Sekelumit Kisah Dan Hikmah Dari Imam Abu Ubaid Al-Qasim Bin Salam RA

Oleh : Zaini. A. Sabily


Beliau adalah al-Qasim bin Salam bin Miskin bin Zaid al-Azdi, seorang ulama’ besar yang lahir di masa akhir pemerintahan khalifah al-Manshur dan hidup di masa 6 khalifah Abbasiyah berturut-turut setelah al-Manshur (al-Mahdi, al-Hadi, ar-Rasyid, al-Amin, al-Ma’mun dan al-Mu’tasim).


Menurut salah satu sumber beliau lahir tahun 157 H.(7 tahun lebih muda dari imam Syafii dan 7 tahun lebih tua dari imam Ahmad bin Hanbal ra-huma). Terlahir dari seorang ayah bangsa Romawi yg bernama Salam, seorang pekerja tukang angkut barang di salah satu kota di wilayah Khurasan. Setelah mengetahui bahwa anaknya adalah anak yg cerdas, ia kemudian mengantarkan al-Qasim kepada para ulama’ yg di hidup pada zamannya utk belajar ilmu pengetahuan. Hingga akhirnya menjadikan al-Qasim menguasai berbagai bidang ilmu setelah sebelumnya mengembara menuntut ilmu ke berbagai negeri yg dikenal sbg pusat ilmu pengetahuan di masanya. Ia datang ke Kufah, Basrah hingga Baghdad. Menyelesaikan studinya mengenai ilmu Nahwu, Tarikh, Qiro’at, Hadits dan Fiqih pada sejumlah ulama’ tersohor, tercatat setidaknya ada 34 guru yang pernah beliau timba ilmunya dari mereka. Dari sekian banyak bidang ilmu yang beliau geluti, yang paling menonjol adalah dalam bidang ilmu Hadits, hingga suatu ketika imam Ahmad-yang juga seorang ulama’ ahli Hadits- menggambarkan Abu Ubaid dg sebuah ungkapan:”Dia adalah seorang guru! Setiap harinya, dia bertambah baik pada pandangan kami”.


Penghormatan imam Ahmad pada Abu Ubaid bisa kita lihat dalam sebuah riwayat sbb: Ketika Abu Ubaid datang mengunjungi imam Ahmad bin Hanbal, maka imam Ahmad menyambutnya sambil memeluknya. Kemudian imam Ahmad mempersilakan Abu Ubaid utk duduk di tempat yang terdepan. Sehingga Abu Ubaid kemudian bertanya kepadanya, “wahai Abu Abdullah, bukankah pernah dikatakan bahwa tuan rumah atau shohibul majelis adalah orang yang paling berhak duduk di bagian depan rumahnya atau majelisnya?” Imam Ahmad menjawab, “Ya, ia boleh duduk dan terserah kepadanya utk mempersilakan duduk orang yang dikehendakinya!”.


Imam Ahmad tetap berkeinginan agar Abu Ubaid tetap duduk dalam majelis ilmunya yg berada di rumah imam Ahmad, layaknya seorang pemimpin yg duduk di atas singgasana. Sehingga apabila Abu Ubaid meminta izin pulang, maka imam Ahmad keluar utk mengantarnya dan mengucapkan selamat tinggal. Sampai-sampai Abu Ubaid berkata, “jangan engkau lakukan ini, wahai Abu Abdullah!”. Akan tetapi, imam Ahmad menjawab dg perkataan yang pernah ditegaskan oleh asy-Sya’bi, “Diantara kesempurnaan sopan santun dengan tamu adalah ia berjalan dan mengantarkannya hingga pintu rumah dan mengambilkan tunggangan kendaraannya.”


Demikianlah al-Farra’ ash-Shaghir menghikayatkan dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah mengenai hubungan baik imam Ahmad dan Abu Ubaid al-Qasim bin Salam.


Beliau adalah ulama’ yang tsiqoh sekaligus mengamalkan ilmunya. Abu Dawud Sulaiman ibnul Ash’ats (202 – 275 H.) memberi komentar, “Ia orang yang tsiqoh lagi terpercaya”. Ad-Daruquthni (306 – 385 H.) mengatakan, “ia seorang tsiqoh, imam dan bagaikan gunung”.


Abu Ubaid juga termasuk ulama’ yang sangat produktif, saking produktifnya beliau mampu mengarang karya ilmiyah sebanyak 34 kitab (sebanyak jumlah gurunya). Diantara karya yang monumental adalah kitab al-Amwaal dan Gharib al-Hadits. Mengenai kitab al-Amwaal, al-Hafidz ibnu Hajar al-Asqalani (773 – 825 H.) pernah memberi komentar:”Kitab Abu Ubaid dalam masalah keuangan dan perekonomian merupakan karya yang terbaik dan tdk ternilai dalam bidang ilmu fiqih”.[at-Tahdzib, juz 7 hal.31]


PELAJARAN BERHARGA

Beliau pernah menjadi Qodhi di kota Tharsus selama 18 tahun (antara 192 – 210 H.), saat dimana Tsabit bin Nashr bin Malik al-Khuza’i menjabat Wali di kota tersebut. Kemudian beliau memutuskan utk pindah ke kota Baghdad setelah meninggalkan Tharsus dan dibawah jaminan Abdullah bin Thahir ibnu al-Husain bin Mush’ab al-Khuza’i, seorang panglima terkemuka di masa pemerintahan al-Ma’mun dari bani Abbasiyah. Dimana beliau diberikan gaji setiap bulannya sebanyak 10.000 dirham.


Ada sebuah kisah yang patut diambil pelajaran dari seorang ulama’ yang mampu bersikap yang layak diteladani saat mengunjungi seorang penguasa atau pejabat negara.


Pada suatu hari, Abu Dalaf al-Qasim bin Isa al-‘Ajali (226 H.) mengirim surat kepada Abdullah bin Thahir, meminta kepadanya agar Abu Ubaid menetap di sisinya selama 2 bulan. Ia ingin mendengarkan keilmuannya dan berkeinginan belajar padanya, meski sebenarnya Abu Dalaf termasuk pejabat tinggi negara yg juga memahami ilmu Balaghah. Setelah menunaikan tugasnya dan hendak pamitan pulang, maka Abu Dalaf ingin memberikan hadiah kepadanya sebesar 30.000 dirham. Akan tetapi ditolak oleh Abu Ubaid, seraya berkata:”sesungguhnya aku berada di sisi orang yang selalu menutupi keperluanku, sehingga aku tidak memerlukan lagi bantuan orang lain dan aku tidak akan mengambil hadiah ini selama tidak terjadi kekurangan pada diriku”.


Sikap mulia inipun sampai ke telinga Abdullah bin Thahir, sehingga ia berhasrat mengganti hadiah senilai dg yang diberikan oleh Abu Dalaf (30.000 dirham). Abu Ubaid pun tak bisa menolaknya, ia mengatakan:”wahai pangeran, saya terima hadiah ini, akan tetapi kebaikanmu telah memperkaya diriku. Saya berkeinginan membeli senjata dan kuda dg uang ini, saya akan membawanya ke perbatasan negara, agar pahalanya tetap mengalir buat Anda.”


Subhanallah, inilah sikap wara’ sekaligus zuhud yang layak diteladani dari seorang imam Abu Ubaid. Ia menerima hadiah tersebut lebih karena sopan santun, sebab setelah itu ia tdk memanfaatkan pemberian cuma2 tersebut utk dirinya, namun ia menginginkan agar pahalanya mengalir buat pemberinya setelah dibelikan kuda dan senjata untuk Jihad fii Sabilillah.


Oleh karena itu, tidak berlebihan ketika Abu Ubaid meninggal dunia, orang yang sangat kehilangan adlah Ibnu Thahir, ia menangisi kewafatannya dg bersenandung syair,


“Wahai penuntut ilmu, telah wafat Ibnu Salam

Ia seorang pejuang ilmu yang tak tertandingi.

Telah wafat ulama keempat diantaramu

Tidak ada seorangpun yang sama dalam sanad.

Tinta umat, Abdullah (ibn ‘Abbas) di urutan pertama kedua ‘Amir (asy-Sya’bi). Alangkah indahnya tahun itu.

Keduanya telah mengungguli lainnya al-Qasim bin Mu’in dan al-Qasim bin Salam.


Meski Abu Qasim hidup bersamaan dengan awal berkembangnya dua madzhab fiqih. Baik Syafi’iyah maupun Hanabilah, akan tetapi beliau bukanlah pengikut salah satu dari kedua madzhab tersebut. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh pengarang kitab Da’irah al-Ma’arif al-Islamiyyah. Dikatakan, “bahwa di dalam pemikiran ilmu Nahwu, Qiro’at, Hadits dan Fiqih, beliau tidak mengikuti madzhab atau golongan tertentu. Bahkan beliau memilih methode netral dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan. Bukan suatu keajaiban, sebab para ulama’ pada masanya telah mengakui keilmuannya”.


::diringkas dari biografi Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam terjemahan kitab al-Amwaal. [Ensikloedia Keuangan Publik, GIP, 2009]::


Catatan:

Setelah membaca salah satu karya klasik monumental al-imam Abu Ubaid yang membahas tentang harta dan seluk-beluknya, yaitu al-Amwaal. Kemudian membandingkan dg kitab Nidzom al-Iqtishodi fil Islam karya besar ulama’ Muta’akhirin abad 20 al-alim al-allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani-Rahimahullahu Ta’ala- ternyata banyak hadits2 yang ada di kitab al-Amwaal banyak dikutip oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Hanya saja kelebihannya, beliau menjelaskan sesuai dengan konteks keKhilafahan di era modern. Dan inilah yang menjadikan kitab ini layak dikatakan “Nafiisah” di saat tidak ada pembandingnya.


Wallahu a’lam bi ash-Showab. []


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sekelumit Kisah Dan Hikmah Dari Imam Abu Ubaid Al-Qasim Bin Salam RA"

Post a Comment