Penaklukan
Pada malam tanggal 29 Mei 1453 M, hujan turun tidak terlalu deras di kota dan sekitarnya. Kaum muslimin menganggapnya sebagai pertanda baik dan bahkan para ulama juga mengingatkan mereka dengan hal serupa yang terjadi pada saat perang Badar. Pasukan Romawi sendiri sangat berharap agar hujan turun dengan lebih deras sehingga menyulitkan kaum muslimin. Akan tetapi itu tidak terjadi, karena hujan turun dengan begitu tenang dan tidak lebat.
Tepat pada pukul satu dini hari, selasa tanggal 20 Jumadal Ula tahun 857 H yang bertepatan dengan 29 Mei 1453 M, dimulailah serangan umum secara besar-besaran terhadap kota setelah sebelumnya seluruh pasukan diberi isyarat untuk memulai. Pekikan takbir yang dikumandangkan pasukan mujahidin terdengar begitu keras saat mereka bergerak maju dan berlari menuju benteng kota.
Penduduk Konstantinopel sangat terkejut dan segera memukul lonceng gereja bertalu-talu, sehingga banyak penduduk yang melarikan diri ke gereja. Serangan pasukan Utsmaniyah dilakukan secara serentak di darat dan laut sesuai dengan rincian rencana yang telah dibuat dengan seksama sebelumnya. Banyak kaum mujahidin yang berharap memperoleh keutamaan syahid, dan harapan itu benar-benar didapatkan oleh banyak mujahid dari mereka, yang menyongsongnya dengan keberanian dan pengorbanan.
Serangan dilakukan secara menyebar di sejumlah titik, akan tetapi serangan utama tetap dipusatkan di wilayah lembah Lekus dan dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Al-Fatih. Gelombang pertama dari pasukan penyerang menghujani benteng dan para penjaganya dengan tembakan meriam dan hujan anak panah, sebagai usaha untuk menghentikan gerakan pasukan yang mempertahankan kota.
Dengan adanya kegigihan yang ditunjukkan oleh pasukan yang bertahan, dan dengan keberanian yang diperlihatkan oleh pasukan penyerang, maka banyak sekali korban yang jatuh dari kedua belah pihak[1].
Setelah kelompok penyerang pertama berjuang tanpa henti dalam melakukan serangan, Sultan Al-Fatih telah menyiapkan kelompok pasukan lain. Maka Sultan menarik mundur pasukan pertama dan mengirimkan pasukan kedua, sementara pasukan musuh yang mempertahankan kota telah dilanda keletihan yang luar biasa.
Pasukan kedua berhasil mencapai tembok benteng dan mendirikan ratusan tangga dalam sebuah usaha yang sangat gigih untuk menerobos masuk. Akan tetapi, pasukan penjaga berhasil membalikkan tangga-tangga tersebut, dan pasukan penyerang pun tetap berusaha mati-matian mendirikan kembali tangga-tangga tersebut. Pasukan penjaga kota juga terus berjuang mati-matian menghalangi usaha kaum muslimin untuk memanjat dinding benteng.
Setelah melakukan semua usaha itu selama dua jam, Sultan Al-Fatih mengeluarkan perintah kepada pasukannya untuk mundur guna mendapatkan sedikit istirahat, setelah sebelumnya berhasil menguras tenaga pasukan musuh yang bertahan di bagian tersebut. Pada saat yang sama, Sultan Al-Fatih memerintahkan pasukan ketiga untuk mulai menyerang benteng musuh pada bagian yang sama.
Pasukan penjaga kota dikejutkan oleh gelombang serangan baru yang datang menyerbu setelah sebelumnya mereka mengira bahwa keadaan telah tenang, apalagi mereka juga telah sangat kelelahan. Sementara itu pasukan penyerang datang dengan darah baru, telah menyiapkan diri, dan juga telah beristirahat dengan cukup serta tak sabar untuk mengambil bagian dalam pertempuran.
Pada saat yang bersamaan pertempuran juga berkobar dengan sangat sengit di laut sehingga memecah kekuatan pasukan yang mempertahankan kota dan membuat mereka sibuk dalam pertempuran yang terjadi pada lebih dari satu titik.
Seiring dengan terbitnya sinar matahari pagi, pasukan penyerang telah lebih bisa menentukan posisi musuh secara lebih detil, dan mulai menggandakan serangan sehingga kaisar Bizantium harus turun langsung memimpin pertahanan di bagian tersebut dengan didampingi oleh panglima Genoa, Giustiniani, yang merupakan salah seorang panglima yang paling terkenal dalam mempertahankan kota[2].
Pada saat itu semangat kaum muslimin tengah mencapai puncaknya untuk berperan dalam kesuksesan serangan. Namun demikian, Sultan Al-Fatih mengeluarkan perintah kepada mereka untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada penjaga meriam melakukan tugasnya.
Serangan dan lontaran peluru meriam pun kembali menghujani pasukan yang mempertahankan kota dengan pelurunya. Hal ini semakin menguras tenaga pasukan musuh yang pada malam sebelumnya tidak bisa sedikitpun memejamkan mata.
Setelah serangan meriam mereda, datanglah serangan pasukan baru yang terdiri dari pasukan pemberani Yanisari dan dipimpin langsung oleh Sultan, dengan disokong oleh hujan anak panah yang dilepaskan oleh pasukan kaum muslimin agar pasukan musuh tidak bisa menghadang mereka.
Keberanian pasukan Yanisari terlihat jelas pada saat itu, yang mana tiga puluh orang dari mereka berhasil memanjat tembok benteng dengan keberanian luar biasa dan membuat pasukan musuh menjadi terkaget-kaget oleh keberanian mereka. Meskipun sebagian dari mereka gugur, dan termasuk komandan mereka, namun mereka berhasil membuka jalan untuk memasuki kota melalui Topkapi dan kemudian mereka segera mengangkat bendera Utsmaniyah[3].
Melihat bendera ini, pasukan lain menjadi semakin terbakar semangatnya untuk menerobos masuk ke dalam kota, dan sekaligus semakin melemahkan semangat musuh. Pada saat yang sama, panglima pasukan yang bertugas mempertahankan kota, Giustiniani, yang merupakan contoh dan panutan bagi mereka, mendapatkan luka yang serius dan harus mundur meninggalkan medan tempur[4]. Hal ini sangat berpengaruh pada pasukannya yang lain.
Raja Bizantium segera mengambil alih langsung kepemimpinan pasukan yang mempertahankan kota dan menggantikan Giustiniani yang saat itu telah menaiki salah satu kapal untuk melarikan diri dari medan tempur. Kaisar sendiri telah mengerahkan segala usahanya untuk meneguhkan semangat pasukan yang mempertahankan kota, yang telah semakin merasa putus asa dari perlawanan yang mereka lakukan.
Sedangkan pada saat yang bersamaan, serangan yang dipimpin langsung oleh Sultan Al-Fatih tengah berada pada puncaknya, dan berusaha memanfaatkan kondisi semakin melemahnya semangat dan mental dari pasukan yang mempertahankan kota itu.
__________________________
[1] Yilmaz Oztuna: Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah (139), Salim Ar-Rasyidi: Muhammad Al-Fatih (131), Muhammad Shafwat: Fathu Al-Qusthanthiniyyah (114).
[2] Yilmaz Oztuna: Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah (139), Salim Ar-Rasyidi: Muhammad Al-Fatih (131), Muhammad Shafwat: Fathu Al-Qusthanthiniyyah (113).
[3] Yilmaz Oztuna: Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah (139), Salim Ar-Rasyidi: Muhammad Al-Fatih (132), Muhammad Shafwat: Fathu Al-Qusthanthiniyyah (115).
[4] Yilmaz Oztuna: Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah (138), Salim Ar-Rasyidi: Muhammad Al-Fatih (131), Muhammad Shafwat: Fathu Al-Qusthanthiniyyah (115).
0 Response to "Muhammad Al-Fatih dan Penaklukan Konstantinopel (8)"
Post a Comment