Ideologi Jihad Diponegoro (4/5): Kafir Asli dan Kafir Murtad

KIBLAT.NET – Dalam pandangan Diponegoro dan pasukannya, perang yang mereka lakukan melawan Belanda dan sekutunya adalah sebuah jihad. Jihad dalam arti berperang melawan kaum kafir.


Diponegoro menggunakan Al-Qur’an sebagai dasar ideologi untuk berjihad. Sebagian besar kata Al-Qur’an dalam Babad Diponegoro menunjukkan makna Al-Qur’an sebagai landasan dalam berjihad. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas jihad dalam artian perang melawan orang kafir, Diponegoro meminta kepada penasihat utamanya, yaitu Kyai Keweron dan Kyai Mojo, untuk menjabarkan dan menafsirkan ayat-ayat tersebut. Hal ini karena Diponegoro secara pribadi mengaku tidak mengetahui seluruh isi Al-Qur’an dan takut apabila salah dalam menafsirkannya.[1]


Secara umum, Babad Diponegoro tidak menunjukkan dengan terperinci ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dasar dalam jihad. Diponegoro hanya mengungkapkan bahwa perjuangan yang dilakukannya didasarkan atas menjalankan perintah untuk menjalankan ayat qital dalam Al-Qur’an.


Ngantepi Islamnya sama


Nglampahi parentah dalil


Ing Quran pan ayat Katal


Namung sing Rabulngalamin


Ing akerat punika


Tetepa ingkang sinuwun


Semua orang memegang teguh Islam


Menjalankan perintah dalil


Ayat Qital dalam Al-Qur’an


Hanya kasih Rabbul’alamin


Di akhirat lah


Yang tetap dimohon


Adapun sasaran dari jihad Diponegoro adalah dua kelompok, yaitu orang-orang kafir dan murtad. Yang dimaksud kafir adalah orang Belanda yang notabene adalah non-Muslim dan telah melakukan penyerangan dan penjajahan terhadap umat Islam. Sedangkan kata murtad ditujukan kepada orang-orang Muslim Indonesia yang membantu Belanda dalam memerangi Diponegoro dan pasukannya serta melakukan kegiatan penindasan kepada rakyat.


Dalam babad Diponegoro terdapat kurang lebih 96 kata kafir dan 70 kata murtad yang konteksnya adalah musuh orang-orang Islam dalam peperangan. Di antaranya diungkapkan dalam tembang pangkur (XII) berikut ini:


Budhal saking sela Mirah


Sampun prapta ing sawetning Pragi


Mesanggrahan senjati


Mangsah nulya prapta


Kapir lan murtad apan langkung


kathahipun


Dhateng ira mara tiga


Nanging datan den tangledi[2]


Berangkat dari Selamira


Sampailah di sebelah timur Pragi


Dan kemudian singgah di Senjati


Kemudian musuh datang


Kafir dan murtad dengan jumlah yang banyak


Datang dengan dibagi tiga


Tetapi tidak dihiraukan


Hal itu menunjukkan bahwa Diponegoro telah memiliki konsep takfir yang jelas, yakni kafir asli dan kafir murtad. Musuh dan sasaran jihad terdiri dari dua unsur tersebut.


Secara kronologis, istilah kafir dan murtad ini digunakan setelah penyerbuan pasukan Belanda dan Yogyakarta ke Tegalrejo. Sebelum peristiwa tersebut, istilah kafir tidak digunakan meskipun pasukan Inggris dan Sepoy pernah melakukan penyerbuan ke wilayah keraton Yogyakarta. Istilah kafir dan murtad ini muncul ketika ideologi jihad telah dirumuskan oleh Diponegoro bersama dengan ulama-ulama yang mendampinginya.


Pemberian label kafir dan murtad serta Islam sangat diperlukan untuk membedakan siapa pembela agama dan siapa musuh agama. Diponegoro membuat peraturan bahwa yang menjadi pasukannya harus beragama Islam dan menunjukkan perilaku dan atribut Islam. Pasukan Diponegoro yang berasal dari keturunan Tionghoa yang turut bagian dalam melawan Belanda, diwajibkan untuk masuk Islam serta diharuskan memotong rambut kuncir yang menunjukkan identitas orang Cina.[3] Sebagai gantinya, pasukan Diponegoro menggunakan atribut bercorak keislaman, yakni surban.


Ideologi anti kafir dan murtad yang keras di kalangan pasukan Diponegoro tercermin dalam penggunaan bahasa, khususnya yang berkaitan dengan kematian pasukan musuh. Dalam babad, Diponegoro tidak segan-segan menyebut musuh yang mati di medan perang dengan nama bangke (bangkai) yang biasanya digunakan untuk hewan.[4]


Di samping itu, penggunaan kata sabil maupun sabilillah dianggap lebih mudah pengucapannya dalam bahasa Jawa daripada kata jihad fi sabilillah. Pengucapan istilah-istilah asing dalam bahasa Jawa sering kali disingkat dengan cara mengambil kata yang paling belakang atau menggandengkan dua kata tersebut dan diucapkan sesuai dengan lidah orang Jawa. Hal ini juga dilakukan oleh Diponegoro dalam penulisan Babadnya. Sebagai contoh, Gerad Baron Nahuys (nama Residen Yogyakarta tahun 1816 – 1822) cukup ditulis dengan Nahuys, John Crawfurd diucapkan dengan Karepet, Abu Bakar dilafalkan Bubakar, Abdurrahim menjadi durahim, serta Ali Pasya menjadi Libasah atau basah.


Penggunaan kata sabil dan sabilillah juga erat kaitannya dengan struktur penulisan Babad Diponegoro yang menggunakan macapat. Seperti telah diketahui bahwa penulisan macapat mempunyai aturan yang ketat terutama berkaitan dengan jumlah suku kata (guru wilangan) dan rima (guru lagu). Penggunaan kata jihad fie sabilillah yang mempunyai suku kata yang panjang dan agak sulit diucapkan orang Jawa, dirasakan sangat menyulitkan dalam penyusunan macapat yang mempunyai aturan suku kata dan rima. Oleh karena itu, kata sabil dan sabilillah digunakan sebagai kependekan dari kata Jihad fie sabilillah.


Di dalam Babad Diponegoro terdapat kurang lebih 59 kata sabil dan sabilillah yang mempunyai pengertian berperang melawan orang kafir. Antara lain dalam tembang Girisan (X) berikut:


Mas Lurah aris katanya


“Bok ayo sabil kewala


Iki Jumungah dinanya


Mapan hiwih aprayoga”


Jeng Sultan kendel skala


Mangkana osiking drinya


“Wus bener Mas Lurah Kie


Nging sun tan rinilan suksma,


Sadina iki sirna


Pan aja kongsi kadawa”


Kanjeng Sultan angandika


Mring Pangeran Dipanagara


Heh Kulup prajurit Kie


Saanane tuturana


Yen sun arsa sabil iya”


Kanjeng Sultan apan biya…!


Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:


Mas Lurah dengan bijaksana berkata


“Ayo kita sabil saja


Hari ini hari Jumat


Hari baik untuk berperang


Sultan (Abdul Hamid) berhenti sejenak


Dalam batinnya berkata


“Benar perkataan Mas Lurah


Jiwa saya rela


Hari ini juga


Jangan sampai tertunda


Sultan kemudian berkata


Kepada Pangeran Diponegoro III (putra Diponegoro)


Wahai ananda, prajurit


Yang ada hendaknya diberitahu


Kalau saya hendak berperang


Sultan karena saran ini


Kata sabil yang digunakan dalam tembang di atas bermakna berperang melawan kafir (Belanda). Kalimat “Bok ayo sabil kewala” mempunyai pengertian mari kita berperang dengan orang kafir saja dan tidak perlu mundur.


Selain itu, pasukan yang meninggal dalam jihad disebut dengan meninggal dalam sabil (prapta sabil/sabilullah). Diponegoro menggunakan kata sahid untuk orang-orang Islam dari kalangan masyarakat sipil yang menjadi korban perang. Penggunaan kata sahid ini merupakan pemberian penghargaan Diponegoro yang besar kepada umat Islam yang tidak terlibat langsung dalam peperangan. Bantuan umat Islam sangat besar bagi keberlangsungan perjuangan Diponegoro yang mempergunakan sistem gerilya.


Dapat disimpulkan bahwa pandangan dunia Diponegoro mencakup suatu pendapat yang sangat jelas hingga hari ini mengenai bagaimana orang-orang Muslim Jawa seharusnya hidup dalam zaman dominasi imperium Barat.


Bagi Diponegoro, tidak seperti kebanyakan orang Muslim Indonesia dewasa ini, jawaban atas ini semua rupanya terletak pada menjalankan perang suci dan pengembangan karakter yang jelas tegas antara wong Islam (orang Islam), orang Eropa kapir laknatullah (kafir yang dilaknat oleh Allah), dan kapir murtad (orang Jawa yang memihak Belanda). [Bersambung]


Penulis: Diolah ulang oleh Agus Abdullah dari laporan Syamina Edisi XII / JUNI 2014


——————


[1] Ambaristi dan lasman marduwiyota, babad diponegoro i, hal. 479


[2] Ambaristi dan lasman marduwiyota, babad diponegoro i, hal.325


[3] lihat Benny g. Santoso, Tionghoa Dalam Pusaran Politik, hal. 177 serta hembing wijayakusuma, pembantaian massal 1740: tragedi berdarah angke (jakarta: pustaka populer obor, 2005), hal. 177.


[4] Ambaristi dan lasman marduwiyota, babad diponegoro ii, hal.218.


The post Ideologi Jihad Diponegoro (4/5): Kafir Asli dan Kafir Murtad appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ideologi Jihad Diponegoro (4/5): Kafir Asli dan Kafir Murtad"

Post a Comment