Menurut sebuah laporan di Al-Monitor, pengadilan Mesir pada 18 Februari telah menegakkan keputusan 2013 dari Menteri Wakaf untuk menutup lebih dari 27.000 tempat ibadah dalam rangka memerangi ideologi “ekstremis”.
Setiap lingkungan tempat ibadah yang kurang dari 80 meter persegi akan diperintahkan untuk menutup – langkah yang ditujukan untuk melindungi kaum muda dari “militansi dan ekstremisme” yang dapat berlaku di tempat-tempat seperti itu, yang mana tidak memiliki izin untuk mengadakan sholat Jum’at.
Keputusan ini secara khusus akan mempengaruhi banyak masjid di desa-desa kecil, di mana dengan alasan biasanya kurang dari 80 meter persegi. Penentang keputusan ini mengatakan bahwa hal ini hanya akan lebih meningkatkan ideologi ekstremis sebagai ada alternatif pengganti telah ditawarkan, terutama mengingat bahwa masjid lokal lebih besar dari ukuran ini sudah tidak mampu menahan begitu banyak dalam jamaah mereka, sehingga terpaksa berbaris di jalan-jalan untuk menunaikan Sholat Jum’at.
Ahmed Karimeh, seorang profesor Syariah di Universitas Al-Azhar, mengatakan kepada Al-Monitor “bahwa ajaran hukum dan konvensi menentukan bahwa Jum’at, Idul Fitri dan Sholat wajib harus ditunaikan dalam masjid, dan bukan di tempat ibadah lingkungan,” dia juga menjelaskan bahwa “penutupan tempat-tempat ibadah lingkungan, yang terletak di bangunan apartemen, bangunan komersial atau pabrik, akan membantu mengurangi pengaruh ekstremis orator agama.”
Tentu saja kebijakan ini bila ditelusuri lebih lanjut dianggap merupakan salah satu dari upaya pemerintah untuk menghalang-halangi atau bisa dikatakan mempersulit umat Islam untuk melakukan ibadah yang merupakan tiang agama ini.
Pada saat yang sama, kementerian telah memberikan 400 sertifikat mengajar kepada para ulama salafi tanpa memerlukan tes Khutbah, meskipun tuduhan kementerian sebelumnya dan terus-menerus bahwa mereka menyebarkan “ekstremisme”. Karimeh mengatakan bahwa meskipun keputusan untuk menutup masjid tersebut bisa jadi tepat, namun langkah itu akan sia-sia jika kementerian mengizinkan orang tanpa sertifikat untuk naik ke mimbar.
Hal ini juga bisa dikatakan salah satu upaya pemerintah Thaghut Mesir untuk mengawasi para Ulama yang biasa mengisi khutbah Jum’at.
Pergeseran tiba-tiba posisi kementerian diikuti dengan isu mengeluarkan izin khotbah kepada 400 kepemimpinan Salafi adalah angka yang dianggap ekstrimis, refleksi yang jelas dari kondisi kebingungan yang berlaku di Mesir saat ini. (wb/muqawamah.com)
The post Perangi Ekstremis, Thaghut Mesir Putuskan akan Tutup 27.000 Masjid appeared first on Muqawamah.com.
0 Response to "Perangi Ekstremis, Thaghut Mesir Putuskan akan Tutup 27.000 Masjid"
Post a Comment