Siapakah Murji’ah? (2/4): Golongan-golongan Murji’ah dan Tokohnya

Kelompok Murji’ah berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah, karena bersifat netral dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah. Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun Murji’ah mulai merambah permasalahan iman. Gagasan Irja’ yang digadangi oleh Al-Hasan mulai menyimpang dari ranah politik ke dalam masalah iman. Hingga muncul para tokoh-tokoh Murji’ah dengan beberapa pemikiran “nyeleneh”-nya seperti:


Satu: Golongan al-Jahmiyah yang dipelopori oleh Jahm Ibn Sofwan. Berpendapat bahwa iman adalah mempercayai Allah SWT, rasul-rasul-Nya, dan segala sesuatu yang datang dari Allah SWT. Sebaliknya, kafir adalah tidak mempercayai hal-hal tersebut di atas.


Apabila seseorang sudah mempercayai Allah SWT, rasul-rasul-Nya, dan segala sesuatu yang datang dari Allah SWT, berarti ia mukmin meskipun ia menyatakan dalam perbuatannya hal-hal yang bertentangan dengan imannya, seperti berbuat dosa besar, menyembah berhala, dan minum minuman keras. Golongan ini juga meyakini bahwa surga dan neraka itu tidak abadi, karena keabadian hanya bagi Allah SWT semata.


Dua: Golongan al-Salihiyah dengan tokohnya Abu Hasan as-Sahili. Sama dengan pendapat al-Jahmiyah, golongan ini berkeyakinan bahwa iman adalah semata-mata makrifat (mengetahui) Allah SWT, sedangkan kufur (kafir) adalah sebaliknya yakni tidak mengetahui Allah SWT. Iman dan kufur itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Menurut mereka, shalat itu tidak merupakan ibadah kepada Allah, karena yang disebut ibadah itu adalah beriman kepada Allah dalam arti mengetahui Allah.


Tiga: Golongan Yunusiah pengikut Yunus bin An-Namiri. Berpendapat bahwa iman adalah totalitas dari pengetahuan tentang Allah, kerendahan hati, dan tidak takabur. Kufur adalah kebalikan dari itu. Iblis dikatakan kafir bukan karena tidak percaya kepada Allah, melainkan karena ketaburannya. Mereka juga percaya bahwa perbuatan jahat dan maksiat sama sekali tidak merusak iman.


Empat: Golongan Al-Ubaidiyah dipelopori oleh Ubaid al-Maktaib. Pendapatnya pada dasarnya sama dengan golongan al-Yunusiah. Sekte ini berpendapat bahwa jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan beriman, semua dosa dan perbuatan jahatnya tidak akan merugikannya. Perbuatan jahat, banyak atau sedikit tidak merusak iman. Sebaliknya, perbuatan baik, banyak atau sedikit tidak akan memperbaiki posisi orang kafir.


Lima: Golongan al-Gailaniyah dipelopori oleh Gailan al-Dimasyqi. Berpendapat bahwa iman adalah makrifat (mengetahui) kepada Allah SWT melalui nalar dan menunjukkan sikap mahabbah (cinta) dan tunduk kepada-Nya.


Enam: Golongan al-Saubaniyah dipimpin oleh Abu Sauban. Prinsip ajarannya sama dengan sekte al-Gailaniyah, namun mereka menambahkan bahwa yang termasuk iman adalah mengetahui dan mengakui sesuatu yang menurut akal wajib dikerjakan. Dengan demikian, sekte ini mengakui adanya kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syari’at.


Tujuh: Golongan al-Marisiyah dipelopori oleh Bisyar al-Marisi. Berpendapat bahwa iman di samping meyakini dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW itu rasul-nya, juga harus diucapkan secara lisan. Jika tidak diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan, maka bukan iman namanya. Sementara itu, kufur merupakan kebalikan dari iman.


Delapan: Golongan al-Karamiyah dipelopori oleh Muhammad Ibn Karram. Berpendapat bahwa iman adalah pengakuan secara lisan dan kufur adalah pengingkaran secara lisan. Mukmin dan kafirnya seseorang dapat diketahui melalui pengakuannya secara lisan.


Sembilan: Golongan al-Khassaniyah. Berpendapat jika seseorang mengatakan, “Saya tahu bahwa Allah melarang makan babi, tetapi saya tak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini”, orang yang demikian tetap mukmin dan bukan kafir. Jika seseorang mengatakan, “Saya tahu Allah mewajibkan naik haji ke Ka’bah tetapi saya tak tahu apakah Ka’bah di India atau di tempat lain”, orang demikian juga tetap mukmin.


Beginilah awal mula perkembangan paham Irja’ yang awal mulanya dipelopori Al-Hasan sebagai solusi politik dan berakhir dengan munculnya paham yang sesat.


Penulis: Dhani el_Ashim


Sumber: Majalah Kiblat “Pemerintah Sekuler Bukan Ulil Amri”


The post Siapakah Murji’ah? (2/4): Golongan-golongan Murji’ah dan Tokohnya appeared first on Kiblat.net.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Siapakah Murji’ah? (2/4): Golongan-golongan Murji’ah dan Tokohnya"

Post a Comment