Oleh: Hartono Ahmad Jaiz dan Hatede. CELAKANYA, ketika hari-hari itu kemudian dikaitkan dengan perdukunan dan keyakinan-keyakinan batil, maka di situlah celakanya, karena kesesatannya lebih mengakar dan sulit diubah. Misalnya setiap Jum’at Kliwon, kuburan Anu di Surabaya didatangi berbondong-bondong orang dari mana-mana. Tahu-tahu ada da’i yang jauh-jauh dari Timur Tengah mau berdakwah di Masjid al-Akbar Surabaya beberapa tahun yang lalu, jamaahnya tidak banyak. Ketika ditanya-tanyakan kenapa bisa begitu?
The post Tahun Baru Hijriyah dan Tradisi Suro (Muharram) (3) appeared first on Islampos.
0 Response to "Tahun Baru Hijriyah dan Tradisi Suro (Muharram) (3)"
Post a Comment