Baru-baru ini seorang ulama Saudi menegaskan lagi pendapatnya, bahwa yang “islami” itu teori geosentris, yaitu tata surya, bahkan jagadraya ini, semua beredar mengelilingi bumi. Mereka berpendapat, bumi itu diam, dan matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang beredar mengelilingi bumi. Mereka mendasarkan pendapat antara lain dari QS 21-Al Anbiyaa’:33.


Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya (Qs. 21:33)


Kemudian ada beberapa hadits yang menyatakan bahwa ka’bah atau Baitullah, itu satu poros dengan Baitul makmur, masjid di langit tempat thawaf para malaikat. Atau juga hadits bahwa matahari beredar mengarungi langit, lalu di saat Maghrib dia sujud di bawah Arasy dan mohon kepada Allah agar diijinkan beredar kembali esok hari. Menurut ulama ini, semua dalil ini menunjukkan kebenaran teori geosentris. Sedang teori heliosentris adalah penemuan orang kafir. Dan adalah konspirasi mereka untuk memaksakan teori ini ke dada seluruh umat manusia (termasuk umat Islam), untuk bersama-sama mengingkari Allah, mengingkari Nabi, mengingkari Baitullah sebagai pusat alam semesta.


Pergerakan harian bintang, bulan dan matahari di langit sebenarnya fenomena yang mudah diamati siapa saja, sehingga tak heran, sejak zaman Yunani kuno, dominan pendapat yang menganggap bumi pusat alam semesta (geosentris). Apalagi kemudian teks-teks agama-agama samawi seolah-olah mengatakan demikian. Tak heran kalau kemudian astronom, sekaligus jenderal dan pendeta Mesir kuno Ptolomeus menegaskan teori geosentris. Dia mewajibkan keyakinan itu untuk menutup kesempatan para penyembah matahari.


Namun astronomi tidak berhenti pada apa yang terlihat langsung tiap hari. Mereka menggali lebih jauh untuk dapat membuat prediksi jauh ke depan. Dan untuk itu kaum muslim telah berburu ilmu ke Barat (Mesir, Yunani) maupun ke timur (Persia, India), mengintegrasikannya, memperkuat dasar-dasarnya dan mengembangkan jauh di atas para gurunya. Pusat penelitian astronomi Islam yang paling tua bermula di kota Maragha. Maka dalam sejarah ilmu pengetahuan muncullah “Madzhab Maragha” atau bahkan “Revolusi Maragha” – sebuah revolusi saintifik sebelum Rennaisance.


Ini berawal ketika Khalifah al-Ma’mun memerintahkan untuk mendirikan sebuah observatorium dan merekrut para astronom untuk melakukan pengumpulan data yang teliti guna mengoreksi data yang telah ada hingga saat itu. Untuk itu para astronom meminta bantuan ahli-ahli mekanik untuk membuatkan sebuah alat pengamatan langit yang disebut astrolabs. Hasil-hasil pengamatan langit yang lebih teliti ini menyelesaikan problem yang signifikan yang selalu timbul dalam model langit geosentris Ptolomeus.


Saat-saat tertentu, planet Mars tampak seperti bergerak mundur (retrograde motion). Kalau saja model ini diubah menjadi heliosentris, maka gerak mundur planet Mars itu mudah sekali dipahami, yaitu tatkala bumi yang beredar mengelilingi matahari lebih cepat dari Mars, sedang “menyalip” Mars. Tapi waktu itu, Ptolomeus yang percaya pada teori geosentris, mencoba memecahkan problema itu dengan lingkaran-lingkaran tambahan yang disebut episiklus. Tetapi episiklus-episiklus ini makin lama menjadi makin rumit.


Maka sejumlah astronom muslim seperti Ibnu al-Haytsam dan Ibnu al-Syatir menekuni kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya serta kemungkinan adanya sistem tata surya yang berpusat di matahari. Mereka membuat model planet non Ptolomeus. Sedang Muayyaduddin Urdi secara total menolak model Ptolomeus karena dasar empiris, tak hanya filosofis. Ini pendapat yang luar biasa maju. Nicolaus Copernicus baru berani mengemukakan pendapat ini di Eropa 500 tahun kemudian. Buka Copernicus yang berjudul De Revolutionibus ternyata banyak mengadaptasi model langit dari Ibnu al-Syatir dan at-Tusi dari madzhab Maragha. Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi juga senada dengan karya Ali al-Qusyji.


Pada abad-21 ini, fenomena langit seputar tata surya sudah bukan sekedar hipotesis lagi, tetapi sudah menjadi fakta keras yang tidak dapat dibantah lagi. Manusia berbagai bangsa sudah meluncurkan ribuan pesawat ruang angkasa dan satelit yang mengorbit bumi. Terakhir, tahun 2009 para astronom dan insinyur aeronautika Iran sudah berhasil membuat satelit dan meluncurkannya dengan roket yang dibuat sendiri tanpa pertolongan negara lain. Semua hasil eksperimen ini terus membuktikan bahwa bumi memang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari, sementara matahari sendiri beredar mengililingi pusat galaksi Bimasakti.


Kebenaran sebuah fenomena alam yang dapat diamati atau diukur sama sekali tidak memerlukan dalil kitab suci manapun. Rupanya para astronom seribu tahun yang lalu justru lebih jernih dalam memahami ayat Al-Qur’an sekaligus memahami fenomena alam. Ayat-ayat Qur’an tentang alam biasanya bersifat mutasyabihat (multi-tafsir), sehingga hanya menjadi motivasi dan inspirasi untuk terus melakukan pengamatan alam. Dengan itulah mereka dapat menjadikan astronomi sebagai modal untuk memuliakan Islam dan kaum muslim. Mereka membuat “sains Islam” yang sebenarnya, dan bukan sekedar “sains-ta’wili”.


Abu ar-Raihan al-Biruni menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi, sehingga menekankan pengamatan empiris yang akurat dan eksperimen untuk membuktikan kebenaran perhitungan astronomi. Akurasi data itu juga membuat astrofisika dimulai. Adalah Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir yang dari ribuan pengamatannya memastikan bahwa benda-benda langit mengalami hukum fisika yang sama seperti bumi. Sedang Ibnu al-Haytsam, sang penemu fisika optika – yang menjadi dasar pembuatan lensa untuk teropong bintang – dari pengamatannya memastikan, bahwa apa yang hingga saat itu diyakini sebagai “lapisan-lapisan langit” ternyata bukanlah sesuatu yang padat, melainkan bahkan kurang rapat dibanding udara. Jadi kalau di Qur’an disebut “lapis langit pertama sampai ketujuh”, maka itu pasti terletak di alam ghaib yang tidak dapat diamati manusia. Di situlah, ketika sains berakhir, dimulailah keimanan.


Gambar-1 dalam manuskrip karya Qutubuddin al-Syairazi (1236-1311), Astronom Persia. Gambar itu menjelaskan kerumitan episiklus dalam model planet dari Ptolomeus.


Gambar-2 contoh cover buku sains ta’wili. []


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KETIKA TATASURYA BERUBAH KIBLAT"

Post a Comment