Syaikh Ibnu Taimiyah Rahimahullah adalah salah satu ulama yang intens membicarakan tentang kelompok bid’ah, membantah hujjah mereka serta menulis berbagai macam bentuk bid’ah yang mereka lakukan.
Tulisan ini tidak bermaksud mencantumkan seluruh perkataan beliau seputar Khawarij, namun hanya menukil beberapa pendapat beliau yang ada kemiripannya dengan apa yang terjadi sekarang ini. Sehingga kita bisa memahami hakikat mereka dan dapat menghindari pemikiran mereka.
Tuduhan Khawarij bisa saja disematkan kepada pihak atau organisasi tertentu. Namun, dari ciri-ciri yang ditunjukkan oleh Syaikhul Islam di bawah ini, hendaknya dapat dipahami siapakah Khawarij sebenarnya.
1. Mengafirkan setiap orang yang menyelisihi manhaj mereka
Ibnu Taimiyah berkata, “Ketika ummat berpecah belah pasa masa khalifah Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, muncullah setan Khawarij yang memisahkan diri, mereka keluar dari jamaah kaum muslimin serta mengafirkan Ali dan Muawiyah beserta para pengikut keduanya…” (Majmu’ Fatawa, 19/89)
Beliau juga berkata, “Khawarij adalah kelompok yang menta’wilkan ayat Al-Qur’an sesuai dengan keyakinannya, dan menganggap orang yang menyelisihi ta’wil tersebut dihukumi kafir karena dianggap telah menyelisih Al-Qur’an. Maka barangsiapa yang menyatakan tentang sesuatu yang tidak ada dasarnya dari al-Qur’an serta menganggap yang menyelisih takwil tersebut kafir, maka perkataan tersebut lebih buruk daripada perkataan Khawarij.” (Majmu’ Fatawa, 20/164)
Di antara sifat Khawarij adalah mengafirkan orang yang menyelisihi mereka, dengan asumsi bahwa setiap yang menyelisihi mereka sama seperti yang menyelisihi Al-Qur’an. Dan perhatikan perkataan orang yang mengatakan sesuatu atau mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur’an, kemudian mereka mengafirkan setiap orang yang menyelisihi pendapatnya, tentu hal ini lebih buruk daripada Khawarij.
Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa di antara bentuk ahlu bid’ah adalah mereka menciptakan bid’ah berupa perkataan kemudian mereka menjadikannya sebagai kewajiban dalam beragama bahkan sampai kepada taraf iman yang harus diyakini dan mengafirkan setiap orang yang menyelisihi mereka dan menghalalkan darahnya. Seperti yang dilakukan oleh orang Khawarij, Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah dan yang lain-lain.” (Majmu’ Fatawa, 19/212)
2. Mengafirkan setiap muslim yang tidak mau mengafirkan orang yang telah mereka kafirkan (sesuai sangkaan mereka)
Ibnu Taimiyah berkata, “Khawarij adalah kelompok yang pertama kali mengafirkan kaum muslimin karena perbuatan dosa. Mereka juga mengafirkan setiap orang yang menyelisihi pendapat mereka dalam perkara bid’ah yang mereka buat, menghalalkan darah dan kemormatannya. Demikianlah keadaan pelaku bid’ah, menciptakan bid’ah kemudian mengafirkan setiap orang yang menyelisihinya. Sementara ahlus sunnah selalu berpedoman kepada Al-Qur’an dan sunnah, menaati Allah dan Rasul-Nya, serta selalu mencari kebenaran dan menyayangi sesama makhluk.” (Majmu’ Fatawa, 3/279)
“Mereka adalah kelompok yang pertama kali mengafirkan kaum muslimin karena perbuatan dosa atau bahkan karena sesuatu yang dipandang dosa menurut mereka, kemudian mereka menghalalkan darah kaum muslimin karena vonis tersebut. Keadaan mereka persis seperti yang disifati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘mereka gemar memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah patung’.” (Majmu’ Fatawa, 7/ 481)
“Bid’ah kelompok Khawarij muncul karena buruknya pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an, mereka menyimpulkan bukan sebagaimana yang dikehendaki oleh Al-Qur’an, namun mereka menafsirkannya dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an, kemudian mereka menyangka bahwa wajib mengafirkan para pelaku dosa besar.” (Majmu’ Fatawa, 13/30, 19/73, 16/96)
3. Menghalalkan darah kaum muslimin
Ketika menjelaskan hadits shahih ‘Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah patung, seandainya aku mendapati mereka maka akan akan membunuh mereka sebagaimana pembunuhan kaum ‘Ad’, maka Ibnu Taimiyah berkata, “Ini adalah sifat terhadap orang Khawarij dan kelompok yang semisal dengan mereka seperti Rafidhah dan lainnya. Mereka lebih banyak membunuh kaum muslimin karena dianggap murtad daripada orang kafir asli (bukan karena murtad). Karena orang murtad lebih buruk di sisi mereka dibandingkan dengan yang lainnya.”
“Mereka mengafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah serta harta kaum muslimin, menganggap negara Islam sebagai negara perang sementara negara mereka dianggap sebagai negara iman (Islam).” (Majmu’ Fatawa, 19/73)
“Mereka mengafirkan orang yang menyelisihi pendapat mereka dalam perkara bid’ah yang mereka buat dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin.” (Majmu’ Fatawa 3/279)
4. Mengharuskan manusia untuk melakukan bid’ah serta mengafirkan setiap orang yang menyelisihinya
Ibnu Taimiyah berkata, “…Oleh karena itu di antara syi’ar pelaku bid’ah, menciptakan suatu perkataan atau perbuatan, kemudian mereka mengharuskan manusia untuk melakukannya dan membenci orang yang menyelisihinya, berwala’ atas dasar tersebut dan memusuhi orang yang menyelisihinya, sebagimana yang dilakukan oleh Khawarij atas pendapat mereka, mereka mewajibkan manusia untuk mengamalkannya dan menerapkan konsep wala’ wal bara’ atas dasar pendapat tersebut.”
5. Menyesatkan jumhur kaum muslimin
Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Dasar kesesatan mereka adalah keyakinan mereka dalam memandang penguasa muslim—yang mendapat petunjuk—dan jama’ah kaum muslimin, mereka keluar dari keadilan dan sesat (dari jalan yang lurus). Seperti inilah cara mereka keluar dari sunnah sebagaimana Rafidhah dan lainnya.
Kemudian sesuatu yang dipandang oleh kaum muslimin sebagai bentuk kezaliman, mereka menganggapnya sebagai kekufuran. Selanjutnya mereka menghukumi perbuatan kafir itu sesuai dengan apa yang telah mereka ciptakan. Dan inilah tiga tingkatan kelompok Khawarij (maariqin) dibandingkan dengan Haruriah, Rafidhah atau kelompok sesat lainnya. Setiap tingkatan mereka pasti meninggalkan salah satu prinsip (ushul) agama Islam hingga mereka meninggalkan seluruhnya sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya. Dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan orang penyembah berhala (Musyrik). Seandainya saya mendapati mereka, maka akan saya bunuh sebagaimana pembunuhan kaum ‘Ad.” Inilah sifat kelompok-kelompok yang keluar dari jamaah sebagaimana Rafidhah dan kelompok-kelompok lainnya. Mereka lebih banyak membunuh orang muslim yang dianggap murtad dari pada membunuh orang kafir yang bukan murtad (kafir asli), karena murtad lebih keji daripada kafir lainnya.” (Majmu Fatawa, 28/479)
Penyusun: Fahrudin, diinspirasi dari tulisan Syaikh Abu Hasan Al-Kuwaiti yang berjudul “Khawarij ‘inda Ibni Taimiyah”
Editor: Rudy
The post Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (1/5): Sifat-sifat Khawarij appeared first on Kiblat.net.
0 Response to "Khawarij menurut Syaikh Ibnu Taimiyah (1/5): Sifat-sifat Khawarij"
Post a Comment