Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur’an yang artinya: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” [TQS. Al-Baqarah (2) : 45]
Lalu, siapakah orang-orang yang khusyuk itu? Di ayat selanjutnya disebutkan bahwa “Orang-orang yang khusyuk adalah mereka yang meyakini akan pertemuan dengan Tuhannya dan mereka yakin akan kembali kepada-Nya.” [TQS. Al-Baqarah (2) : 46]
Allah Swt berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mereka dapat meraih kebaikan dunia dan akhirat yang mereka dambakan, yaitu menjadikan sabar dan shalat sebagai sarananya.
Umar ibnul Khaththab ra mengatakan bahwa sabar itu ada dua macam, yaitu: (1) Sabar disaat mendapatkan musibah – hal ini adalah baik; dan (2) Sabar terhadap hal-hal yang diharamkan Allah Swt – hal ini adalah lebih baik.
Dan shalat merupakan amalan pemerteguh diri dalam melakukan suatu perkara dan wasilah pertolongan Allah yang besar. Allah Swt berfirman: “. . . Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaan-keutamaannya daripada ibadah-ibadah yang lain).” [TQS. Al-Ankabut (29) : 45]
Shahabat Ali bin Abi Thalib ra pernah menceritakan perihal Perang Badar, “Sesungguhnya aku di malam Perang Badar melihat kami semua (pasukan kaum muslim) tiada seorang pun melainkan tertidur kecuali Rasulullah Saw yang selalu shalat dan berdo’a hingga subuh.”
Subhanallah, banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dari ayat di atas bahwasanya memang mengingat Allah (shalat) adalah amalan yang berat untuk meraih pertolongan Allah. Mengingat Allah bukan hanya sekadar pada saat mengerjakan shalat secara substansialnya saja. Akan tetapi, mengingat Allah, keterikatan dengan hukum Allah, dan senantiasa merasa diawasi Allah idealnya adalah diimplementasikan dalam setiap lini kehidupan, dalam setiap perbuatan, dan dalam setiap hembusan nafas.
Shalatnya menggunakan aturan Allah, puasanya juga menggunakan aturan Allah, zakat, haji pun demikian. Tetapi, kenapa dalam pemerintahan tidak digunakan aturan Allah, ekonominya pakai sistem ribawi, sosialnya, pergaulannya, pendidikannya, rumah tangganya, dan aspek-aspek kehidupan yang lainnya pakai aturan siapa?
Oleh karenanya, wajar jika sabar dan shalat begitu sulit, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (mereka yang meyakini akan pertemuan dengan Tuhannya dan mereka yakin akan kembali kepada-Nya serta setiap perbuatannya ada pertanggungjawabannya kelak). [www.dakwahmedia.com]
Sumber: Tafsir Ibnu Katsir Halaman 458-468
0 Response to "SABAR DAN SHALAT SEBAGAI WASILAH DATANGNYA PERTOLONGAN ALLAH"
Post a Comment