Selama ini santan selalu dianggap kambing hitam atas tingginya kadar kolesterol dalam tubuh. Padahal, masyarakat Indonesia sulit sekali menghindari produk kelapa ini dalam diet sehari-hari. Hal ini membuat resah benyak masyarakat, tapi benarkah santan ini jahat untuk tubuh?
Santan mengandung asam laurat yaitu asam lemak jenuh. Selama ini asam lemak jenuh selalu dikaitkan dnegan penyakit-penyakit kardivaskular seperti jantung koroner. Selain itu asam lemak jenuh juga dianggap sebagai salah satu zat yang memicu naiknya kadar koleterol dalam darah. Hal yang perlu dicermati adalah, asam laurat dalam santan merupakan asam lemak rantai menengah. Ini artinya asam laurat masih bisa dicerna oleh tubuh dan tidak disimpan dalam bentuk lipid oleh tubuh.
Santan juga mempunyai beberapa manfaat, antara lain:
Membuat kulit dan pembuluh darah tetap fleksibel dan elastic. Santan banyak mengandung tembaga, di mana mineral ini sangat penting bagi sebagian besar fungsi tubuh. Tembaga dan vitamin C mempertahankan fleksibilitas serta elastisitas kulit dan pembuluh darah.
Mempertahankan kadar gula darah. Intoleransi glukosa adalah istilah untuk kadar glukosa darah yang lebih tinggi dari level normal, namun tak begitu tinggi hingga memicu diabetes. Hal ini menyebabkan kekurangan mangan dalam tubuh. Santan termasuk bahan makanan yang kaya akan mangan.
Membantu mencegah anemia. Kekurangan zat besi membuat tubuh tak dapat menghasilkan hemoglobin yang cukup untuk menjaga kadar oksigen dalam sel darah merah, sehingga menyebabkan anemia. Setiap cup (240 gram) santan mengandung hampir seperempat dari kebutuhan zat besi harian.
Membangun tulang yang kuat. Fosfor merupakan nutrisi esensial yang dibutuhkan tubuh untuk memperkuat tulang. Paduan fosfor dan kalsium dapat mencegah tulang keropos. Santan tinggi kandungan fosfornya.
0 Response to "Benarkah Santan itu Jahat?"
Post a Comment